Artikel Terbaru

Penyelamat Umat yang Tersesat

Romo F.X. Sukendar Wignyosumarta.
[HIDUP/Stefanus P. Elu]
Penyelamat Umat yang Tersesat
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Keuskupan Agung Semarang adalah salah satu keuskupan agung yang sangat luas di Pulau Jawa. Mgr Ruby mengajak umat dan para romo untuk aktif mencari dan menyelamatkan umat yang tersesat.

Kurang lebih satu setengah tahun Keuskupan Agung Semarang (KAS) mengalami sede vacante. Pada Sabtu petang, 18/3, segenap umat KAS disuguhi berita gembira. Paus Fransiskus menunjuk Romo Robertus Rubiyatmoko menjadi Uskup Agung Semarang.

Administrator Apostolik KAS Romo F.X. Sukendar Wignyosumarta mengaku senang takhta KAS akhirnya terisi. Lagi pula, Romo Ruby bukan sosok baru bagi Romo Kendar. Mereka seangkatan waktu studi di Seminari Mertoyudan, juga di Seminari Tinggi Kentungan. Selama ini, Romo Ruby pun ikut berkecimpung di Kuria KAS sebagai Vikaris Yudisial.

Saat Uskup Agung Semarang sebelumnya, Mgr Johannes Maria Trilaksyanta Pujasumarta berpulang pada 10 November 2015, Romo Kendar ditunjuk sebagai Administrator Diosesan KAS. Ia diberi tanggung jawab melanjutkan penggembalaan KAS, sembari menunggu uskup baru terpilih.

Kepergian Mgr Puja adalah kehilangan besar. Secara pribadi, Romo Kendar mengaku bahwa masih ada rasa getir dalam hati. “Yang membuat saya sedih adalah kurangnya waktu untuk menemani beliau di saat-saat sakit. Itu karena saya harus berkeliling untuk menggantikan beliau menghadiri acara-acara di paroki,” ujar Romo Kendar dengan mata berkaca-kaca.

Meski demikian, kata Romo Kendar, Mgr Puja tak pernah mengeluhkan hal itu. Walau sakit, ia tak mau menunjukkannya kepada Romo Kendar. Tiap kali Romo Kendar menjenguk, Mgr Puja selalu menanyakan kondisi umat KAS. Kalau Romo Kendar bilang harus menghadiri sebuah acara, Mgr Puja langsung menyuruhnya berangkat. “Silakan berangkat, Romo. Umat membutuhkan pelayanan Romo. Saya baik-baik saja,” kenang Romo Kendar.

Menurut Romo Kendar, Mgr Puja sangat mencintai umat KAS. Ia ingin agar
pelayanan kepada umat lebih utama. Sekarang, Tuhan telah memberikan Uskup Agung baru yang sepadan. Di mata Romo Kendar, Mgr Ruby adalah sosok yang tepat untuk melanjutkan tongkat penggembalaan KAS.

Kerasulan Keluarga
Romo Kendar mengisahkan, Mgr Puja meninggalkan warisan yang sangat berharga bagi KAS. Ia adalah sosok visioner. Pada 2013, ia sudah mengajak para romo KAS untuk memikirkan Rencana Induk Keuskupan (RIKAS) sampai tahun 2035. Ini juga sebagai salah satu langkah untuk mempersiapkan Yubelium Agung 2035. “Saat menyusun RIKAS, kami melibatkan awam, romo, teolog, dan konsultan untuk memetakan apa yang mesti dilakukan 15 sampai 20 tahun yang akan datang. Nah, Arah Dasar KAS saat ini merupakan jabaran dari RIKAS.”

Dari rencana induk inilah, kata Romo Kendar, kami mulai menyusun formasi berjenjang. Jadi, formasi iman bagi umat dimulai dari Bina Iman Anak, Orang Muda Katolik, persiapan perkawinan, dan pendampingan lansia. Gereja KAS ingin ikut terlibat dan mendampingi umatnya dari awal sampai akhir. “Dalam formasi ini, kami bekerja sama dengan komunitas-komunitas kategorial di tiap jenjang. Misal, Kursus Evangelisasi Pribadi, Camp Pria Sejati dan Wanita Terberkati, dan lain-lain. Saat ini, komunitas-komunitas itu sedang berkembang, dan kita merangkul mereka,” jelas Romo Kendar.

