Artikel Terbaru

Gejolak Batin Sang Uskup Baru KAS

Mgr Robertus Rubiyatmoko.
[NN/Dok.Pribadi]
Gejolak Batin Sang Uskup Baru KAS
5 (100%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.com – Ia merasa diri punya banyak kekurangan dan tidak pantas. Tapi Tuhan punya rencana lain. Lewat tangan Paus Fransiskus, ia diangkat menjadi Uskup Agung Semarang.

Sabtu pekan pertama Maret, usai makan malam, Romo Robertus Rubiyatmoko berjejak ke kamar. Ia hendak bepergian bersama beberapa rekan dosen Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Ada beberapa urusan kampus yang perlu mereka bicarakan sambil menikmati udara malam Yogyakarta. Sembari bersiap, Romo Ruby menyempatkan diri membuka handphonenya.

Ada sebuah pesan masuk dari Nunsius Apostolik untuk Indonesia Mgr Antonio Guido Filipazzi. Bunyinya, “I want to meet you, as soon as possible. Please.” Romo Ruby langsung membuang handphonenya ke atas meja. Sekujur tubuhnya lemas. Jantungnya berdegup kencang. Ia takut, kalau-kalau apa yang ia khawatirkan selama ini benar terjadi.

Beberapa bulan lalu, sudah beredar “ledek-ledekan” di antara para Romo Keuskupan Agung Semarang (KAS) soal siapa calon Uskup Agung Semarang. Nama Romo Ruby kerap muncul dalam celotehan itu. Tapi Romo Ruby berulang kali menepis. Ada beberapa nama romo lain yang sering ia lontarkan juga. Bahkan ia bertaruh kalau ia terpilih, ia akan mentraktrir teman-temannya.

Saat pertemuan para romo di Muntilan, Jawa Tengah, awal tahun ini, ada beberapa romo yang sudah memanggilnya dengan sapaan “Monsinyur”. Kepada mereka yang ia kenal baik, ia menjawab, “Monsinyur gundul-mu” atau, “Jangan menyebarkan isu yang tidak benar.”

Maka malam itu, ketika pesan Nunsius tertanggal 4 Maret 2017 masuk ke gawainya, ia khawatir luar biasa. Ia memilih pergi tanpa membawa handphone, termasuk tak mau membalas pesan tersebut. Ia baru membalas saat ia pulang. Itu pun hanya dua kata, “Ada apa?”

Tak ada balasan, lantas Romo Ruby mulai memikirkan tanggal berapa ia akan datang ke Nunsiatura. Ia harus mencocokkan jadwal keberangkatan dengan jadwal di komunitasnya, Seminari Tinggi St Paulus Kentungan, Yogyakarta. Jangan sampai keberangkatan itu mengganggu jadwal komunitas. Sebab, para romo akan curiga.

Keesokan harinya, Romo Ruby mengirim lagi pesan ke Nunsius, “Apakah saya harus datang segera?” Nunsius membalas, “Please.” Akhirnya, mereka sepakat pada 10 Maret 2017. Kekhawatiran terus menghantui Romo Ruby. Tiap malam, ia tak bisa tidur. Kalaupun terlelap, pukul 03.00 dini hari, ia terbangun. Saban malam, ia hanya memanjatkan doa, “Tuhan, jangan sampai kekhawatiran saya ini terjadi. Kalau bisa hindarkan cawan ini dari saya.”

Kekhawatiran Terjawab
Sekitar pukul 09.30 pada hari yang sudah disepakati, Romo Ruby melangkahkan kaki memasuki halaman Nunsiatura. Ia diajak Mereka ngobrol dalam bahasa Italia, sesekali dicampur bahasa Inggris. Setelah basa-basi, Mgr Filipazzi mengatakan, “Anda ditunjuk Paus Fransiskus menjadi Uskup Agung Semarang.” Romo Ruby terperanjat. Sekujur tubuhnya lemas. Spontan ia mengatakan, “Ini yang saya tidak mau. Saya berdoa supaya ini jangan terjadi.”

Romo Ruby butuh beberapa saat untuk menenangkan diri. Kemudian ia bertanya, “Ini sebuah keharusan atau pilihan? Kalau pilihan, jelas saya menolak.” Tiga kali ia mengajukan pertanyaan serupa, ditambah dengan rentetan alasan yang sudah ia siapkan. Nunsius menjawab, “Ini bukan pilihan; ini sebuah keharusan.” Sebagai imam dengan latar belakang pendidikan Hukum Gereja, ia paham betul arti kata “keharusan”. Artinya, ia tak punya opsi lain, selain menerima.

Dalam keadaan kalut, bingung, dan juga marah, Mgr Filipazzi mengajaknya berdoa di kapel. Di bangku paling depan, bukan doa yang keluar dari mulutnya, melainkan airmata yang membanjir. Secara bergantian, ia memandang salib dan tabernakel. Dalam refleksinya, seolah-olah Yesus mau bilang, “Yang segini aja saya lakoni. Kamu baru segitu aja kok protes.” Wajah Yesus di salib itu membuatnya sangat jengkel. Satu pertanyaan yang terus ia ajukan, “Kenapa kok saya? Padahal saya ini lemah dan banyak kekurangan. Ada banyak orang yang lebih pantas dari saya.”

