Artikel Terbaru

Perang Hoax dan Ujaran Kebencian di Medsos Merajalela

Seorang remaja berswa foto dengan Paus Fransiskus menggunakan telepon pintar.
[The Indepedent]
Perang Hoax dan Ujaran Kebencian di Medsos Merajalela
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Jagad medsos dan komunikasi kita sedang gaduh. Berita bohong dan menjelekkan sesama melebur jadi satu. Mana yang kita percaya?

Yani Surjadi gusar membaca sebuah pesan masuk di grup WhatsApp (WA) Lingkungannya. Pesan itu terkait keputusan penahanan Gubernur DKI Jakarta non aktif, Basuki “Ahok” Tjahaja Purnama. Pesan itu terkait biang kerok dan dalang dibalik peristiwa penahanan Ahok. Isinya sangatkonspiratif, sulit sekali dibuktikan, sumber anonim atau tidak menyebutkan asal-muasal informasi sama sekali, menyinggung beberapa nama tokoh nasional dan pemerintah, serta sangat provokatif dengan mengajak melakukan aksi secara all out.

Yani segera membalas pesan dari umat lanjut usia di sebuah paroki di Dekanat Bekasi itu. Ia meminta si pengirim pesan agar berhenti menyebarkan pesan provokatif. Yani khawatir, pesan itu bisa kian memperkeruh situasi di ibukota negara ini. “Jangan sampai kita diprovokasi untuk bertindak seperti yang ‘mereka’ inginkan,” tulisnya.

Kejadian ini bukan kali pertama. Beberapa hari sebelumnya, pengirim yang sama membagi pesan yang dicomotnya dari grup lain. Konon, isi pesan itu berisi surat Ahok yang ditulisnya dari dalam Rumah Tahanan Cipinang. Belakangan pengirim mengklarifikasi, pesannya itu ternyata hoax. Tapi, anggota grup terlanjur mencecap kabar bohong itu, mungkin juga sudah ada yang membagikan ke tempat lain.

Sangat Buruk
Potrem buram linimasa media sosial (medsos) dan komunikasi seperti yang terjadi di grup Lingkungan di sebuah paroki di Bekasi itu, juga dialami oleh komunitas Katolik di tempat lain, misal Kristina Rinawati, anggota Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) Keuskupan Agung Palembang.

Kata Rina, informasi negatif, mulai dari menebar kebencian terhadap golongan tertentu, gerakan radikal, hingga upaya disintegrasi bangsa, mulai mendominasi atmosfer medsos dan komunikasi massa di Indonesia saat ini. Parahnya, sebagian kolega di sejumlah grup WA dan Line yang diikutinya, rentan salin-tempel informasi, dan membagikan ke grup lain yang mereka ikuti, tanpa membaca, atau jika membaca, tak memastikan validitas berita yang dikonsumsinya.

Kesan senada juga dirasakan oleh Izak Jenie, anggota Tim Litbang Paroki St Theresia Menteng, Keuskupan Agung Jakarta. Menurut Izak, penggunaan medsos belakangan ini menurun, dari yang buruk menjadi sangat buruk. “Orang Indonesia amat mudah disentil dengan isu-isu sensitif,” ujarnya.

Padahal, imbuh pria kelahiran Bogor, Jawa Barat ini, rakyat Indonesia dulu terkenal dengan semangat gotong-royong dalam mengurai masalah. Tapi dengan maraknya penggunaan medsos, persoalan sederhana gampang digiring menjadi besar. Indonesia, menurutnya, butuh segera menyajikan muara sumber informasi yang kredibel.

Sejumlah kelompok ada yang sudah berkampanye untuk melawan berita hoax yang berdampak disintegrasi bangsa, dengan menyuguhkan informasi yang valid dan positif. Tak hanya negara, Gereja pun tak imun dari terpaan kabar hoax. Karena itu, paroki bisa membuat, memperbaiki, dan meng-update laman masing-masing. Di laman itu, paroki bisa memuat sumber berita kredibel tentang dirinya atau keuskupan.

Izak juga mengajak umat agar jangan latah menyebarkan berita dari sumber anonim. Jangan mudah terjebak dengan headline bombastis, serta membagikan informasi yang mendiskreditkan pihak lain. “Dengan menjelekkan pihak lain, bukan berarti kita ini bagus,” ujarnya.

Harus Proaktif
Umat yang masuk dalam grup medsos dan media komunikasi lain, tambah Izak, juga harus proaktif memberikan rambu-rambu kepada penghuni grup bila membagikan berita, misal informasi itu memuat sumber jelas. Jika tak mengindahkan, katanya, tegur dan marahi. “Kita punya hak terhadap linimasa dan grup WA kita. Jangan sampai mereka mengotori dengan berita-berita tak jelas!”

WA dan berbagai medsos serta komunikasi massa, bagi Ketua Komsos Keuskupan Banjarmasin, Romo Ignatius Allparis Freeanggono, bagai busur yang sanggup melesakkan anak panah informasi begitu cepat kepada banyak orang. Idealnya, medsos dan komunikasi dalam bahasa religius digunakan sebagai sarana pewartaan Kabar Baik.

Menurut Romo Allparis, mewartakan Kabar Gembira bukan berarti di dunia ini tak ada penderitaan dan kesedihan. Situasi tak mengenakkan itu pasti terjadi, tapi justru di situlah tantangan yang bisa menjadi parameter kualitas iman dan diri seseorang. “Kualitas kita akan tercermin dari postingan-postingan dan kalimat yang kita share.”

Maksudnya, lanjut Kepala Paroki Hati Yesus yang Mahakudus itu, bila melihat konflik berlatar SARA atau menyaksikan perlakuan tak adil, serta mendengar ujaran kebencian, tapi justru membalas perlakuan itu dengan aksi serupa, tak ada suatu nilai yang lebih bagi seorang yang mengaku beriman Katolik.

Karena itu, tandas Ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kemasyarakatan, serta Kerasulan Awam ini, medsos dan komunikasi tak sekadar mewartakan suatu hal yang diketahui atau diterima, tapi panggilan untuk mengubah hati, cara berpikir sebagai orang Katolik yang benar, dan menjadi bagian masyarakat serta warga negara yang baik.

Nalar dan Nurani
Paus Fransiskus, dalam pesannya pada Hari Komsos Sedunia ke-51, mengingatkan manusia, seolah-olah secara khusus di Indonesia, tentang kemajuan teknologi komunikasi. Berkat kemajuan teknologi, kata Bapa Suci, banyak orang mudah dan cepat menghasilkan serta menyebarkan berita secara massif.

Nurani manusia memainkan peran penting, ujar Paus asal Argentina itu. Nurani akan mewarnai dan menentukan informasi yang diproduksi oleh pikiran manusia, kemudian membagikan berita itu melalui medsos dan komunikasi kepada sesamanya. Maka, saat linimasa medsos dan komunikasi yang sedang gaduh ini, kita butuh nalar dan nurani sebelum membuat dan membagikan informasi.

Ungkapan kita adalah apa yang kita makan. Tapi kini, pada situasi perkembangan teknologi komunikasi, hal itu telah berubah menjadi: kita adalah apa yang kita posting atau share. Hati-hati, jarimu adalah harimaumu!

Yanuari Marwanto

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*