Artikel Terbaru

Mengapa Relasi Oedipus Complex Tidak Direkomendasikan Dalam Perkawinan?

Mengapa Relasi Oedipus Complex Tidak Direkomendasikan Dalam Perkawinan?
5 (100%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.com – Pengasuh budiman, saya mahasiswa semester enam, jatuh cinta dengan dosen perempuan di fakultas saya. Dia berparas manis, cerdas, mengajarnya asyik, dan dekat dengan mahasiswa. Apalagi dosen saya juga Katolik dan masih single. Hanya, usia kami terpaut jauh, 23 tahun. Memang, di kampus banyak perempuan, tapi saya justru tertarik dengan dosen itu. Apakah rasa yang saya alami ini normal? Salahkah saya jika berterus terang kepada dosen itu, bahwa saya jatuh cinta dengannya? Mohon saran dan terima kasih.

Antonius Hoffbauer, Jakarta

Antonius yang sedang jatuh cinta, sebelum menjawab pertanyaan Anda, mari kita menelaah beberapa hal. Pertama, seorang pria yang jatuh cinta kepada seorang wanita adalah normal, ini menunjukkan bahwa Anda seorang heteroseksual. Apalagi ia single dan seiman, tentu akan menambah kewajaran relasi ini. Di tambah beberapa ciri yang Anda sebutkan dapat dikatakan membuatnya makin ideal sebagai seorang calon pasangan.

Kedua, selisih usia 23 tahun antara Anda dan calon pasangan, perlu pertimbangan lebih serius. Ada dua alasan pokok, pertama dalam sebuah perkawinan sebaiknya pria lebih tua dari pada perempuan. Hal ini disebabkan perbedaan kemasakan emosi dan sosial. Perempuan lebih cepat masak secara emosional dan sosial, ketimbang pria.

Bila pria lebih tua daripada perempuan diharapkan mereka akan mempunyai kemasakan emosi dan sosial yang relatif setara, atau lebih baik lagi bila pria lebih masak secara emosi dan sosial. Pria memang diharapkan lebih masak daripada perempuan, karena yang akan memimpin keluarga. Hal ini terutama tampak dalam budaya patriakal. Bila terjadi sebaliknya, dominasi dalam menyelesaikan masalah berada di tangan wanita.

Kedua, perkembangan seksual antara pria dan perempuan juga berbeda. Aktivitas reproduksi perempuan lebih terbatas dibandingkan pria, karena perempuan mempunyai “usia emas” kehamilan dan akan mengalami menopause, dan sekaligus juga menentukan hasrat seksualnya.

“Masa emas” kehamilan dimulai ketika organ-organ reproduksi mencapai kemasakan dan kesiapan untuk menerima kehamilan hingga pertengahan usia 30-an. Sebelum atau selewat “usia emas” itu, kehamilan akan lebih berisiko bagi calon jabang bayi. Pada usia pertengahan 40-an, perempuan akan mengalami menopause.

Berhentinya haid perempuan tak hanya berpengaruh pada kemungkinan kehamilan saja, tapi juga berpengaruh pada hasrat seksual perempuan. Pada umumnya, setelah mengalami menopause, seorang perempuan akan kehilangan dorongan seksualnya, bahkan ada yang merasa kesakitan ketika melakukan hu bungan seksual.

Kondisi ini penting diperhatikan, karena dalam hukum perkawinan Gereja, sebuah perkawinan harus terbuka pada prokreasi. Oleh karena itu, kadang perkawinan yang dilakukan dengan seorang perempuan yang sudah menjelang (atau sudah) menopause mungkin takkan diijinkan oleh Romo yang melakukan pemeriksaan kanonik.

Selain itu, perbedaan usia yang jauh antara pria dan perempuan, dengan usia perempuan yang lebih tua, perlu pertimbangan yang lebih masak, karena akan berarti “masa aktif” seksual pasangan itu akan pendek. Perempuan sudah kehilangan hasrat seksual karena menopause, tetapi pria masih mempunyai dorongan tinggi. Hal ini akan berpotensi untuk menimbulkan keretakan di rumah tangga atau berpotensi menimbulkan perselingkuhan.

Perbedaan usia Anda dengan sang dosen juga mengindikasikan calon pasangan sebaya dengan ibu Anda sendiri. Dalam psikologi ini bisa mengindikasikan adanya oedipus complex. Pada awalnya, kompleks ini untuk menggambarkan seorang anak yang mencintai ibunya sendiri, sehingga kadang disertai kecemburuan kepada sang ayah.

Pada perkembangannya, kompleks ini tak hanya terjadi dalam relasi anak-ibu kandung, tapi juga bisa mengalami pengalihan (displacement), yaitu dialihkan kepada perempuan lain yang mempunyai karakteristik yang sama dengan ibu kandungnya. Kompleks semacam ini mengindikasikan adanya hubungan yang tak wajar antara anak ibu kandungnya. Semoga dengan jawaban ini, Anda bisa mengambil keputusan untuk menyampaikan perasaan kepada dosen Anda, atau mencari calon pasangan lain yang lebih cocok dengan Anda.

George Hardjanta

KOMENTAR ANDA:

1 Comment

  1. Pengasuh yang baik, saya seorang perempuan katolik (sudah baptis & krisma) yang sedang memepersiapkan pernikahan bersama dengan seorang pria kristen protestan (HKBP), kami berencana akan menikah di gereje HKBP karena kemauan keluarga pasangan saya, karena menurut peraturan di gereja HKBP jemaat yang menikah di gereja Katolik maka orang tuanya terkena sanksi dan dikucilkan oleh jemaatnya, Untuk alesan tersebut saya menyetujui untuk menikah di gereja kristen protestan tersebut (HKBP) tapi dengan syarat bahwa pasangan saya mau mengikuti persiapan program pernikahan (MRT) dan mengikuti penyelidikan kanonik dan mengajukan surat dispensasi ke keuskupan.
    Pasangan saya menyetujui syarat tersebut dan kami sudah melakukan semua tahapan tersebut dan hanya menunggu surat dispensasi dari keuskupan.
    Yang menjadi masalah dan pergumulan saya adalah setelah mengikuti semua ini saya tetap ingin menjadi katolik meskipun saya menikah di gereja kristen protestan dan suami saya juga seorang protestan.
    Tetapi pasangan saya bersikeras bahwa setelah menikah nantinya saya harus sejalan dengan dia dalam arti harus memeluk agama protestan.
    Bagaimana saran dari pembimbing? karena sewaktu penyidikan kanonik romo tidak terlalu membahas lebih mendalam, dan sayapun enggan membahas karena tidak kuasa menahan tangis saat bercerita dengan romo.
    Apakah jika saya tetap mempertahankan iman katolik saya dan tidak sejalan dengan suami saya nantinya akan menjadi batu sandungan untuk rumah tangga kami?
    Karena menurut saya pribadi hak memeluk agama tidak bisa dipaksakan, dan saya sendiri pun tidak mau berpindah agama hanya karena seseorang.
    Tetapi kekuatiran suami saya adalah jika kami tidak sejalan bagaimana dengan tanggapan keluarga dan masyarakat disekitar kami. Sehingga nantinya akan menjadi pemicu kerusakan rumah tangga kami.
    Padahal menurut saya pribadi tujuan kami mulia ingin membangun rumah tangga yang bahagia, sejahtera dan dikarunia anak seturut kehendak Tuhan.
    Saya mohon saran yang terbaik untuk pergumulan di dalam hati saya ini, sebelum saya melangkah ke tahapan selanjutnya.

    Terima Kasih

    Devita- Jakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*