Setelah satu setengah jam, Romo Ruby mengakhiri doa. Rupanya Nunsius menangkap kegelisahan di wajah Romo Ruby. Ia pun mengajaknya makan siang. Usai makan siang, mereka kembali ke ruang tamu. Romo Ruby bertanya lagi, “Ini sebuah keharusan atau sebuah pilihan?” Jawaban yang datang masih sama. Akhirnya Romo Ruby mengatakan, “Ya sudah…, kalau ini keharusan, saya terima.”

Kemudian Nunsius menyodorkan selembar kertas A4 dan pena. Romo Ruby hanya memandang kertas dan pena yang ada di meja di hadapannya. Dalam hati ia mengatakan, “Kalau saya menulis, berarti jadi.” Maka ia sengaja mengulur-ulur waktu dengan harapan agar Nunsius membatalkan informasi itu. Lantas ia bertanya lagi, “Lalu saya harus nulis apa?”

Nunsius mengatakan, bilang saja terima kasih kepada Paus Fransiskus atas penunjukan ini dan mohon doa untuk menjalankan tugas ini dengan baik. Romo Ruby langsung protes, “Terima kasih? Wong saya nggak mau kok.” Tapi, itu hanya ia dengungkan dalam hati.

Akhirnya Romo Ruby menulis. Kalimat yang ia tuliskan kepada Paus Fransiskus dalam bahasa Italia itu berbunyi: “Berdasarkan ketaatan suci, saya menerima penunjukan saya sebagai Uskup Agung Semarang. Saya berterima kasih atas kepercayaan ini dan mohon doa agar saya bisa mengemban tugas dan tanggung jawab sebagai Uskup Keuskupan Agung Semarang. Terima kasih. Salam.” Dengan menuliskan jawaban tersebut, Romo Ruby pun resmi menjadi Uskup Agung Semarang.

Sore harinya, saat menunggu pesawat pulang ke Yogyakarta di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, ia menelpon Uskup Agung Jakarta Mgr Ignatius Suharyo. Ia masih berharap, Mgr Suharyo mendukungnya untuk menolak penujukannya. Tapi, yang ia terima malah ucapan selamat. Bahkan Mgr Suharyo langsung menyapanya dengan sebutan “Bapa Uskup” sambil meyakinkannya bahwa ia bisa menggembalakan KAS.

Hari Pengumuman
Pada Sabtu, 18 Maret 2017, Mgr Ruby tak mau berbicara dengan siapa pun. Ia
memilih menyendiri. Siang harinya ia mengirim pesan singkat kepada kakaknya. Bunyinya, “Mbak, tolong doa khusus untuk Om.” Informasi itu lekas tersebar ke kakaknya yang lain, juga adiknya. Mereka menduga, Mgr Ruby sakit. Kakak perempuannya yang tinggal di Solo langsung menempuh perjalanan ke Yogyakarta.

Setelah mengirim pesan, Mgr Ruby tak lagi menengok handphone-nya. Pesan dari keluarga tak ia balas, telepon masuk pun tak ia gubris. Ia hanya berdiam di kamar dan menyiapkan Misa. Ia berencana, Misa pribadinya akan berakhir tepat pukul 18.00, pada waktu yang sudah ditentukan oleh Nunsius untuk mengumumkan penunjukan dirinya menjadi Uskup Agung Semarang. Mgr Ruby pun pasrah. “Tuhan kalau memang ini harus terjadi, saya pasrah.” Itulah doa yang ia panjatkan sebelum mengakhiri Misa.

Beberapa menit kemudian, terdengar ketukan pintu kamar. Ia tahu, pasti rekan-rekan romo di Seminari Tinggi Kentungan sudah mendengar pengumuman itu. Ia keluar dan mengamini pertanyaan dari para romo tentang kebenaran informasi itu. Para frater yang sedang rekoleksi pun dikumpulkan di kamar makan.

Ketika Mgr Ruby masuk kamar makan, semua langsung bertepuk tangan. Lantas, semua berlutut dan minta berkat. “Saya trenyuh. Saya hanya bisa menangis. Saya tak menyangka para romo dan frater akan menyambut saya seperti itu,” ujar Mgr Ruby saat ditemui di Seminari Tinggi Kentungan, akhir April lalu. Ia pun berdoa dan memberi berkat pertama sebagai Uskup Agung Semarang.

Selama seminggu, ucapan selamat membanjiri handphone-nya. Konfirmasi keterpilihannya menjadi uskup kepada keluarga baru ia lakukan tiga hari kemudian, saat ia datang ke rumah orangtuanya di Desa Nandan, Babadan, Yogyakarta.

Stefanus P. Elu

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*