Artikel Terbaru

Bagaimanakah Caranya Supaya Anak Doyan Makan Makanan Rumah?

Bagaimanakah Caranya Supaya Anak Doyan Makan Makanan Rumah?
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Pengasuh budiman, dua anak saya, laki-laki dan perempuan, masing-masing kelas IV dan II SD. Keduanya sulit makan, terlebih anak pertama saya. Kemungkinan anak kedua saya yang perempuan sulit makan karena terpengaruh oleh kakaknya. Meski saya sudah masak, lalu menawarkan mereka makan, kakak-beradik itu tak langsung bergerak mengambil piring. Akhirnya, supaya mereka makan, saya selalu menanyakan makanan apa yang mereka mau. Mereka minta dibelikan makanan ini-itu. Kejadian seperti ini selalu terulang. Banyak uang yang kami keluarkan supaya anak mau makan. Apakah tindakan kami keliru selalu mengikuti kemauan anak agar mereka mau makan? Bagaimana caranya agar anak gampang makan?

Fransiska Meirina, Bogor

Ibu Fransiska Meirina terkasih, persoalan yang Ibu hadapi, dialami oleh hampir semua ibu. Sebagai sesama ibu, saya bisa memahami kondisi itu. Kadang hal itu terasa sangat menjengkelkan, karena membuat kita, sebagai orangtua, menjadi bingung dan seperti tak tahu harus bagaimana lagi. Meski demikian, pasti ada cara untuk mengatasinya dan itu bisa kita coba. Berikut beberapa hal yang bisa kita dalami.

Pertama, secara umum, rasa lapar adalah proses biologis yang dirasakan oleh tubuh, saat tubuh membutuhkan energi untuk beraktivitas. Pola kebiasaan makan mempengaruhi bagaimana tubuh merespon kebutuhan itu. Jika kita terbiasa makan tiga kali sehari, tubuh juga akan menyesuaikan dengan hal itu. Jika kita terbiasa sarapan, maka saat pagi tak sarapan, terasa ada yang kurang dan tubuh menjadi lemas. Saat puasa, tubuh terlatih untuk tak menerima asupan makanan selama kurun waktu tertentu. Jadi sebenarnya, tubuh menyesuaikan pola kebiasaan yang kita terapkan untuk diri sendiri. Nah, bagaimana dengan pola yang ibu lakukan dalam keluarga?

Kedua, anak enggan makan sebenarnya wajar, sebagaimana kita orang dewasa kadang juga malas makan karena satu dan lain alasan, bahkan bisa saja kita enggan makan karena bosan dengan lauk yang tersedia, sehingga mencari referensi lain dengan jajan di luar rumah. Namun, ini tentu takkan menjadi kebiasaan bukan?

Selalu memenuhi permintaan anak bukanlah kebiasaan yang ideal. Sebab anak akan menjadi manja oleh situasi, serta akan menyedot anggaran rumah tangga. Perlu ketegasan orangtua disertai alasan logis sesuai kemampuan anak memahami. Ketegasan tak boleh hanya berhenti satu atau dua kali saja. Penerapan aturan juga bisa dilakukan, seperti makan bersama di luar rumah seminggu atau dua minggu sekali. Dengan demikian, keluarga memiliki satu pola makan bersama.

Ketiga, agar anak tergerak untuk makan, bisa dilakukan dengan selalu mengajak anak berdiskusi: makanan apa yang perlu disajikan di rumah. Ibu tak perlu bosan untuk bertanya dan menyiapkan makanan dengan memasak untuk keluarga.  Selain itu, ajaklah anak berbelanja dan meminta mereka memilih bahan makanan yang mereka suka untuk dimasak di rumah.

Anak akan merasa dilibatkan dan bertanggungjawab dengan pilihan. Berbelanja bersama bisa dijadwalkan ketika anak tak punya banyak kesibukan di sekolahnya. Andaikata anak menolak, perlu ketegasan untuk makan makanan yang tersaji di meja makan. Anak perlu juga belajar menghargai usaha orangtua. Mereka perlu diberi pengertian. Awalnya tentu mereka akan menolak, merajuk, atau bahkan tak mau makan sama sekali. Ketegasan inilah yang perlu Ibu biasakan agar tak tergoda memenuhi permintaan mereka begitu saja. Sekali Ibu memenuhi permintaan mereka, maka hal yang sama akan terulang kembali.

Keempat, kadang orangtua lebih suka menuruti kemauan anak, bahkan dalam banyak hal, karena takut ribut, termasuk takut repot dan dianggap tak cinta anak. Sayangnya, orangtua kadang sulit memahami, menyayangi anak tak berarti harus menuruti kemauan anak dalam banyak hal.

Kelima, proses mendidik pada dasarnya menuntut konsistensi dan ketegasan, sehingga proses pembentukan perilaku dapat terjadi. Dalam pendidikan anak, koordinasi antara orangtua (Ibu dan Ayah) menjadi sangat penting. Orangtua
perlu memiliki kesepakatan sehingga takkan menjadi celah bagi anak untuk melanggar. Selamat mencoba.

Dewi Setyorini

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*