Artikel Terbaru

Siswa Cerdas, Guru Hebat

Sejumlah siswa SMP Sang Timur Tomang ujian praktik di laboratorium IPA-Fisika.
[HIDUP/Yanuari Marwanto]
Siswa Cerdas, Guru Hebat
4.2 (84.62%) 13 votes

HIDUPKATOLIK.com – Dalam tiga tahun belakangan, SMP Sang Timur tak kekurangan siswa. Sekolah ini menjadi sarana mengasah kemampuan akademis, keterampilan, budaya, dan iman.

Beberapa siswa SMP Sang Timur Tomang, Jakarta Barat berkumpul di depan ruang guru. Dengan mengenakan seragam olah raga, mereka melebur menjadi dua kelompok. Kelompok pertama diisi anak laki-laki. Sedangkan kelompok kedua diisi anak perempuan. Dua kelompok itu melakukan aktifitas berbeda. Kelompok siswa melakukan lompat jauh, sementara para siswi senam lantai.

Pemandangan berbeda ketika berada di laboratorium biologi. Di ruangan yang berada di lantai dasar itu ada sekitar 20 siswa. Mereka mengenakan jas
laboratorium (lab coat). Di sana mereka melakukan beragam aktifitas, antara lain mengukur massa jenis zat padat, mencampur senyawa kimia, serta menentukan besar tegangan dan arus listrik sebuah rangkaian.

Sementara di lantai tiga, di laboratorium bahasa, sejumlah siswa mengenakan pakaian adat dari berbagai daerah. Mereka satu persatu tampil di depan dan menceritakan sebuah legenda Nusantara dalam bahasa Inggris di hadapan guru dan teman-temannya. “Anak-anak kelas IX sedang ujian praktik,” ungkap Kepala Sekolah SMP Sang Timur, Sr Maria Melania PIJ, di ruang kerjanya, pertengahan April lalu.

Berdisiplin
Sasaran lembaga pendidikan menengah yang dikelola tarekat Sang Timur (Pauperis Infantis Jesu/PIJ) ini, menurut Sr Melania, selain memperdalam iman dan mengasah kemampuan akademis serta keterampilan anak, juga membentuk pribadi siswa yang berbudaya dan berdisiplin. “Kami ingin anak-anak mencintai budaya Indonesia,” harap biarawati asal Prambanan, Jawa Tengah ini.

Langkah yang diterapkan sekolah untuk itu melalui ekstrakurikuler keterampilan seni budaya dan prakarya, seperti membuat hiasan janur, batik, sablon, dan teater. Kegiatan itu berlangsung tiap Kamis, sejak jam pelajaran pertama hingga terakhir.

SMP Sang Timur juga memupuk budaya kemanusiaan kepada para peserta didik dengan melibatkan siswa dalam bakti sosial pengobatan massal untuk warga sekitar sekolah, serta membentuk Palang Merah Remaja (PMR). Tim PMR tak hanya memperhatikan kesehatan warga SMP Sang Timur, tapi juga kebersihan lingkungan sekitar. “Dalam sepekan, ada tiga dokter yang rutin datang ke sekolah,” ujarnya.

Sementara untuk melatih kedisiplinan, SMP Sang Timur Tomang menerapkan pola pedagogi berupa penghargaan dan hukuman (reward and punishment) kepada seluruh siswa. Penilaian kedisiplinan antara lain mencakup datang ke sekolah tepat waktu, rampung mengerjakan tugas, kelengkapan buku dan peralatan belajar, serta komplit mengenakan seragam dan atributnya.

Agar kualitas kedisiplinan terukur, sekolah memberi poin tiap tindakan kepada masing-masing peserta didik. Poin-poin itu akan diakumulasi tiap semester, kemudian diintegrasi ke dalam buku khusus bernama reward point dan nilai sikap di laporan pendidikan (raport) para siswa. Siswa dengan point reward terbesar mendapat piala dan piagam dari sekolah. Penghargaan itu diberikan kepada satu siswa tiap kelas.

Meski demikian, sejak tiga tahun lalu menjadi orang nomor satu di SMP Sang Timur, Sr Melania mengungkapkan bahwa tantangan yang mereka hadapi beberapa tahun belakangan ini adalah pendampingan anak. Arus teknologi informasi yang begitu masif, punya andil besar mempengaruhi pola pikir siswa. Selain itu, orangtua peserta didik yang bekerja, ikut mempengaruhi afeksi anak-anak. “Hal ini terlihat ketika mereka berada di kelas VIII, perlu pendampingan khusus.”

