Artikel Terbaru

Benarkah Penerimaan Komuni Harus di Lidah?

[homefaith.wordpress.com]
Benarkah Penerimaan Komuni Harus di Lidah?
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Benarkah Gereja sekarang lebih menganjurkan penerimaan komuni langsung di lidah, bukan di tangan karena penerimaan di lidah mengungkapkan rasa hormat yang lebih kepada kehadiran nyata Yesus Kristus dalam Sakramen Ekaristi? Apakah tidak lebih higienis penerimaan komuni di tangan?

Suzana Maria Ambarwati, Yogyakarta

Pertama, penghormatan kepada Yesus Kristus yang hadir secara nyata dalam Sakramen Mahakudus atau komuni suci adalah sebuah sikap batin yang mengalir dari keyakinan seseorang. Sikap batin ini bisa diungkapkan dengan berbagai sikap lahiriah, baik penerimaan komuni di lidah maupun di tangan, baik berdiri maupun berlutut. Tidak ada sikap lahiriah tertentu yang bisa secara mutlak dan pasti mencerminkan atau lebih mengungkapkan sikap batin penghormatan itu.

Sikap hormat yang sungguh kepada kehadiran Yesus Kristus dalam Sakramen Mahakudus tentu akan dan harus nampak dalam sikap lahiriah, tetapi tidak harus terkait de ngan bagian badan tertentu dari manusia dan tidak mutlak terungkap dalam sikap berdiri, berlutut, atau duduk. Kepercayaan bahwa Yesus Kristus hadir secara nyata dalam rupa Sakramen Mahakudus sebenarnya diungkapkan dengan jawaban “Amin” ketika imam atau petugas pembagi komuni mengatakan “Tubuh Kristus”. Ketegasan dan kejelasan jawaban “Amin” bisa mencerminkan kepercayaan ini.

Kedua, yang membuat manusia tidak pantas menerima Tuhan yang hadir dalam Sakramen Mahakudus adalah dosa. Bisa jadi dosa itu terjadi melalui sarana bagian-bagian tubuh manusia, misal mencuri terkait dengan tangan, berdusta terkait dengan lidah, dana yang lain. Meskipun demikian, kita harus menyadari bahwa dosa manusia, sebagai dosa meresapi dan menyangkut seluruh diri manusia, bukan hanya bagian yang terlibat secara langsung dalam tindakan dosa itu. Maka, tidak bisa dikatakan bahwa lidah lebih suci daripada tangan. Dosa-dosa yang terjadi melalui penggunaan lidah mungkin lebih banyak daripada dosa-dosa yang menggunakan tangan.

Ketiga, Gereja tidak membatasi cara penerimaan komuni tetapi memberikan kebebasan untuk menerima dengan lidah atau dengan tangan (PUMR no. 161). Dalam dokumen Redemptionis Sacramentum, Gereja mengajarkan: “Ketika menyambut Komuni, umat hendaknya berlutut atau berdiri, sesuai dengan apa yang ditetapkan oleh Konferensi Uskup” (RS No. 90). Dokumen yang sama menegaskan bahwa siapapun yang hendak menyambut Komuni dengan salah satu sikap itu, sambil berlutut atau sambil berdiri, tidak boleh dihalangi (RS no. 91-92). Gereja hanya mohon perhatian, “Akan tetapi harus diperhatikan baik-baik agar hosti dimakan oleh si penerima pada saat masih berada di hadapan petugas komuni” (RS no. 92) untuk menghindari bahaya profanasi (pelecehan barang suci).

Mengapa Hari Raya Kabar Su kacita jatuh pada 25 Maret atau pada masa Pra paskah? Mengapa bukan pada masa-masa Adven di mana kita mempersiapkan kelahiran Yesus?

Michelline, Jakarta

Hari Raya Kabar Sukacita merayakan saat malaikat Gabriel mewartakan Kabar Sukacita kepada Maria, seorang gadis dari Nazaret. Saat pewartaan itu juga adalah saat penjelmaan Sang Sabda Allah menjadi manusia dalam rahim Bunda Maria, karena sesudah Maria menjawab dengan penuh iman, “Sesungguhnya, aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” (Luk 1:38) maka Sang Sabda masuk ke dalam rahim Maria dan menjadi manusia (bdk. Lumen Gentium Art. 56). Hari Raya Kabar Sukacita ini dirayakan sembilan bulan sebelum Hari Raya Kelahiran Yesus. Jarak waktu sembilan bulan menunjukkan saat kehamilan Maria. Untuk tetap menunjukkan jangka waktu sembilan bulan itu, Gereja mempertahankan Hari Raya Kabar Sukacita pada 25 Maret meskipun seringkali jatuh pada masa Prapaskah. Hal yang sama berlaku untuk Hari Raya Maria Dikandung tanpa Noda pada tanggal 8 Desember, yang jaraknya sembilan bulan dari saat kelahiran Maria, yaitu 8 September.

Petrus Maria Handoko CM

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*