Artikel Terbaru

Anda Belum Tahu Kan Sejarah Imam Projo? Anda bisa Kaget Baca Kisahnya..

di lahan parkir STF Driyarkara, Rawasari.
Anda Belum Tahu Kan Sejarah Imam Projo? Anda bisa Kaget Baca Kisahnya..
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Menurut aneka sumber, terutama buku 400 Jaren Missie in Netherlandsch-Indië (400 Tahun Misi di Hindia Belanda,1934), lahirnya Gereja Katolik di Nusantara dimulai dengan pembaptisan orang Moro di desa Mamuya (Halmahera Utara) oleh seorang imam praja dari Goa, RD Simon Vaz, tahun 1534. Mereka telah disiapkan oleh seorang pedagang, Gonsalves Veloso. Jemaat berkembang hingga 3.000 jiwa. Namun kemudian terjadi penyerbuan oleh kesultanan Ternate dan Jailolo. Jemaat ditindas dan dipaksa murtad. Dalam keadaan ini RD Simon dibunuh sebagai martir pertama Gereja Nusantara, tahun 1535, sebelas tahun sebelum kedatangan St Fransiskus Xaverius di Ambon (1546).

Setelah kekalahan Portugis oleh Belanda pada awal abad XVII, bendera VOC–Perusahaan Dagang Hindia Belanda–berkibar di perairan Nusantara. Di bawah kekuasaan penguasa baru yang beragama Protestan-Kalvinis ini, orang Katolik ditindas sekali lagi. Ini berlangsung nyaris dua abad.

Perubahan terjadi mengikuti empat peristiwa penting pada abad XIX. Pertama, pengaruh Revolusi Perancis (1789) yang idenya “kebebasan, persamaan, dan persaudaraan” masuk dalam UU Kerajaan Belanda tahun 1796 tentang kebebasan beribadat. Kedua, bubarnya VOC (1800) dan pengambilalihan wilayah Hindia Belanda oleh Kerajaan Belanda. Ketiga, pentakhtaan Raja Lodewijk (sepupu Napoleon, penguasa Perancis) sebagai Raja Belanda, yang jelas mendukung cita-cita Revolusi Perancis tadi. Keempat, ketetapan Gubernur Hindia Belanda, bahwa kebebasan beragama dijamin di seluruh wilayah kekuasaannya.

Dengan latar belakang ini, jalan pun terbuka bagi Gereja Katolik untuk melakukan misi resmi ke Nusantara. Pada 1807, dua imam praja diutus ke Hindia Belanda, yakni Mgr Jacobus Nelissen (diangkat menjadi Prefek Apostolik Batavia: 8 Mei 1807) dan asistennya, RD Lambertus Prinsen. Tahun ini merupakan tahun lahirnya Prefektur Apostolik Batavia yang wilayahnya saat itu seluas Indonesia sekarang!

Mgr Nelissen dan RD Prinsen meninggalkan Belanda, 31 Oktober 1807, dan tiba di Batavia, 4 April 1808. Pada Minggu, 10 April 1808, mereka mempersembahkan Misa untuk pertama kali bersama dengan umat Katolik, kebanyakan tentara dan bekas pegawai VOC. Dengan demikian, babak baru hadirnya kembali misi Katolik dimulai. Dalam perkembangan selanjutnya, imam-imam diosesan dari Belanda berdatangan menggarap kebun anggur Tuhan di Kepulauan Nusantara.

Salah seorang imam praja yang terkenal adalah RD Henricus van der Grinten. Ia mendirikan Yayasan Vincentius tahun 1856 di Batavia dengan panti-panti asuhan, yang berada di Kramat Raya, Jatinegara, dan Lenteng Agung (Desa Putera). RD Henricus meninggal tahun 1864. Umat yang mencintainya mendirikan patung dirinya, dengan diorama karya kerasulannya di situ.

Selain misionaris Belanda, ada dua misionaris praja dari Perancis yang berkarya di Pulau Nias, yakni R. Jean-Pierre Vallon dan R. Jean-Laurent Berard. Mereka berkarya dengan sukses di kalangan pribumi (1832), meski tak mendapat dukungan sama sekali dari Pemerintah Belanda. Namun tahun 1834, mereka meninggal akibat malaria, atau konon diracun.

Meski kebebasan beragama dijamin, gerak para misionaris bukan tanpa batas.
Pasalnya, untuk bekerja di daerah kolonial ini, pemerintah mewajibkan adanya yang disebut radikaal. Ini dokumen resmi yang menyatakan bahwa si pemilik dapat memegang suatu jabatan dalam dinas sipil sekaligus mendapatkan hak menjadi pastor. Mereka digaji oleh Pemerintah Belanda, maka menjadi semacam pegawai negeri. Semula hubungan antara Gereja dan pemerintah berjalan bagus. Tapi kemudian radikaal ini ternyata membawa masalah.

