Artikel Terbaru

Misionaris yang Berani Ini Darahnya Menyuburkan Gereja Vietnam

St Jean-Théophane Vénard MEP dikurung dalam sangkar bambu di Vietnam.
[saintsdefrancecanalblog.com]
Misionaris yang Berani Ini Darahnya Menyuburkan Gereja Vietnam
3 (60%) 3 votes

HIDUPKATOLIK.com – Sejak belia, tekadnya menjadi imam misionaris selalu membuncah. Akhirnya, ia pun dapat bermisi ke Tiongkok dan Vietnam. Ia wafat sebagai martir dan darahnya seolah menjadi pupuk subur bagi iman Gereja Vietnam.

Satu per satu keluarga memeluk dan menciumnya. Théophane sadar, ini pelukan dan ciuman terakhir sebelum ia menjadi imam Société des Missions Étrangères de Paris (MEP). Kendati sedih, cinta kepada Yesus membangkitkan semangatnya untuk menjadi imam MEP. “Anakku terkasih, terimalah berkat dari ayahmu. Aku ikhlas merelakanmu untuk Tuhan. Ketika tiba waktunya bermisi, kami tahu bahwa kami tak akan melihatmu lagi. Izinkan kami menciummu untuk terakhir kali,” pinta sang ayah.

Kata-kata sang ayah menjadi kekuatan bagi Pater Théophane dalam menjalani misi di Vietnam. Ia menjadi martir di Vietnam pada masa Kaisar Tự Đức (1829-1883), kaisar keempat dari Dinasti Nguyễn yang menolak ajaran Kristen. Pater Théophane wafat dengan cara dipenggal kepalanya. Seolah darahnya menjadi pupuk bagi misi Katolik di Vietnam.

Tekad Bermisi
Théophane Vénard lahir di Saint-Loupsur- Thouet, Keuskupan Poitiers (kini: Keuskupan Agung Poitiers), Perancis, 21 November 1829. Ia dibaptis pada hari yang sama dengan nama Jean, yang berarti ‘manifestasi Tuhan’. Anak kedua keluarga Vénard ini punya tiga saudara, yaitu Mélanie, Henri, dan Eusèbe. Sejak kecil, mereka sudah diajari kesalehan hidup oleh orangtuanya. Kelak dua adiknya menjadi imam, bahkan salah satunya menjadi Uskup Poitiers, Mgr Henri Pelgé (1837-1911). Mereka menjadi misdinar dan anggota kor di parokinya. Suatu saat, ia berkata kepada ibunya, “Saya iri melihat imam ketika memimpin Misa. Saya ingin menggantikan mereka.”

Tak hanya kesalehan hidupnya, Théophane menjadi kebanggaan orangtua karena dikenal rajin. Ia tekun saat bertugas menggembalakan ternak keluarga. Kadangkala sambil menunggu ternak, Théophane membaca kisah para misionaris, The Propagation of the Faith Review. Ia mulai tertarik dengan kisah hidup Pater Jean-Charles Cornay MEP (1809-1837), yang dipenggal kepalanya oleh masyarakat Tonkin (kini: Vietnam). Kisah itu membuat Théophane semakin ingin menjadi misionaris. Kisah Pater Cornay juga mendorongnya untuk segera menjadi imam.

Ia menjalani pendidikan di Doué, SaintLoup, tahun 1841. Di sekolah, banyak rekannya iri atas kepandaian anak desa ini. “Aku telah membuat resolusi. Aku mulai memperbaiki jalan hidupku,” tulisnya kepada Mélanie, kakak perempuannya. Di Doué, Théophane menerima Komuni Pertama pada 28 April 1842. Kekuatan iman terus memberinya harapan.

Dari Doué, Théophane melanjutkan ke Seminari Menengah di Montmorillon, Poitiers, tahun 1847. Ia menulis surat kepada keluarganya, “Kalian akan senang ketika tahu bahwa satu konfrater kami akan bermisi ke luar negeri. Semoga Tuhan dan Pater Cornay melindungi.” Mélanie sepertinya sangat mengetahui keinginan adiknya. Tapi sang ayah tidak yakin akan keinginan putranya. “Jika kamu yakin Tuhan memanggilmu, ayah tak akan menahanmu. Jangan takut, apalagi sampai berpikir bahwa ayah akan sedih,” demikian janji sang ayah.

Misi Tiongkok
Pada 27 Februari 1851, saat makan malam bersama, Théophane diminta bercerita tentang cita-citanya. “Saya mau menjadi imam MEP,” katanya. Mendengar hal itu, sang ayah terperangah dan tak percaya. Tapi ia terlanjur berjanji untuk buah hatinya. Dengan menahan air mata, ia berkata, “Anakku, ketika tiba waktunya bermisi, kami tahu bahwa kami tidak akan melihatmu lagi. Izinkan kami menciummu untuk terakhir kali.” Keesokan harinya, Théophane masuk Seminari Tinggi MEP.

Formasinya di seminari berbuah manis. Ia ditahbiskan imam pada usia 22 tahun, 5 Juni 1851. Dua bulan sebelum di tahbiskan, ia mengabari keluarganya bahwa Misa Perdananya akan digelar di Gereja Our Lady of Victories, Paris. Sayang, tak satupun keluarga hadir dalam Misa ini. Mereka bersikukuh bahwa Pater Théophane sudah milik Tuhan. Tiga bulan menjadi imam di Paris, ia mendapat tugas menjadi misionaris ke negeri Tiongkok. “Oh, aku tahu, Tiongkok adalah jalan terpendek bagiku untuk pergi ke surga,” tulisnya.

