Artikel Terbaru

Harapan Bagi Penderita Ginjal Akut, Sebuah Kesaksian Harus Cuci Darah di Usia Muda

Benedictus Widi Handoyo.
[NN/Dok.Pribadi]
Harapan Bagi Penderita Ginjal Akut, Sebuah Kesaksian Harus Cuci Darah di Usia Muda
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Usianya masih terbilang muda. Namun, ia sudah divonis gagal ginjal tahap akhir. Dua kali dalam sepekan ia “laundry darah”. Tuhan punya rencana lewat hidup dan perjuangannya.

Benedictus Widi Handoyo mengalami demam hebat, Agustus 2012. Diagnosa dokter menyatakan, kedua ginjalnya rusak akibat infeksi pembuluh darah. Istilah medis untuk penyakit itu adalah glomerolusnefritis. Kerusakan ginjal Widi sudah sampai tahap akhir (end stage renal disease). Mau tak mau, ia harus cuci darah dua kali dalam seminggu.

Gering itu mengubur impiannya mengembangkan karier di Jakarta. Alumnus Jurusan Ilmu Komputer Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Gadjah Mada Yogyakarta ini terpaksa kembali ke Yogyakarta. Ia menjalani pengobatan dan mendirikan usaha perangkat lunak, serta membuat laman dan membangun jaringan komputer di sekolah atau perkantoran.

Vonis dokter serta cuci darah saban pekan mulai membuat ia gusar. Ia geram kepada Tuhan yang menghadiahkan sakit baginya. Doa-doa yang ia panjatkan terasa hambar. Jika hati telah terisi dengan angkara murka, yang terpancar adalah kebencian. Rasa itulah yang membuat ia menjauh dari Gereja, dan mendekatkan diri kepada ajaran Siddhartha Gautama.

Belajar Meditasi
Buku-buku ajaran Buddha, perlahan-lahan dilahap oleh sulung dari dua bersaudara ini. Pada sela cuci darah, ia juga berlatih meditasi ala Buddhis. Widi mantap ingin menjadi pengikut ajaran Buddha. Suatu ketika, ia mendatangi seorang bante. Ia mengutarakan keinginannya. Sayang, niatnya tak segera terwujud.

Kata bante, seperti yang dikutip Widi, menginginkan agar dirinya tetap mempertahankan imannya. Pemuka agama Buddha itu juga menganjurkan Widi agar lebih memperdalam iman Katolik. “Seandainya belum menemukan-Nya, kamu baru bisa menganut Buddha,” kata sang bante, seperti disampaikan Widi.

Pergumulan saat itu sungguh pelik, kata pria kelahiran Yogyakarta, 11 Juli 1986. Tuhan seperti meninggalkannya. Krisis iman itu membuat ia sering melamun, dan tak bersemangat memikirkan masa depan. Widi pun merasa tak ada lagi semangat dan asa untuk meneruskan perjalanan hidup.

Lebih dari setahun, Widi mencoba datang kembali ke gereja. Boleh jadi, ini berkat saran dari bante setahun silam. Hati dan spiritnya telah beku, setelah setahun lebih mangkir dari kebiasaan sebagai penganut Katolik. Ia mencoba mengulang lagi kebiasaan lama yang sempat absen.

Saat mendaraskan doa Bapa Kami, terutama pada frasa “… Jadilah kehendak-Mu di atas bumi seperti di dalam surga…”, hatinya tiba-tiba nelangsa. Sontak, air matanya jatuh di kedua pipinya. “Apakah semua kesakitan, penderitaan, cuci darah saat ini kehendak-Nya? Apakah saya harus merasakan penderitaan seperti ini?” tanyanya.

Pertanyaan itu acap menggema dalam sanubarinya. Menjelang Natal 2013, Widi memberanikan diri mengaku dosa. Setelah itu, ia kembali rutin mengikuti Misa harian dan mingguan di Gereja St Antonius Kotabaru, Yogyakarta. Widi juga bergabung dengan kelompok Magis, komunitas anak muda yang mendalami spiritualitas pendiri Jesuit, St Ignatius dari Loyola.

Berkali-kali ia datang ke gereja, sesering itu juga ia menangis sesenggukan ketika memandang salib yang tercagak di belakang altar. “Akankah penderitaan yang saya alami seberat Engkau, Tuhan? Inikah salibku?” gumamnya.

Pergumulan batin itu justru membuat Widi sungguh merasakan kehadiran Tuhan. “Tuhan, hadirlah saat ini. Temani saya. Saya lelah, genggamlah tangan saya. Saya butuh tangan kasih-Mu,” kenang buah hati Ignatius Subadi dan Maria Caecilia Sri Handayani ini.

Titik Balik
Pengalaman itu menjadi titik balik Widi. Ia yang dulu nyaris menyeberang, kembali mantap dengan imannya. Ia juga bisa berdamai dengan penyakit yang menderanya. Bagi Widi, gering yang dialami menjadi sarana untuk terlibat dalam penderitaan Yesus. Tuhan, katanya, punya rencana untuk semua yang dialaminya. Mungkin, lanjut Widi, lewat hidupnya, Tuhan ingin menyatakan kemuliaan-Nya. “Saya pasrah total.”

Biaya cuci darah sangat besar, apalagi proses itu ia lakukan sebanyak dua kali dalam sepekan, Senin dan Kamis. Namun Widi bersyukur, Tuhan menolong tepat pada waktu-Nya. Pernah suatu ketika, ia kehabisan uang. Sementara pada masa itu belum ada Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan. Widi menangis dan hampir pupus harapan.

Tak dinyana, jelang waktu cuci darah, Widi menerima uang dari beberapa donatur. Jumlah sumbangan yang ia dapat pas dengan biaya “laundry” darah dan obat-obatan penunjang. Sejak ada BPJS, Widi tak terlalu khawatir lagi dengan biaya cuci darah. Meskipun, ia masih harus membayar obat, cek laboratorium, dan suplemen. Beberapa koleganya juga masih rutin mengulurkan tangan kepadanya. Sedangkan, pendapatannya sebagai web designer, cukup untuk menambal kebutuhan sehari-hari.

Berkaca dari pengalaman hidupnya, ia berpesan, bersyukurlah dengan segala yang ada. Jangan selalu berpikir yang kita miliki selalu kurang, tapi bersyukurlah dengan yang kita miliki. Bersyukurlah kita memiliki keluarga dan teman yang masih memberikan bantuan, memiliki organ tubuh lengkap, dan sebagainya.

Jika menghadapi masalah dalam hidup, lanjutnya, berpalinglah kepada Tuhan. Berdialoglah dengan Dia. Ingatlah, selalu minta kekuatan-Nya agar sanggup menghadapi tantangan, dan sabar menanggung penderitaan. “Dia Mahakuasa. Dia tahu yang kita butuhkan, bahkan sebelum kita meminta,” ujarnya.

Misi Hidup
Di mata Widi, Tuhan punya maksud dalam segala peristiwa. Tuhan menghendakinya terus berjuang menaklukkan jalan terjal sebagai penderita ginjal. Ia yakin, Tuhan bakal memberikan jalan terindah baginya kelak.

Jika Tuhan masih memberikan kesempatan ia bernapas hingga kini, berarti masih ada misi hidup yang harus diembannya, salah satunya mewartakan kemuliaan Tuhan lewat perjuangan hidup. “Cuci darah sepanjang hidup adalah berkat. Saya bisa mengalami perjuangan untuk memuliakan-Nya. Dia punya beragam cara agar saya kembali kepada-Nya.”

Ivonne Suryanto

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*