Artikel Terbaru

Gembala Bebek yang Jadi Uskup

Mgr Rubiyatmoko bersama keluarga.
[NN/Dok.Pribadi]
Gembala Bebek yang Jadi Uskup
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Semasa kecil dalam keluarga ia diberi tugas menggembalakan bebek di sawah. Saat ini, Tuhan memberinya tugas menggembalakan umat satu keuskupan.

Uskup Agung Semarang, Mgr Robertus Rubiyatmoko lahir di Desa Demangan, Babadan Yogyakarta, pada 10 Oktober 1963. Ia adalah anak keempat dari pasangan Stanislaus Sipon dan Elisabeth Dalikem. Kedua orangtuanya sudah berpulang. Sang ayah meninggal saat Mgr Ruby masih duduk di bangku kelas tiga Seminari Menengah St Petrus Kanisius Mertoyudan, Magelang, Jawa Tengah. Sementara ibunya berpulang saat Mgr Ruby menjalani studi doktor Hukum Gereja di Universitas Kepausan Gregoriana Roma, Italia.

Saat ini, rumah orangtuanya ditempati kakaknya yang kedua, Yakobus Sunardibroto bersama keluarganya. Akhir April lalu, saat ditemui di rumahnya, Nardi mengisahkan masa kecil Mgr Ruby.

Waktu masih usia Sekolah Dasar, Nardi bersama Moko, panggilan masa kecil Mgr Ruby, mendapat tugas menggembalakan bebek. Setiap pagi, sekitar pukul 06.00, keduanya menggiring bebek peliharaan ke sawah. Mereka akan menggembalakan bebek-bebek itu sekitar setengah jam. Kemudian bebek-bebek itu digiring lagi kembali ke kandang. Sore hari, saat pulang dari sekolah, mereka kembali menggembalakan bebek.

Sementara kakaknya yang ketiga, Maria Sri Sumarniati mengatakan, Moko kecil dikenal sebagai anak yang rajin. Di antara saudari-saudaranya, Moko adalah sosok yang rajin dan sederhana. “Ia pandai membagi waktu antara belajar, menggembalakan bebek, dan ngarit rumput untuk sapi,” ujar Sri yang sekarang tinggal di Solo, Jawa Tengah.

Sri melanjutkan, Moko juga anak penurut. Ia tak pernah membantah nasihat atau omongan bapak dan ibu. Usai makan malam, Moko lebih dulu merapikan meja makan. Termasuk, saat Sri menyuruh Moko cuci piring pun, ia ikuti. Hal serupa juga diamini Nardi. Katanya, salah satu sifat yang diwarisi Mgr Ruby dari ayahnya adalah murah hati.

Jadi Romo
Nardi menceritakan, kebiasaan doa dalam keluarga yang diajarkan oleh bapak dan ibu rupanya menjadi kecambah panggilan Mgr Ruby. Maka waktu ia mengutarakan keinginannya untuk masuk seminari, bapak dan ibu langsung setuju.

Saat merefleksikan perjalanan panggilannya, Mgr Ruby menemukan sebuah kisah unik dari masa kecilnya. Suatu ketika, saat sedang bermain bersama seorang teman, ia mengatakan, “Saya mau jadi romo dan studi di Roma.” Mgr Ruby sendiri kaget atas pengalaman itu. “Bagaimana mungkin, seorang anak kecil yang waktu itu masih kelas tiga atau empat SD sudah bermimpi jadi romo dan studi di Roma,” kenang Mgr Ruby.

Pengakuan Mgr Ruby, kehendak untuk menjadi imam sudah muncul saat ia masih kecil. Maka di beberapa kesempatan saat bermain bersama teman-temannya, ia berperan sebagai romo dan memimpin Misa. Ketika usia remaja, bibit panggilan itu makin jelas. Ia selalu terlibat dalam kegiatan-kegiatan kegerejaan, entah menjadi misdinar ataupun bergabung bersama Mudika.

Mgr Ruby juga mengakui, ia sangat terbantu dengan peran Romo Paroki St Petrus dan Paulus Babadan waktu itu, Romo Antonius Wahadi. “Dia yang membukakan saya jalan untuk masuk Seminari Mertoyudan,” kata Mgr Ruby.

Maka saat hendak memilih opsi di Seminari, menjadi imam Praja atau imam Jesuit, Mgr Ruby langsung memilih menjadi imam Praja Keuskupan Agung Semarang. Memang semula ia sempat ragu dengan pilihan itu. Dalam hati kecil, ada keinginan juga untuk bergabung dengan Serikat Yesus. Tapi, ia kembali mengingat motiviasinya menjadi imam.

Kala itu, bayangan seorang imam Jesuit bagi Mgr Ruby adalah imam yang berkarya jauh dari keluarga. Padahal, ia ingin menjadi imam yang dekat dengan keluarga. “Saya mau menjadi imam yang dekat dengan keluarga dan berada di tengah-tengah mereka,” ujarnya.

