Artikel Terbaru

Martir Termuda Uganda Ini Tewas Dibakar Bersama 30 Orang Katolik yang Setia Pada Kristus

Tugu peringatan St Kizito bersama para martir Uganda.
[sanctuarymartyrouganda.net]
Martir Termuda Uganda Ini Tewas Dibakar Bersama 30 Orang Katolik yang Setia Pada Kristus
4.8 (95%) 4 votes

HIDUPKATOLIK.com – Ia wafat sebagai martir pada usia 14 tahun. Kendati demikian, kesaksian hidupnya terus mengakar pada umat Katolik di Uganda hingga hari ini.

Menjelang eksekusi mati, tangan, kaki, dan leher Kizito diikat rantai. Ia bersama 30 umat Katolik Uganda, Afrika Timur, dipaksa tidur di atas dipan dengan beralas jerami kering. Mereka cukup lama berbaring di atas dipan itu
tanpa makan dan minum. Selama itu, pasukan kerajaan menjaga mereka dengan ketat.

Meski kaki, tangan, dan leher mereka saling terikat, Kizito setia menguatkan hati saudara-saudaranya. Dorongan yang membawa sukacita terlihat di wajah
mereka. Saat itulah, mereka bernazar untuk mati bersama. Di bawah terik matahari Uganda, mereka terus berdoa dan bernyanyi. Hati dan jiwa mereka dipenuhi kebahagiaan karena tak lama lagi, pintu surga akan terbuka bagi mereka. Prajurit Raja Mwanga membakar mereka hidup-hidup. Dan, mereka pun wafat dilahap api.

Di Uganda, Kizito dikenang sebagai pelindung anak-anak desa. Relatif banyak
sekolah, paroki-paroki, lembaga karitas dan nama anak yang baru lahir diberi nama Kizito. Ia menjadi martir termuda yang wafat saat misi Gereja mulai berkembang di Uganda.

Anak Adopsi
Orangtua Kizito adalah penyembah berhala. Sejak kecil, Kizito sudah diperkenalkan pada allah-allah yang ada di Uganda. Kizito lahir tahun 1872, di desa Waluleeta, Bulemeezi, wilayah Buganda, Uganda.

Kizito berasal dari perkawinan keluarga berbeda klan. Sang ayah Lukomera dari Klan Mamba dan ibunya Wangabira dari Klan Fumbe. Dua klan ini adalah klan yang sangat mempertahankan tradisi dan adat istiadat leluhur. Bahkan dua klan ini dipercaya tidak bisa bersatu. Tidak mungkin bagi perempuan dari Klan Fumbe menikah dengan laki-laki dari Klan Mamba; pun begitu sebaliknya.

Perbedaan klan orangtua Kizito ini pun bermasalah. Lukomera dan Wangabira tak bisa hidup bersama. Apalagi, sembilan anak yang lahir dari rahim Wangabira meninggal berturut-turut. Kejadian ini dipercaya sebagai kutukan atas kesalahan mereka.

Maka ketika Kizito lahir dengan sehat, ia pun menjadi kebanggaan orangtuanya. Ia tumbuh menjadi anak manis dan tak pernah menentang perintah orangtua. Bahkan meski masih belia, ia sudah menunjukkan kebijaksanaan hidup layaknya orang dewasa.

Tahun 1874, Kepala Suku Bulemeezi, Nyika tidak mendapat dukungan dari masyarakatnya. Nyika adalah putra Kiggwe dari Klan Leopard. Oleh karena itu, Nyika diturunkan statusnya sebagai kepala sebuah klan kecil, Kajongolo. Saat itu, Nyika belum memiliki anak, meskipun sudah menikah cukup lama. Ia pun berniat mengadopsi seorang anak. Awalnya, Nyika menginginkan Nsubuga (yang kelak dibaptis Katolik dengan nama Michael), tapi Lukomera memintanya untuk mengambil Kizito. Dan, terjadilah demikian.

Boleh dikata, karier Nyika meroket. Tahun 1884, Nyika ditunjuk oleh Raja Mutesa sebagai panglima kerajaan untuk mengawal putranya, Pangeran Danieri Basammula-Ekkere Mwanga II Mukasa (1868-1903). Pada saat menjadi panglima kerajaan, Nyika pelan-pelan mulai bersentuhan dengan kekristenan. Raja Mutesa sendiri sebenarnya menolak kehadiran para misionaris, tetapi Nyika merasakan ada yang berbeda dengan ajaran baru dari Barat itu.

Nyika pun diam-diam mempelajari agama Kristen dan mulai dekat dengan para misionaris. Rasa cinta yang semakin dalam kepada Kristus dan Injil mendorongnya untuk menanggalkan jabatan panglima kerajaan dan menjadi Kristen. Keputusan itu kemudian diikuti semua pengikutnya, termasuk putra angkatnya, Kizito.

