Artikel Terbaru

Tulus dan Ikhlas Mengejar Kecukupan Dunia dan Akhirat

Veronica Meilia Susanti.
Tulus dan Ikhlas Mengejar Kecukupan Dunia dan Akhirat
5 (100%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.com – Ia mahir berbahasa Inggris dan Jepang. Ia juga bergelar magister. Lantas, mengapa ia mau bekerja sebagai karyawan paroki?

Stephanie Mamiek Suyatmi Harsono kaget bukan kepalang dengan keputusan putrinya, Veronica Meilia Susanti. Bagaimana mungkin anak yang ia kuliahkan hingga menggondol gelar magister ilmu sosial dan politik, serta katam bahasa Inggris dan Jepang, justru menjadi karyawan Sekretariat Paroki Internasional St Petrus Kanisius Menteng, Jakarta Pusat?

Mamiek keberatan dengan pilihan bungsu dari empat bersaudara itu. Menurutnya, Vero bisa mendapatkan pekerjaan lebih baik dan prestisius, dibanding sebagai karyawan paroki. Mungkin karena malu, Mamiek tak pernah memberitahu kepada siapa pun soal pekerjaan anaknya itu.

Andai terdesak, ada umat yang bertanya soal Vero, termasuk pekerjaannya, Mamiek akan mengatakan putrinya masih bekerja di sebuah apartemen di kawasan Jakarta Selatan. “Ibu berusaha menutupi pekerjaan saya hampir 1,5 tahun,” ujar Vero.

Motivasi Dangkal
Paroki Internasional St Petrus Kanisius biasa dikenal juga dengan sebutan Paroki Expatriate. Paroki ini memberikan layanan pastoral khusus kepada warga negara asing yang berada di Jakarta. Pelayanan Paroki Expatriate tak berbeda jauh dengan paroki-paroki lain. Paroki ini berada dalam wilayah gerejani Keuskupan Agung Jakarta.

Sebelum berlabuh di Paroki Expatriate, seperti kata Mamiek, Vero bekerja di
vertical house. Posisinya kala itu lumayan mentereng, sebagai head tenant relations. Namun pada 2013, sejak ayahnya R.B. Harsono meninggal, jalan hidup anak pegawai pajak itu berubah 180 derajat. Sama seperti sang ibu, Vero semula juga tak mengira bekerja di paroki.

Empat tahun lalu, Vero memutuskan untuk berhenti kerja di apartemen. Ia kembali ke rumah orangtuanya di Yogyakarta. Perempuan kelahiran Kudus, Jawa Tengah, 25 Mei 1978 ini berniat merintis karier barunya di Kota Gudeg. Lagi pula, ia ingin menemani ibunya yang tinggal sendirian di rumah, semenjak ayahnya meninggal.

Rencana Vero tak segera kunjung terwujud. Lima bulan di Yogyakarta, Vero masih menganggur. Tak ada satu pinangan pekerjaan yang menghampirinya. Tapi pada suatu ketika, ia tiba-tiba menerima telepon dari asisten rumah tangga Jose Christopher Camello, kenalannya di Jakarta. Kata ART itu, majikannya, menawarkan pekerjaan untuk Vero di ibukota.

Vero mengenal Christopher dan istrinya, Liz. Pasangan asal Filipina itu adalah salah satu penghuni apartemen, di tempatnya bekerja dulu. Kebetulan, Vero jugalah yang menangani langsung kebutuhan dan keluhan mereka terkait tempat tinggal. Hubungan mereka kian dekat, setelah Liz Christopher mengetahui Vero beragama Katolik.

Kata Vero, di apartemen itu, dialah satu-satunya karyawan yang beragama Katolik. “Saya sering diajak makan bersama mereka. Saat Jumat Pertama, saya juga kerap diajak Misa bersama mereka,” akunya.

Begitu tiba di Jakarta dan bertemu Liz, Vero terkejut. Ternyata, lowongan pekerjaan untuknya bukan di tempat Christopher. Semula Vero mengira, ia bakal bekerja di perusahaan asal Belanda yang memproduksi makanan, minuman, pembersih, dan perawatan tubuh; juga bukan di perusahaan penghasil farmasi, suplemen, nutrisi, dan layanan kesehatan.

Kata Liz, seperti yang diungkapkan Vero, parokinya membutuhkan tenaga kesekretariatan. “Kamu bekerja di gereja, di sekretariat paroki,” ujar Liz, seperti dikutip Vero. “Jika kamu mau, silakan masukan lamaran ke dewan paroki,” lanjutnya.