Studi Hukum
Sejak di Seminari Tinggi, oleh Romo Rektor dan Uskup Agung Semarang kala itu Kardinal Julius Darmaatmadja SJ, ia didorong untuk belajar Hukum Gereja. Ia sempat menolak. Alasannya, ia tidak suka belajar hukum. Meski ia tetap giat belajar, hatinya menolak. Ketika menjelang tahbisan diakon, Romo Rektor sempat menegurnya. “Kamu mau mengabdi kepada siapa? Kalau kamu mau mengabdi kepada Kesukupan Agung Semarang, ya ikuti. Sekarang keuskupan butuh kamu studi hukum,” kisah Mgr Ruby.

Maka dengan berat hati, ia menyanggupi. Usai menerima tahbisan imamat pada 12 Agustus 1992, ia ditugaskan di Paroki St Maria Assumpta Pakem, Sleman, Yogyakarta. Selama sembilan bulan, ia bertugas di sana sambil menyiapkan diri untuk studi lanjut ke Roma. Ketika tiba waktunya berangkat ke Roma, ia teringat kembali pengalaman masa kecilnya. Dulu ia bercita-cita jadi imam dan studi di Roma. Sekarang impian itu terjawab.

Tahun 1993, Mgr Ruby berangkat ke Roma. Satu tahun pertama, ia masih bergulat untuk mencintai hukum. Suatu ketika, ia bertanya kepada salah satu rekan sekomunitas, seorang imam asal Belanda. Temannya ini sangat gemar belajar hukum. Ia bertanya, “Mengapa kamu begitu suka belajar hukum?”

Romo itu malah bertanya, biasanya umat datang dan bertanya seputar filsafat, teologi, hukum atau moral? Mgr Ruby menjawab, hukum dan moral. “Nah, itulah mengapa kamu harus berlajar mencintai studi ini,” kata Mgr Ruby mengulang nasihat rekannya. Sejak saat itu, Mgr Ruby menyukai Hukum Gereja.

Sejak pulang studi pada 1999 sampai terpilih menjadi Uskup Agung Semarang, Mgr Ruby bertugas sebagai dosen Hukum Gereja di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. “Saya cinta mati dengan Hukum Gereja dan mengajarkannya dengan penuh sukacita.”

Keluarga Senang
Saat mendengar ia terpilih menjadi Uskup Agung Semarang, keluarga besar Mgr Ruby sangat senang. Apalagi tahun ini, Mgr Ruby juga akan merayakan pesta perak imamatnya. Istri Nardi, Bernadeta Suhesti Marwati mengatakan, mereka sudah merencanakan akan mengadakan Misa Syukur Pesta Perak Imamat Mrg Ruby dan Perak Pernikahan mereka di rumah.

Kebetulan, pernikahan Nardi dan Wati diadakan satu hari setelah Mgr Ruby menerima tahbisan imamat. Waktu itu, Misa Pernikahan yang berlangsung pada 13 Agustus 1992 itu disatukan dengan Misa Perdana Mgr Ruby menjadi imam. “Tapi kayaknya akan dipindahkan ke paroki karena pasti banyak orang yang ikut merayakan. Sekarang dia tidak hanya milik keluarga, tapi milik umat satu keuskupan,” kata Wati.

Pengalaman kegembiraan juga disampaikan oleh Sri. Ia dan keluarga mengalami sukacita ketika mendengar Mgr Ruby terpilih. “Ini anugerah Tuhan untuk keluarga kami. Saya berharap, Bapa Uskup menggembalakan Keuskupan Agung Semarang dengan baik dan mampu menjadi teladan bagi kami sebagai umat,” ujar Sri.

Adik bungsu Mgr Ruby, Agustinus Suhariyanto meneteskan airmata saat mendengar kabar kakaknya terpilih menjadi uskup. Kakaknya yang sejak dulu ia kenal sebagai sosok teladan dan murah hati dipercaya Tuhan menjadi uskup. Hari dan keluarga berpesan agar meski sibuk dengan tugas-tugas baru, Mgr Ruby tetap memperhatikan kesehatannya. Hari berujar, “Semoga ia semakin baik dalam melayani umat.”

Mgr Robertus Rubiyatmoko
TTL:
Babadan, 10 Oktober 1963.

Pendidikan:
• TK Indriasana Babadan (1970)
• SD Kanisius Babadan (1971-1976)
• SMP Sanjaya Babadan (1976-1979)
• Seminari Menengah St Petrus Kanisius Mertoyudan (1979-1984)
• Tahun Orientasi Rohani Jangli Semarang (1984-1985)
• Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta (1985-1992)
• Tahun Orientasi Pastoral di Seminari Mertoyudan (1988-1989)
• Lisensiat dan Doktoral di Universitas Gregoriana Roma, Italia (1993-1998)
• Dosen Hukum Gereja Universitas Sanata Dharma Yogyakarta (1999-terpilih menjadi uskup)

Stefanus P. Elu
Laporan: Christophorus Marimin/Marchella A. Vieba.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*