Artikel Terbaru

Anda Menyebar Hoax Berarti Kesadaran Anda Kacau

Maria Puspitasari.
[NN/Dok.HIDUP]
Anda Menyebar Hoax Berarti Kesadaran Anda Kacau
4 (80%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.com – Hoax hingga saat ini menjadi bahan pembicaraan yang menarik, terutama dikaitkan dengan situasi carutmarut politik. Situasinya kian memanas belakangan ini dan merembet pada meningkatnya potensi konflik akibat pecahnya masyarakat dalam polarisasi sikap politik dan kebangsaan. Dewasa ini pula, orang mulai pelan-pelan masuk dalam sebuah kesadaran baru, bahwa informasi yang beredar dalam ruang publik tidak selalu merupakan informasi yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan. Walaupun harus diakui, kesadaran orang yang mulai tumbuh perlahan tidak mampu berhadapan dengan ketidaksadaran sejumlah orang pada fakta bahwa hoax selalu saja muncul di tengah-tengah kita. Mengapa? Karena hoax yang sebelumnya bersifat sederhana, hanya memanfaatkan ketidakpahaman individu tentang satu isu, semakin hari menampakkan sisi kecanggihannya. Kecanggihan yang luar biasa ini melibatkan pihak-pihak yang memiliki kemampuan untuk merekayasa dan memanipulasi informasi dengan memanfaatkan teknologi digital dan basis data normatif.

Beberapa bentuk manipulasi di antaranya, pertama adalah memanfaatkan data yang bersumber dari lembaga-lembaga formal sehingga memberi kesan bahwa data tersebut sahih (valid), yang ditambahi analisis berbasis teori konspirasi sehingga memberi kesan benar.

Kedua adalah memanfaatkan fakta empiris yang muncul tentang keberadaan tenaga kerja asing yang kemudian diperbesar angkanya. Ketiga, dengan memanfaatkan pemuka pendapat (opinion leader), baik mereka yang memiliki kredibilitas secara intelektual dan keagamaan maupun karena memiliki jaringan kuat dalam media sosial.

Bentuk itu masih ditambah lagi dengan kemampuan reka digital, baik dalam bentuk foto maupun video yang disebarkan melalui media konvensional, seperti televisi dan surat kabar serta media konvergen seperti youtube dan media online.

Buka Tabir Kerapuhan
Dari segi konten, hoax tentu menggiring pendapat masyarakat pada konsep berbangsa yang keliru. Akan tetapi, apakah betul bahwa hoax merupakan penyebab dari tumbuhnya konsep berbangsa dan bernegara yang keliru? Atau jangan-jangan hoax itu dapat bertumbuh subur di tengah masyarakat kita justru karena fondasi berbangsa dan bernegara itu sudah lemah sejak awalnya, dan hoax itu hanya merupakan semacam pemicu yang menyadarkan kita akan rapuhnya fondasi kehidupan berbangsa di antara kita.

Dalam beberapa kasus, menyebarluasnya sebuah hoax pada satu atau dua kelompok tertentu terlihat lebih dikarenakan terdapat kesesuaian antara nilai yang dipercayai individu dalam suatu kelompok ini dengan isi informasi dalam berita hoax tersebut. Sejauh berita hoax tadi tidak berkesesuaian dengan nilai yang dipercayainya, maka berita hoax tidak akan dishare, melainkan didiamkan saja.

Melihat maraknya distribusi hoax, patut diduga karena informasi hoax tersebut menyampaikan hal-hal yang menjadi bagian dari kepeduliannya, bagian dari nilai yang selama ini diam-diam dipercayainya. Persinggungan dengan masyarakat multikultur yang dihidupinya, barangkali berjalan tidak sesuai dengan harapannya (expectancy violation theory), sehingga memunculkan kekecewaan dan menguatnya stereotype yang tumbuh perlahan mengenai liyan (the other). Sakit hati yang muncul, luka lama atau trauma historis menjadi sumber tumbuhnya prasangka, yang mendorong orang dengan mudah memviralkan pesan-pesan yang berkesesuaian dengan nilai yang dipercayainya. Dikatakan oleh Paus Fransiskus bahwa “pikiran manusia seperti mesin penggiling; terserah si pekerja mau menggiling apa: entah gandum yang baik atau ilalang yang tidak berguna. Pikiran kita akan selalu ‘menggiling’.”