Setelah enam bulan berlayar, Pater Théophane tiba di Tiongkok pada 19 Maret 1853. Meski budaya, bahasa, dan penerimaan masyarakat Tiongkok agak berbeda, imam muda ini selalu merasa ceria. Setidaknya impian masa kecilnya tercapai. Kehadirannya meringankan tugas para seniornya dengan menyelamatkan jiwa-jiwa yang belum belum mengenal Kristus.

Baru tiga di bulan di Tiongkok, sebuah surat tugas baru tiba di mejanya. Isi surat itu, ia diutus bermisi ke Tonkin. Tugas ini tak membuatnya takut. Ia justru merasa bahagia karena dirinya dapat segera bertemu Pater Cornay, Martir Tonkin. “Aku siap merebut ‘Tanah Anamnese’ walau kepalaku taruhannya,” ujarnya kepada seorang rekan.

Pada 26 Mei 1854, Pater Théophane bertolak ke Tonkin. Ia disambut Vikaris Apostolik Tonkin Barat (kini: Keuskupan Agung HàNội), Mgr Pierre André Retord MEP (1803-1858). Ia lalu diantar ke daerah VinhTri, pusat vikariat. Ia mendapat tugas menjadi misionaris gerilyawan dari desa ke desa untuk mewartakan Injil. Ia berhasil memperkenalkan Kristus di tengah masyarakat Tonkin.

Politik Nguyễn
Misi di Tonkin sempat berhenti karena kebijakan Kaisar Tự Đức (Nguyễn Phúc Hồng Nhậm atau Nguyễn Phúc Thi). Sang kaisar mengeluarkan aturan yang terkenal dengan nama “Politik Nguyễn”. Putra Kaisar Thiệu Trị (Nguyễn Phúc Miên Tông, 18071847) ini menolak semua ajaran yang kebarat-baratan di Vietnam. Peraturan itu dimulai dengan pengusiran para misionaris dan penghancuran perkampungan yang dianggap tempat singgah mereka.

Pater Théophane tak terpengaruh sedikitpun dengan situasi itu. Belum setahun di sana, ia sudah dihadapkan pada situasi “Politik Nguyễn” yang menyulitkan. Ia tak ambil pusing dengan ancaman sang kaisar. Mentalitas tahan banting menjadi semangat imam muda ini. Ia menyukai suasana pedesaan, masyarakat, makanan, dan segala sesuatu yang berbau Vietnam. Ia tak peduli meski kadang harus menahan lapar dan makanan lokal tak cocok dengan perutnya.

Ketika ancaman menghampiri, Pater Théophane sedang berkhotbah di hadapan warga desa. Ia mengunjungi dan melayani sakramen, sekaligus mengobati umat yang sakit. Saban hari, ia setia mendengar pengakuan dan keluh kesah umat. Musim hujan 1856, ia terjangkiti tuberkulosis (TBC). Ia menolak diobati, kecuali dengan ramuan herbal Tiongkok.Sakitnya sempat mereda sehingga ia pun terus melayani.

Sementara itu, Kaisar Tự Đức naik pitam mendengar kabar tentang keberhasilan misi Pater Théophane. Ia lalu menetapkan hadiah kepada siapapun yang mau menyerahkan Pater Théophane dan misionaris lainnya. Kala itu, Pater Théophane berada di sekitar VinhTri. Awalnya, ia tidak mencurigai setiap warga yang dengan setia mendengarkan khotbahnya. Pada 30 November 1860, ia ditangkap tentara Tự Đức atas laporan pengikutnya sendiri.

Pater Théophane lalu dijebloskan ke penjara. Di dalam bui, ia terus mengajarkan doa St LouisMarie Grignion de Montfort (1673-1716) kepada para tahanan. Dari penjara, ia dipindahkan ke Benteng Hanoi, lalu dikerangkeng dalam sangkar bambu dengan besi terikat di lehernya. Saat di penjara, ia sempat menulis kepada keluarganya, “Jika aku mendapatkan rahmat kemartiran, aku akan mengingat kalian secara khusus. Mari kita bertemu di surga.”

Eksekusi atas dirinya pun ditetapkan. Kepala imam muda ini lalu menjadi taruhan. Lima kali ayunan pedang memaksa kepalanya terlepas dari tubuh. Sesaat sebelum wafat, ia dipaksa menginjak Salib Kristus, tapi ia menolak. Kidung Magnificat dengan pujian dari buku Brevir menjadi lagu terakhir yang mengiringi perjalanannya ke surga.

Hingga kini, jazadnya berada di ruang bawah tanah biara MEP di Paris. Atas kemartirannya itu, Pater Théophane di beatifikasi bersama 33 martir asal Tonkin oleh Bapa Suci Pius X (18351914) di Roma pada 2 Mei 1909. Bapa Suci Yohanes Paulus II (1920-2005) menganugerahkan mahkota kekudusan dengan kanonisasi pada 19 Juni 1988, bersama 19 martir Vietnam. St Jean Théophane Vénard dikenang tiap 6 November.

Yusti H. Wuarmanuk

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*