Pastoral keluarga juga tak luput dari perhatian. Di KAS, pendampingan kepada keluarga-keluarga Katolik dipercayakan kepada imam-imam Misonaris Keluarga Kudus (Missionarii a Sacra Familia/MSF). Bersama mereka, KAS membuat Family Care Center yang akan menjadi pusat pendampingan bagi keluarga-keluarga Katolik.

Saat sudah resmi menduduki takhtanya sebagai Uskup Agung Semarang, kerasulan keluarga juga akan mendapat perhatian penting dari Mgr Ruby. Niatan itu bahkan ia masukkan dalam moto tahbisan episkopalnya. Saat merefleksikan moto tahbisan uskup yang hendak ia pilih, Mgr Ruby merujuk kisah Gembala yang Baik dalam Lukas 15. “Di situ digambarkan bahwa Yesus adalah Gembala yang proaktif mencari domba-domba-Nya. Yang terluka dipanggul-Nya, yang tersesat dibawa-Nya pulang,” ujar Mgr Ruby.

Refleksi Mgr Ruby akhirnya jatuh pada Lukas 19:10, “Maka Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang”. Ia kemudian mencari naskah bahasa Latin dan meringkasnya menjadi: “Quaerere et Salvum Facere”.

Menurut Mgr Ruby, latar belakang permenungannya tentang penggembalaan adalah kisah tentang Zakheus. Banyak orang di dunia ini seperti Zakheus. Mereka ingin bertemu Tuhan dan beroleh keselamatan, tapi ada banyak halangan dan rintangan. Maka, mereka butuh pertolongan. Yesus sendiri membaca siatusi itu sehingga ia mau datang dan makan di rumah Zakheus. Yesus membuat seisi rumah Zakheus mengalami sukacita.

“Inilah yang akan menjadi orientasi pastoral saya, bagaimana orang yang mempunyai kerinduan untuk bertemu Tuhan atau mengalami keselamatan itu terpenuhi. Kerja proaktif dari imam dan seluruh umat beriman sangat dibutuhkan. Dengan moto ini, saya mengajak semua untuk terlibat dalam karya iman ini. Kita mesti menyelamat mereka yang sudah terlanjur hilang, tersesat, atau mengalami kesulitan untuk datang bertemu Tuhan,” kata Mgr Ruby.

KAS adalah sebuah keuskupan agung yang sangat luas. Keuskupan ini memiliki sekitar 394.615 ribu jiwa (data 2016), tersebar di empat kevikepan, yakni Semarang, Surakarta, Kedu, dan Yogyakarta. Dengan memiliki 203 imam diosesan, Mgr Ruby yakin bahwa kerja kolaboratif dari segenap umat beriman dan imam-imam KAS bisa membuat apa yang ia bayangkan ini terwujud. Ia percaya, Yesus dan Roh Kudus akan memampukan semua. “Saya hanya mempersembahkan kemauan dan kesediaan saya. Tuhan sendiri yang punya pekerjaan, kita hanyalah alat-Nya.”

Menurut Mgr Ruby, para Uskup Agung Semarang terdahulu sudah mewariskan model pastoral yang sangat berharga. Mgr Albertus Soegijapranata SJ mewariskan bagaimana 100 persen menjadi warga negara dan umat Katolik. Kardinal Justinus Darmojuwono menghidupkan Lingkungan-lingkungan. Kardinal Julius Riyadi Darmaatmadja SJ mewariskan tahapan penggembalaan lima tahunan yang masih berlangsung sampai sekarang. Mgr Ignatius Suharyo Hardjoatmodjo menciptakan asas dan sistem-sistem yang sangat bagus. Mgr Johannes Maria Trilaksyanta Pujasumarta mewariskan ajakan untuk berkonsentrasi pada Ekaristi dan bagaimana hidup di tengah masaryakat. “Semua sudah berjalan bagus. Sekarang saya tinggal semangati saja,” kata Mgr Ruby sambil tertawa.

Meski demikian, Mgr Ruby tetap punya agenda pastoral. Yang akan ia kembangkan pada awal penggembalaannya adalah menguatkan asupan rohani kepada para imam. Ia membayangkan, kalau para imamnya terpenuhi secara rohani, mereka mau terbuka untuk merangkul umat. Selanjutnya, kalau umat terpenuhi hidup rohaninya, mereka mau membuka diri bagi masyarakat sekitar.