Raja Pedofilia
Kizito lambat laun tumbuh menjadi anak yang memiliki keinginan besar untuk belajar tentang kekristenan. Semangat hidup dan kesalehan hidupnya membuatnya selalu lekat di hati Nyika. Kendati saat itu banyak katekis awam yang dibunuh oleh sang raja, Kizito terus membantu para misionaris untuk membaptis masyarakat Uganda, yang ingin masuk Katolik. Bahkan kematian Joseph Mukaza (1860-1885), martir Uganda yang dibunuh, tak menciutkan nyali bocah 12 tahun ini. Ia bahkan ikut bersama Pater Siméon Lourdel melayani umat. Dalam pelayanannya, simpatisan muda ini selalu tampak bersemangat.

Melihat keuletan Kizito, Pater Lourdel berjanji akan membaptisnya. Berita ini
menjadi berita gembira bagi Kizito. Ia lebih bersemangat lagi bahkan tak gentar dan mulai terang-terangan bercerita tentang agama Kristen kepada anak-anak seusianya. Ia tak takut mengakui dirinya sebagai Kristen. Kegigihannya sebagai pewarta kerap membuat anak-anak memanggilnya “malaikat hitam”.

Suatu saat ketika bermisi di Namugongo (kini masuk wilayah Keuskupan Agung Kampala, Uganda), Kizito menolak untuk pergi meski banyak prajurit kerajaan berpatroli. Ia menunggu janji Pater Lourdel yang mau membaptisnya. Janji ini tertunda karena prajurit Raja Mwanga II keburu menangkap Pater Lourdel.

Saat penangkapan itu, Kizito sempat disembunyikan dengan kain gorden, tetapi toh ditemukan juga. Sedikitnya 30 pemuda Kristen digelandang ke kerajaan, termasuk Kizito.

Di kerajaan, Kizito menjadi kesayangan raja. Apalagi perawakannya manis dan suka bernyanyi, membuat raja yang terkenal pedofilia ini selalu mencari kesempatan untuk menikmati tubuh Kizito. Namun, Kizito mengetahui cara untuk keluar dari sergapan raja lalim ini. Berkat nasihat Charles Lwanga, Kizito bisa bebas dari kesenangan biadab Raja Mwanga. Hal ini membuat raja berniat membunuh Kizito.

Baptisan Mendadak
Pada 24 Mei 1886, Raja menyuruh Kizito menyiapkan kano (perahu) untuk digunakan Raja Mwanga berburu kuda nil. Saat itu, raja ingin melampiaskan hasratnya, tapi lagi-lagi Kizito mengetahui maksud raja dan bisa membebaskan diri. Raja lalu menyuruh membawa semua tahanan dan dihukum mati. Malam itu juga, Kizito dibaptis secara tergesa-gesa oleh Charles Lwanga bersama empat katekumen lainnya, yaitu Denis Ssebuggwawo, Honoratus Nyonyintono, Majordomo, dan James Buzabalyawo.

Keesokan harinya, 25 Mei, semua tahanan diarak ke pelataran istana untuk diadili. “Jika kita harus mati demi Yesus, kita akan mati bersama bergandengan tangan,” teriak Charles menyemangati mereka. Mereka dijatuhi hukuman mati oleh Raja Mwanga dengan cara dibakar. Kedua tangan mereka diikat bersama-sama dengan rantai di leher yang saling menyilang. Mereka kemudian ditidurkan di atas dipan di pelataran istana yang sudah dialasi jerami selama sebulan.

Pater Lourdel saat itu menyaksikan penyiksaan terhadap Kizito dan saudara-saudaranya. “Kizito seperti menertawakan situasi aneh tersebut. Ia terlihat bahagia. Di atas pelataran itu, ia seperti bermain dengan kawan-kawannya. Ketika api menyulut, mereka saling berdoa dan bernyanyi dengan sukacita. Para tentara kerajaan merasa takjub atas iman 30 pemuda Kristen tersebut,” kisah Pater Lourdel.

Kizito wafat sebagai martir pada usia 14 tahun di Namugongo, 3 Juni 1886. “Selamat tinggal teman, kita sedang dalam perjalanan,” kata-kata terakhir Kizito sebelum tubuhnya hangus oleh ganasnya api. Setelah Kizito wafat, sang ayah, Lukomera menjadi Katolik bersama seluruh keluarganya.

Karena kemartirannya, Kizito dibeatifikasi tahun 1920 oleh Paus Benediktus XV (1854-1922). Kemudian pada 18 Oktober 1964, Beato Kizito dikanonisasi oleh Paus Paulus VI (1897-1978). Di Namugongo, didirikan sebuah Basilika untuk mengenang para martir Uganda, termasuk Kizito. Ia diperingati tiap 3 Juni. St Kizito dikenang sebagai pelindung anak-anak desa miskin di Uganda.

Yusti H. Wuarmanuk

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*