Anehnya, Vero justru menuruti saran Liz. Ia menulis surat lamaran dan riwayat hidup, serta mengirimkan berkas-berkas itu kepada dewan paroki. Selang seminggu, ia dipanggil dan diwawancarai oleh dewan paroki harian, termasuk Kepala Paroki, Romo B. Bambang Triatmoko SJ. “Kamu mantap dengan pilihanmu ini? Di sini tak ada jenjang karier lho,” tantang Romo Moko, seperti yang dikisahkan Vero. “Saya akan coba dulu, Romo,” imbuhnya.

Vero mengakui, meski sejak kecil aktif di paroki, tapi sama sekali tak ada di dalam benaknya suatu hari bakal bekerja di gereja. Motivasinya saat itu masih amat dangkal, ia ingin mengetahui seluk-beluk dan biaya pernikahan dalam Katolik. Vero berpikir, dengan bekerja di paroki, ia bisa mengetahui informasi detail tentang itu.

Mencintai Pekerjaan
Bangunan motivasi yang rapuh, gampang rubuh jika tak segera direnovasi. Analogi itu rupanya dirasakan oleh Vero. Baru setahun menjadi karyawan paroki, Vero berniat mencari pekerjaan baru. Rindu dengan sang ibu yang sendirian di Yogyakarta, menjadi salah satu pemicunya.

Vero lantas mengirim lamaran kepada salah satu developer. Perusahaan itu kebetulan lagi membutuhkan tenaga tambahan untuk ditempatkan di Yogyakarta. Vero yakin lamarannya bakal diterima, sebab ia pernah bekerja di grup perusahaan itu. Keyakinan Vero terwujud. Perusahaan itu merekrutnya. Tapi, ia justru berat meninggalkan paroki.

Vero mengabaikan peluang karier baru itu, dan tetap bekerja di paroki. Vero
mengakui, hatinya telah tertambat di sekretariat paroki. Karena itu, ia sulit berpaling hati ke tempat lain, meski ia sadar, di sana lebih menjanjikan soal pendapatan dan masa depan kariernya.

Ihwal rencana kepindahan Vero, Romo Moko dan dewan paroki sempat mengetahuinya. Suatu hari, ada seorang anggota dewan paroki memanggil Vero. Tak dinyana, ia menambah gaji dan membayar penuh premi ansuransi kesehatan Vero tiap bulan. Perhatian paroki justru semakin membuatnya berat meninggalkan pekerjaan yang sedang ditekuninya. “Yang utama karena saya sudah mencintai pekerjaan ini,” tandas Vero.

Rupanya, Vero tak hanya mahir berbahasa Inggris dan Jepang. Ia juga mengantongi sertifikat profesi meeting incentive convention and exhibition (MICE). Sertifikat itu ia dapat ketika bekerja di pusat pertunjukan Jakarta di Kemayoran, Jakarta Pusat. Ia sempat dilirik oleh perusahaan penyelenggara event karena memiliki “kertas sakti” itu. Tapi Vero menolak.

Di Paroki Expatriate, selain menangani urusan kesekretariatan, Vero juga membantu koster dan seksi liturgi, seperti mendampingi gladi bersih Misa Pernikahan, menyiapkan peralatan dan perlengkapan Misa, serta mengoperasikan proyektor. Kadang kala ia juga melayani konsultasi umat yang hendak mempersiapkan penerimaan Sakramen.

Demi memberi layanan prima kepada umat, Vero terus mengasah pengetahuannya tentang kekatolikan serta ajaran Gereja. Ini menjadi tantangan sekaligus kesempatan memperkaya khazanah dirinya. “Di sini bisa membangun iman dan pengetahuan kekatolikan buat saya,” terang Vero.

Vero bahagia bekerja di Paroki, selain mendapat gaji, ia bisa memupuk hidup
rohaninya. Lokasi gereja amat dekat, bila ingin Misa atau berdoa, ia tinggal melangkah. Di sini, ia bisa melayani umat dan Tuhan yang ia sembah. “Jika saya sudah bisa melayani Tuhan, mengapa saya harus mencari lain?” tanyanya, retoris.

Tak Malu
Seperti jodoh, perjalanan Vero menjadi pegawai sekretariat paroki adalah misteri baginya. Siapa sangka, anak seorang mantan pegawai pajak, mahir berbahasa Inggris dan Jepang, serta mengantongi gelar magister, justru menjadikan ruang sekretariat paroki menjadi labuhan hati dan profesinya.

Vero sejak awal tak pernah malu mengakui pekerjaanya. Lagi pula apa yang harus dipermalukan, katanya, dari pekerjaan ini ia bisa mencukupi kebutuhan pribadi, mengirim untuk ibunya, membantu orang lain, melayani umat, serta Tuhan. Bukankah semua itu yang ingin dicapai setiap orang? Vero sudah mendapatkannya, meski hanya sebagai karyawan paroki yang bergelar tinggi.

Yanuari Marwanto

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*