Friksi antara pemerintah dan Gereja mulai terasa saat Mgr Scholten menjadi
Prefek Apostolik III. Misalnya, larangan bagi orang Katolik menjadi anggota freemasonry, yakni kelompok eksklusif yang diakui pemerintah, dan terdiri dari pemikir bebas yang memuja sains dan ideologi materialistik dengan menolak realitas rohani. Lalu, kejengkelan Uskup pada intervensi pemerintah yang terlalu besar dalam urusan internal Gereja. Karena begitu besarnya campur tangan pemerintah, Mgr Scholten pergi mengadu ke Belanda dan Roma untuk mengusahakan peraturan baru tentang wewenang Gereja dan negara. Namun entah mengapa, beliau ternyata tidak kembali lagi ke Batavia. Seorang imam di Batavia, RD Cartenstat diangkat menjadi penjabat Wakil Prefek.

Menyusul pengaduan Mgr Scholten itu, Vatikan dan Raja Willem II (1840—1849) mengadakan persetujuan baru dimana wilayah Hindia-Belanda menjadi wilayah hukum yang dikhususkan. Pada 20 September 1842, Prefektur Apostolik Batavia diangkat menjadi Vikariat Apostolik, status terakhir sebelum suatu daerah dijadikan sebuah keuskupan yang mandiri sepenuhnya. Pada saat yang sama pula, diangkat seorang Vikaris Apostolik I, Mgr Jacobus Grooff.

Tahun 1845, sang Vikaris baru ini tiba di Batavia bersama dengan empat imam baru. Mgr Grooff terkenal sebagai Uskup yang tertib, berprinsip, dan tegas. Sikap ini membuatnya sering berbenturan dengan pemerintah dan para imam yang telah lebih dulu berkarya. Namun, masalah yang mengakibatkan konflik keras dan lalu berakibat pada babak baru untuk karya misi di Hindia Belanda adalah, bahwa Mgr Grooff mengangkat beberapa imam baru untuk mengisi kekosongan wilayah, tanpa memberitahu pemerintah.

Tindakan yang secara kanonik ini memang sah, menjadi perkara besar karena Jan Rochussen, Gubernur Jenderal baru (1845-1851) mengatakan bahwa pengangkatan imam-imam merupakan hak pemerintah lewat pemberian radikaal kepada mereka. Mgr Grooff menolak hal tersebut dengan argumen bahwa seorang Vikaris Apostolik hanya bertanggung jawab terhadap Takhta Suci, bukan kepada pemerintah. Akibatnya, pada awal Februari 1846, beliau dan empat imam sebelumnya yang tidak memiliki radikaal juga, diusir dari Hindia Belanda.

Akibat “Perkara Grooff” yang memuat penolakan intervensi pemerintah dalam urusan Gereja ini, di Belanda terjadi pembicaraan tingkat tinggi antara Raja Belanda, Vatikan, dan Menteri Urusan Koloni. Hasilnya, dokumen Nota der Punten (Nota mengenai Beberapa Pokok, 1847). Isi dokumen itu antara lain, hanya Vikaris Apostolik boleh mengangkat dan memindahkan para imam. Lalu tidak ada lagi syarat dari pemerintah Belanda bahwa yang datang ke Indonesia haruslah imam-imam praja.

Pasca 1847, seluruh Hindia Belanda mengalami kekosongan pelayanan imam. Baru pada 4 Juni 1847, Mgr Petrus Maria Vrancken diangkat menjadi Vikaris Apostolik II. Beliau amat berjasa bagi perkembangan misi di Indonesia, dan terkenal akan gagasannya untuk pendirian seminari: “Saya punya sebuah rencana untuk mendirikan suatu lembaga pendidikan berskala kecil bagi pemuda Tionghoa dan kaum pribumi lain… bisa ditahbiskan menjadi imam. Sebab jika tidak demikian, saya melihat bahwa segala karya lain tidak akan berhasil. Kita harus memiliki imam dari kalangan pribumi.”

Di tengah masa kolonial, tatkala Gereja Katolik baru ditoleransi, pemikiran ini sangat visioner dan mendahului zamannya. Sebab beliau sudah bicara tentang perlunya imam diosesan seperti dirinya, dari kalangan Tionghoa dan pribumi lagi! Namun, gagasan ini belum bisa terwujud lantaran kurangnya dana dan personalia. Agar lebih banyak imam terlibat dalam misi di Nusantara, Mgr Vrancken mengundang aneka tarekat religius. Maka berdatanganlah aneka ordo ke sini, bermula dari para suster Ursulin (1856), Serikat Yesus (1859), lalu disusul oleh aneka tarekat lainnya.

Tahun 1874, Mgr Vrancken mengundurkan diri karena kesehatannya. Beliau diganti Mgr Adamus Claessens, sebagai Vikaris Apostolik III. Dalam sejarah, Mgr Claessens adalah Uskup Batavia pertama yang menulis Surat Gembala dalam dua bahasa, yakni bahasa Belanda dan Mandarin (1882). Setelah berkarya selama 45 tahun dan kelelahan sebagai misionaris, beliau mengundurkan diri (1893) dan tinggal di pastoran Bogor hingga wafatnya (1895), ditemani oleh keponakannya sendiri, RD Dominicus Claessens. Sang keponakan inilah imam diosesan terakhir yang datang dari Belanda ke Batavia, hingga wafat pada 1934.

Masa perintisan imam praja Belanda pun berakhir. Kini para tarekat religius
mengisi lembaran kisah misi berikutnya.

RD Simon Petrus L. Tjahjadi

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*