Artikel Terbaru

Menangkis Tsunami Informasi yang Meresahkan

[dreamstime.com]
Menangkis Tsunami Informasi yang Meresahkan
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Kemajuan medsos membuat dunia dilanda tsunami informasi, yang bisa menjadi sebab keretakan dan pesimisme. Pelbagai komunitas mengajak untuk menggunakan medsos sebagai perekat dan harapan kebaikan.

Berita buruk adalah kabar baik. Penggiat jurnalisme tak asing dengan ungkapan yang muncul di Amerika Serikat itu. Inilah panduan yang didasarkan pada asumsi bahwa pembaca merasa lebih terlibat dengan kejadian tragis yang menciptakan respons emosional. Tapi ketika narasi realitas disamakan dengan dinamika kenegatifan, yang menganggap bahwa kabar baik tidak laku, sementara tragedi penderitaan manusia dan misteri kejahatan dengan mudah berubah menjadi hiburan, selalu ada godaan bahwa hati nurani bisa menjadi tumpul dan tergelincir dalam keputusasaan.

Sorotan itu disampaikan Paus Fransiskus dalam pesan untuk Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-51 yang bertema, “Jangan Takut, Aku Besertamu: Komunikasikan Harapan dan Iman” (Yes 43:5). Melalui tema ini, Bapa Suci mengundang umat manusia memutus lingkaran setan kegelisahan dan membendung spiral ketakutan yang lahir dari fokus pada berita buruk, seperti perang, terorisme, skandal, dan segala macam kegagalan manusia.

Sejukkan Suasana
Menyambut ajakan Paus, Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) mengadakan Pekan Komunikasi Sosial Nasional (PKSN) di Purwokerto. Pelbagai kegiatan, seperti seminar hingga literasi media, mengisi PKSN yang berlangsung pada Senin-Minggu, 22-28/5.

Romo Kamilus Pantus, Sekretaris Komisi Komsos KWI mengatakan, saat ini berbagai kabar buruk membuat masyarakat resah dan gelisah. Pesan Paus, lanjutnya, mesti dimaknai sebagai penyejuk suasana. Media sosial (medsos) ibarat ruang publik tanpa penjaga. Konsekuensinya, setiap pengguna internet bebas menikmati apa saja yang disajikan, entah baik, entah buruk. Karena itu, warganet mesti punya sensor internal, kemampuan dari dalam diri untuk memilah dan memilih yang terbaik.

Sensor internal dalam kacamata iman Kristiani dipahami sebagai suara hati.
Problemnya, tak semua orang punya kepekaan menggunakan sensor internal. Pembentukan kepekaan suara hati perlu dibina terus-menerus melalui literasi media.

Tema tahun ini, kata Romo Kamilus, mengajak semua orang beriman melihat bagaimana cara Tuhan bekerja kepada manusia; Allah yang ada bersama manusia. Dia aktif hadir menolong manusia agar berani menyampaikan harapan dan iman pada sesama dalam segala situasi.

Senada dengan itu, Pendeta Henriette T. Hutabarat Lebang mengatakan, medsos mestinya menjadi sarana menabur benih damai dan persaudaraan di antara umat beragama dan masyarakat. Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) menekankan pentingnya kesadaran untuk saling menghargai. Sikap dan kata-kata yang tidak saling menghargai, khususnya di medsos, menjadi bahan bakar pemecah persatuan dan persaudaraan, serta menimbulkan luka bangsa. “Luka-luka ini harus disembuhkan karena bisa menjadi bibit-bibit konflik di antara masyarakat. Di PGI, kita ada literasi media, misalnya melalui seminar-seminar dan workshop.”

Komunikasi Kebhinekaan
Tak hanya Gereja yang tanggap terhadap bahaya medsos. Maarif Institute (MI), selama dua tahun terakhir memfasilitasi pelatihan literasi media dan jurnalisme kebhinekaan di kalangan pelajar SMU dan SMK. Pelatihan diadakan di lima kota, Jakarta, Yogyakarta, Bandung, Semarang, dan Surabaya, dengan melibatkan 250 peserta tiap kota.

Kata Muhammad Abdullah Darraz, Direktur Eksekutif MI, tujuan pelatihan ini pertama, membangun kesadaran kritis pelajar dalam menerima informasi di dunia maya. Kedua, membangun skill (kemampuan) pelajar dalam upaya melakukan kampanye konten positif di dunia maya, khususnya medsos. Ketiga, membangun jaringan pelajar content creators yang aktif berkampanye di dunia maya.