Sr Melania angkat topi dengan peran guru bimbingan konseling dan para tenaga pengajar di sekolahnya. Selain mengajar, mereka juga menjadi sasaran orang tua siswa, yang ingin mengetahui perilaku serta aktifitas belajar buah hati mereka. “Kadang ada juga orangtua yang tengah malam menelpon atau chat lewat WhatsApp.”

Salah satu “intan” yang masih tertanam di sekolahnya, kata Sr Melania, pendekatan kasih. Ia dan para guru membuka pintu kepada orangtua yang ingin berkonsultasi langsung soal anak. Baru-baru ini, katanya, ada guru yang bela-belain datang ke rumah siswa karena tak mau ikut ujian. “Coba di sekolah lain, masih ada yang mau seperti itu?” tanyanya retoris.

Bantuan Ali Sadikin
SMP Sang Timur Tomang berdiri 40 tahun lalu, tepatnya 6 Januari 1977. Kepala sekolah pertama adalah Sr Regina PIJ. Gedung perdana yang mereka pakai untuk kegiatan belajar-mengajar merupakan bantuan Gubernur DKI Jakarta saat itu, Ali Sadikin. Berkat kebaikan Bang Ali, 41 siswa –angkatan pertama– Sang Timur Tomang bisa merasakan suasana gedung sekolah. Saat pembukaan tahun pelajaran, Uskup Agung Jakarta Mgr Leo Soekoto SJ (1920-1995) juga hadir.

Pendidikan untuk anak-anak merupakan salah satu fokus pastoral tarekat suster yang lahir pada tahun 1844 di Königs trasse, Jerman. Revolusi industri yang terjadi pada Abad XVIII, membuat hidup dan pendidikan anak-anak di Jerman terlantar. Sebab, orangtua mereka nyaris tak ada waktu untuk memperhatikan apalagi mendidik putra-putri mereka. Bayangkan, para orangtua bekerja di pabrik rata-rata 16 jam setiap hari.

Tak heran, banyak anak Jerman terpuruk di jalanan. Tingkat kejahatan para bocah juga tinggi di sana. Kondisi inilah yang membuat sejumlah orang, diantaranya Clara Fey, berjuang untuk menyelamatkan masa depan anak-anak Jerman. Clara bersama kawan-kawannya mengumpulkan anak-anak; memandikan dan memberi pakaian; serta mengajari mereka menulis, membaca, berhitung, dan pelajaran agama.

Atas inisiatif Romo Andreas Fey, berdiri sekolah untuk anak-anak prasejahtera perdana pada 3 Februari 1837, di Venn, Jerman. Clara bersama teman-temannya berusaha menampung dan melayani anak-anak prasejahtera sebanyak mungkin. Dengan catatan, tiap menambah satu hingga dua anak, Clara dan rekan-rekannya harus giat membuat kaos kaki, pakaian, dan perlengkapan bayi.

Demi merawat totalitas perhatian dan pelayanan kepada anak-anak, Romo Andreas didesak rekannya, Romo Laurent untuk mendirikan tarekat suster. Romo Andreas mencari sebuah rumah agar Clara dan teman-temannya bisa hidup bersama, bertumbuh dalam iman, dan berkembang dalam pelayanan.

Pada 2 Februari 1844, di Königstrasse, Jerman, Clara bersama dua temannya memulai hidup religius. Meski waktu terus berputar, fokus perhatian para pengikut Sr Clara Fey takkan berubah yakni, pendidikan bagi anak-anak.

Tarekat PIJ masuk ke Indonesia pada 29 Mei 1932. Enam misionaris pionir adalah Sr Andrea Ludwiga PIJ, Sr Stanislaus Maria PIJ, Sr Fransisca Josepha PIJ, Sr Catharina Maria PIJ, Sr Anna Reineria PIJ, dan Sr Reiniera Maria PIJ. Dari Belanda mereka menumpang kapal Christian Huygens, kemudian sandar di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Berkat bimbingan Roh Kudus, semangat karya anggota tarekat, dan bantuan banyak pihak, misi PIJ terus berkembang. Saat ini ada sekitar 24 biara PIJ yang tersebar di Jawa Timur, Yogyakarta, Jawa Tengah, Banten, Jakarta, Kalimantan, dan NTT.

Capai Target
Berawal dari hanya 41 siswa, kini jumlah peserta didik di SMP Sang Timur berjumlah 434 orang. Sr Melania bersyukur, hampir empat tahun belakangan ini sekolahnya masih sanggup mencapai target mendapat siswa. Katanya, ini berkat keberadaan sekolah yang letaknya pararel dari TK hingga SMA. “Kami sangat berterima kasih untuk para guru di SD Katolik Sang Timur,” pujinya.

Yanuari Marwanto

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*