Artikel Terbaru

Apakah yang Dimaksud Tujuh Sabda Yesus adalah Wasiat Terakhir Yesus?

Apakah yang Dimaksud Tujuh Sabda Yesus adalah Wasiat Terakhir Yesus?
1 (20%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.com – Mengapa di beberapa paroki ibadat Tujuh Sabda Yesus di salib dirayakan pada Sabtu Suci pagi, bukan pada Jumat Suci? Kalau kata-kata terakhir Yesus dilihat sebagai kata petuah atau wasiat, apakah permenungan Tujuh Sabda sesudah wafat Yesus itu bisa dibenarkan? Bagaimana kalau Sabtu Suci pagi diisi dengan Ibadat Tujuh Dukacita Maria?

Roberta Rubiyanti, 082143194xxx

Pertama, pada umumnya Ibadat Tujuh Sabda Yesus di salib dirayakan pada siang hari dari Jumat Agung, sesudah ibadat Jalan Salib dan sebelum Perayaan Sengsara dan Wafat Yesus pada jam 15:00 atau sesudahnya. Jika mempertimbangan kronologi dan materi perenungan Tujuh Sabda Yesus di Salib, tidak ada pilihan waktu lain. Pelaksanaan yang demikian itu akan membuat kegiatan Jumat Suci pagi hari sangat padat, apalagi jika ibadat Jalan Salib dilakukan dengan peragaan. Hampir tidak ada waktu jeda antara atau kesempatan untuk mempersiapkan acara yang satu dan berikutnya. Mungkin kepadatan acara ini menjadi alasan untuk memindahkan waktu pelaksanaan ibadat Tujuh Sabda Yesus. Tetapi memindahkan waktu ibadat Tujuh Sabda Yesus di luar yang biasa tersebut, akan mengganggu urutan peristiwa dan menjadikan ibadat Tujuh Sabda itu sebuah anti-klimaks yang membingungkan.

Kedua, sangat mungkin kepadatan acara pada Jumat Suci menjadi alasan ibadat Tujuh Sabda Yesus dilakukan pada Sabtu Suci pagi. Pemindahan ini terasa kurang pas bahwa kita merenungkan kembali kata-kata Yesus di salib pada saat kita baru saja merayakan dan menyembah wafat Yesus di salib. Kiranya juga kurang cocok jika semua Tujuh Sabda Yesus di salib dilihat sebagai kata wasiat atau petuah, karena kata wasiat biasanya berbentuk nasihat atau petunjuk dari orang yang akan meninggal untuk orang-orang yang ditinggalkan. Jika demikian, fokus permenungan diarahkan kepada kita murid-murid-Nya, bukan untuk mengerti dan memperdalam penghayatan kita atas sengsara dan penderitaan Tuhan Yesus.

Pemindahan ibadat Tujuh Sabda Yesus ke hari Sabtu Suci juga sangat mengganggu tujuan dari Sabtu Sunyi untuk merenungkan wafat Yesus di salib dan menghayati suasana kehilangan, “suasana tanpa Yesus”. Suasana rohani umat yang sudah mencapai titik terendah kembali dibuat bergejolak oleh pergulatan Yesus di salib yang tercermin dalam kata-kata Yesus. Suasana ini pasti juga amat mengganggu persiapan untuk merayakan upacara cahaya pada Vigilia Paskah pada Sabtu malam. Seperti munculnya cahaya di tengah kegelapan, kejutan kebangkitan Tuhan akan semakin dirasakan jika umat menghayati “kehilangan” karena kematian Yesus di salib. Kesunyian hari Sabtu Suci terganggu oleh adanya Ibadat Tujuh Sabda pada pagi hari itu.

Ketiga, jika memang dimaksudkan mengisi “kekosongan acara” pada Sabtu Sunyi itu, sebaiknya yang diadakan bukanlah ibadat Tujuh Sabda Yesus di Salib, tetapi ibadat Tujuh Dukacita Maria (bdk. HIDUP No. 11, 13 Maret 2016). Fokusnya dipindahkan dari Jumat Suci ke Sabtu Sunyi. Ibadat Tujuh Dukacita Maria sangat membantu untuk menghayati Sabtu Sunyi sebab dalam menghayati dukacitanya yang sangat mendalam, Bunda Maria menjadi teladan dan motor untuk mencari kehendak Allah (Luk 2:19. 51). Bunda Maria merangkai kembali lembar-lembar sukacita dan dukacita bersama Yesus dan berusaha menemukan benang merah rencana Allah di tengah keadaan yang tak menentu dan menyedihkan itu. Keheningan menjadi satu ciri kuat Bunda Maria dalam menghadapi guncangan batin dan kebingungan. Keheningan batin memantapkan, menyelaraskan dan membuka keindahan dan kebenaran iman. Pikiran dijernihkan dan hati dilapangkan sehingga Bunda Maria dimampukan untuk menangkap dan memahami kebenaran Sabda Allah serta merasakan kemuliaan Allah. Jadi, melalui teladan dan bersama Bunda Maria, kita justru memperkaya permenungan tentang wafat Tuhan dan menyiapkan diri untuk perayaan kebangkitan Yesus.

Petrus Maria Handoko CM

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*