Abdullah mengatakan, zaman ini hidup dalam tsunami informasi. Informasi bisa berasal dari siapapun, dari manapun, dan kapanpun. Tak ada lagi dikotomi antara produsen dan konsumen informasi. Tsunami informasi ini menjadi soal karena membawa limbah sampai batas-batas tertentu, sehingga sulit untuk memilah antara air dan sampah.

Hal ini terlihat dalam penyelenggaraan Pilkada. Medsos menjadi kendaraan kampanye politik. Masyarakat Indonesia, lanjutnya, sudah terbiasa dengan pilihan politik yang berbeda. Di era medsos, semua berubah manakala berita hoax dan fitnah tersebar, membuat emosi dan fanatisme politik terhadap seorang calon begitu menguat. “Bahkan, itu bisa terjadi di ruang komunitas terkecil di lingkungan kita, yakni keluarga dan ikatan persaudaraan. Karena beda pilihan politik, akhirnya ikatan persaudaraan menjadi putus atau bahkan ikatan suami-istri terbelah,” jelas Abdullah.

Senada dengan Abdullah, Alissa Wahid menilai, kaum muda Indonesia perlu literasi media. Menjadi pengguna yang baik berarti menarik manfaat dari medsos, paham mana informasi yang bisa dipercaya. Warganet juga memberikan kontribusi kepada warganet lain, dengan aktif memproduksi konten kreatif di medsos.

Alissa saat ini mengkoordinasi Jaringan Gusdurian, yang digerakkan murid-murid Gus Dur dari berbagai daerah. Kini, Jaringan Gusdurian aktif di 83 kota. Sementara Gusdurian tersebar di 120 kota lebih. “Akun medsos Gusdurian termasuk akun gerakan sosial yang paling aktif dan berpengaruh. Kami punya 95 ribu follower di twitter dan 200 ribu di facebook. Konten kampanye kami sudah menembus lebih dari satu juta orang yang terpapar.”

Untuk Indonesia
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Said Aqil Siroj menilai, medsos bagai pisau bermata dua: bisa positif, bisa negatif. Warganet, lanjutnya, mesti arif menggunakan medsos. “Kita menggunakan medsos, diisi dengan pencerahan yang bisa meningkatkan martabat bangsa ini menjadi cerdas, beradab, berakhlak; itu baik sekali. Tapi kalau medsos untuk mengadu domba, hoax, dan fitnah, itu salah, bahaya!” tegasnya saat ditemui di kantor PBNU, pekan lalu.

Said Aqil menilai, akhlak saat ini telah memudar dari kehidupan sosial. “Yang
muncul adu domba, hoax, tidak menghormati perbedaan. Padahal Rasulullah Nabi Muhammad SAW sendiri menghormati perbedaan, menegakkan keadilan; tidak pandang bulu.”

Dulu, penduduk Madinah ada Muslim serta non Muslim, Nasrani dan Yahudi.
Muslim pun ada migran dan pribumi. Tapi, semua diperlakukan sama di mata hukum, pelayanan, hak dan kewajiban. Khotbah Rasulullah ini selalu dibaca dalam khotbah setiap Jumatan, bahwa tidak boleh ada permusuhan, kecuali kepada yang melanggar hukum, seperti teroris, koruptor, pembunuh, perampok, bandar narkoba dan bandar judi. “Bukan karena perbedaan agama, warna kulit, bahasa, budaya yang menjadi permusuhan; itu salah. Tuhan yang menciptakan semua,” kata Said Aqil merujuk pada menjamurnya konten primordialisme di jagad medos.

Sementara Ulil Abshar Abdalla mengajak masyarakat, khususnya kaum muda, untuk mengingat jati diri sebagai putra dan masa depan bangsa Indonesia. Untuk itu, Ulil menekankan pentingnya semua pihak mengadakan pendidikan penggunaan medsos dengan cerdas. Anak muda mesti menyadari jebakan-jebakan dalam medsos, misal fitnah dan hoax.

Fakta sosial yang belakangan ini panas, kata tokoh Jaringan Islam Liberal (JIL) ini, sangatlah mengerikan karena mengancam retaknya sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Kelompok agama apapun perlu membuat gerakan untuk menyebarkan nada yang positif, damai, dan bersaudara. Para tokoh bangsa dan sosok yang berpengaruh harus berperan penting dalam kampanye konten positif di jagad medsos. “Tak ada cara lain melawan pesan negatif, selain dengan pesan positif. Kejahatan dibalas dengan kebaikan dan cinta kasih. Kita gunakan medsos untuk menyebarkan berita kebaikan.”

Edward Wirawan
Laporan: Karin Chrisyantia, Maria Pertiwi

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*