Saat ini, kegiatan besar yang sudah menunggu Mgr Ruby adalah Asian Youth Day (AYD). Momen perjumpaan orang muda dari negara-negara se-Asia ini akan terpusat di Yogyakarta. Maka setelah tahbisan episkopal, Mgr Ruby sudah ditunggu untuk menyukseskan acara ini. Sudah beberapa kali ia menghadiri rapat panitia AYD. “Panitia sudah bilang apa saja tugas saya. Ternyata banyak juga.”

Bagi Mgr Ruby, kehadirannya di tengah panitia AYD bukan untuk membawa ide brilian atau sesuatu yang gemilang. “Yang mereka butuhkan adalah kehadiran. Maka saya cukup hadir, menguatkan dan mendorong mereka agar kami semua bersemangat untuk menyukseskan AYD.”

Romo Matheus Purwatma,
Rekan Sekomunitas Mgr Ruby
“Saya mengenal sosok Mgr Ruby sebagai pribadi yang tekun dan disiplin. Meski ia sering membuat lucu, tapi ia tetaplah orang yang disiplin. Itu tampak dalam bagaimana ia membimbing para frater di Seminari Tinggi Kentungan. Sebagai rekan dosen, ia adalah sosok yang enak untuk diajak ngobrol. Ia pandai dan mau belajar sehingga banyak hal bisa saya pelajari darinya. Sebagai teman sekomunitas, ketika mendengar kabar ia terpilih menjadi uskup, saya bangga dan menerima dengan sukacita. Ya, ini dia yang ditunggu-tunggu. Dia sangat pas untuk menjadi Uskup Agung Semarang.”

Petrus Banyu Dewa,
Teman Angkatan Seminari Mertoyudan dan Rekan Dosen IPPAK Sanata DharmaYogyakarta
“Mgr Ruby adalah sosok yang selalu tampil cair dan apa adanya. Di kalangan teman-teman dosen, kerap orang bilang bahwa gaya ngomong-nya “saru”. Ya, karena ia mengajar hukum perkawinan jadi ngomongnya harus gitu, biar mahasiswa bisa menangkap apa yang ia ajarkan. Bahasa hukum kan kadang susah dipahami. Maka, ia selalu mencari contoh atau padanan yang sederhana agar mudah dicerna. Dia suka membuat lelucon dan mau bergaul dengan siapa saja. Tubuhnya kecil, tapi kalau main sepak bola larinya kencang. Saya senang sekali ketika mendengar ia terpilih menjadi uskup. Mudah-mudahan ia bisa memenuhi kerinduan rohani umat KAS.”

Maria Cicilia Peniyati,
Teman Seangkatan SD-SMP
Peniyati kenal betul dengan sosok Mgr Ruby. Katanya, Mgr Ruby adalah teman sekolah dan teman bermainnya. Dulu, mereka sama-sama aktif di Gereja St Petrus dan Paulus Babadan. Ia mengenal pribadi Mgr Ruby sebagai teman yang pintar, tekun belajar, dan mau menolong teman yang sedang mengalami kesulitan. Ketika mendengar bahwa temannya itu ditunjuk Paus Fransiskus menjadi Uskup Agung Semarang, ia senang luar biasa.

Romo Aloysius Gonzaga Luhur Prihadi,
Adik Kelas di Seminari Mertoyudan dan Pastor Paroki Katedral Semarang “Saya adalah adik kelas Mgr Ruby di Seminari Menengah Mertoyudan. Saat sudah frater, kami bertemu lagi di Seminari Tinggi. Sejak di seminari hingga kini, Mgr Ruby masih tetap sama, sederhana. Saya mengenal dia sebagai orang yang tekun dalam belajar dan mau berbagi dengan teman-temannya. Waktu mendengar kabar bahwa ia terpilih menjadi Uskup Agung Semarang, saya ikut senang. Mewakili umat Paroki St Perawan Maria Ratu Rosari Suci Katedral Semarang, saya ucapkan selamat datang.”

Stefanus P. Elu
Laporan: Marchella A. Vieba/Robertus Fajar

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*