Stereotype yang negatif dan prasangka buruk pada yang lain, baik etnis, agama maupun kelompok lain menjadi bahan yang digiling bersama-sama dengan hoax yang berkeliaran di media sosial. Ini menjadi indikasi bahwa prasangka tersebut diam-diam sudah melekat dalam struktur kesadaran sebagian masyarakat Indonesia. Prasangka yang diam-diam melekat ini menunjukkan adanya kerapuhan sosio-kultural pada kehidupan berbangsa dalam masyarakat Indonesia. Paus Fransiskus bahkan mengatakan dalam Pesan Hari Komunikasi Sosial Sedunia tahun ini akan pentingnya menampik prasangka terhadap orang lain dan menggalakkan budaya perjumpaan.

Kesadaran Reflektif
Sampai pada titik ini, kita dapat merumuskan bahwa fenomena hoax dapat dibaca dalam tiga hal. Pertama, hoax sebagai sebentuk informasi yang bersifat menyesatkan karena di dalamnya terkandung muatan yang sepenuhnya tidak benar, atau mengandung sedikit kebenaran di dalamnya, yang dilekati dengan hal-hal yang dimanipulasi. Kedua, hoax adalah hoax sungguh diciptakan untuk mengelabui mereka yang membaca, bahkan bertujuan untuk memanaskan suasana atau memprovokasi masyarakat. Sebagai konsekuensinya, masyarakat menjadi terpecah belah akibat keberadaan hoax tersebut. Dan, hoax menjadi fenomenal dalam masyarakat berbasis teknologi informasi.

Hal ketiga adalah keterpecahan masyarakat akibat hoax memiliki basis empiris pada kerapuhan nilai berbangsa yang ada dalam struktur kesadaran dan mewujud dalam hubungan-hubungan sosial yang cenderung memelihara dan melanggengkan eksklusivitas dalam beberapa level dan ruang.

Terdapat dua kecenderungan yang muncul sebagai implikasi dari situasi masyarakat jaringan. Pertama, munculnya sikap mudah men-share informasi tanpa membaca dengan cermat isinya; dan kedua, kurangnya kemampuan dan kemauan untuk melihat dampak dari suatu posting pada masyarakat secara luas.

Sikap individu yang mudah men-share informasi hoax mengakibatkan mudahnya pihak-pihak tertentu untuk memecah belah warga. Sikap ini bersumber dari lemahnya kesadaran reflektif atau olah batin. Lemahnya kesadaran reflektif bersumber dari dua hal, yaitu kemampuan melek media dan kemampuan berpikir etis dalam konteks tanggung jawab sosial (James, 2014, p. 109-114). Kemampuan reflektif dipengaruhi oleh kemampuan membaca dengan cermat dan memahami dari segi nalar dan kemampuan berpikir etis dari tilik hati nurani. Kita tidak belajar mendengarkan, melainkan sibuk berkutat dalam analisis tanpa dasar data dan argumen yang sahih dan tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Paus Fransiskus menekankan urgensi untuk memutus lingkaran setan kecemasan dan spiral ketakutan yang timbul karena kita berfokus pada ‘berita buruk’, baik terorisme, skandal, maupun semua jenis kegagalan manusiawi. Paus mengajak kita untuk tidak menjadi penyebar informasi sesat yang mengabaikan tragedi penderitaan manusia, dan optimisme naif yang membutakan, agar setiap orang terlibat dalam membangun komunikasi yang konstruktif, menampik prasangka terhadap orang lain dan menggalakkan budaya perjumpaan.

Paus menegaskan dalam pesannya, bahwa kita semua harus terlibat aktif mengatasi perasaan kurang puas dan putus asa, yang nantinya berubah menjadi apatisme, ketakutan, ataupun pemikiran bahwa “kejahatan tidak punya batas”. Paus menghimbau kita: Mari menjadi “agen ‘Kabar Baik’ bagi dunia ini.”

Maria Puspitasari

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*