Artikel Terbaru

Bukan Kacang yang Lupa Kulit

Fransiskus Ekol bersama keluarga.
[NN/Dok.Pribadi]
Bukan Kacang yang Lupa Kulit
5 (100%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.com – Kesusksesan ia yakini berkat campur tangan Tuhan. Berkah yang didapat, ia bagikan kepada sesama.

Toko milik Fransiskus Ekol sekitar 200 kilometer dari Pontianak, Kalimantan Barat. Meski demikian, bisa ratusan orang datang ke tempat itu saban hari. Keperluan para pengunjung beragam. Ada yang datang untuk berbelanja kebutuhan pokok, menjual getah dan padi, tapi ada juga yang datang atas undangan sang pemilik toko.

Mereka yang disebutkan terakhir itu adalah pastor, frater, bruder, dan suster.
Mereka datang tiap akhir bulan, atas permintaan tuan rumah. Lewat mereka, Ekol memberikan paket sembako untuk kebutuhan anggota komunitas pastoran atau biara masing-masing. Bila ada yang tak datang, ia mengirim paket itu lewat perantaraan warga atau karyawannya.

Menjelang Natal dan Paskah, ia mengutus anak-anaknya ke biara dan gereja. Dari mereka, Ekol medapat informasi soal kebutuhan biara atau gereja. Ia pun sigap mengulurkan tangan. Tiga tahun lalu, ia menyumbang 2000 ribu sak semen dan ratusan kaleng cat untuk pembangunan Gereja Stasi Magaro, Sompak, Sadok, Dago, Kabupaten Landak dan sebuah biara bruderan Tarekat Missionarii Sanctorum Apostolorum. Ekol pun mendatangkan 60 bangku untuk Gereja Stasi Emang. Mengapa Ekol begitu jor-joran membantu Gereja?

Gara-Gara Judi
Pria kelahiran Kampong Sadok, 17 Maret 1967 tersenyum, mengenang perjalanannya merintis usaha. Keluarga Ekol sebetulnya berasal dari golongan berada. Tapi seluruh kekayaan itu terenggut karena kakeknya suka berjudi. Akibatnya, tak ada apa pun yang ia wariskan kepada anak-cucunya.

Ekol dan orangtuanya harus berbesar hati merasakan itu semua. Termasuk mengubur dalam-dalam keinginan Ekol untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Baginya, lebih realistis membeli makanan untuk menyambung hidup, daripada bergelar sarjana tapi mati kelaparan.

Ia bekerja serabutan demi menyambung hidup keluarganya. Anak kedua dari tujuh bersaudara itu keluar-masuk hutan, mencari kayu api dan rumput untuk dijual. Tapi Ekol tak cakap soal itu, meski semangatnya membara, fisiknya tak mendukung. Maka dalam sehari, ia hanya sanggup mengumpulkan seikat kayu api dan seikat makanan ternak.

Sayang, meski telah dibanjiri peluh dan tubuhnya terluka karena onak duri, usaha Ekol hanya dihargai Rp 1000 untuk seikat kayu dan seikat rumput ternak. “Mau buat apa dengan duit segitu. Beli bumbu dapur saja belum tentu cukup. Bagaimana mau ditabung?” tanyanya seraya tersenyum.

Setahun melakoni pekerjaan itu, Ekol merasa tak ada perubahan dalam hidupnya. Ia justru semakin gelisah. Masa depannya bakal suram. Sementara usia kian merangkak tinggi. Dalam kekalutan, ia menumpahkan seluruh kekuatiran yang bercokol dalam hatinya di antara rimbun pepohonan karet.

Ia menghibur diri dengan berdendang. Lagu favoritnya adalah Bapa Kami. Tapi, lagu Bapa Kami yang ia lantunkan saat itu terasa amat berbeda pada hari-hari sebelumnya. Sampai pada bait, “… berilah kami rejeki pada hari ini…”, lidahnya seakan terasa kelu, tak ada suara yang keluar.

Ekol memandang ke langit. Ia ingin mengundang Tuhan ke bawah dan melihat keadaannya. Pesan imam yang mengutip salah satu ayat Kitab Suci, yang ia dengar saat khotbah pada Misa Mingguan, tiba-tiba memantik semangatnya. “Mintalah makan diberi, ketuklah maka pintu akan dibukakan, carilah maka akan mendapat,” kata sang gembala, kutipnya.

Lima bulan setelah peristiwa itu, ia diajak Uwe Ekol, untuk menoreh getah di kebun karetnya. Rupa-rupanya, Uwe Ekol sudah lama memperhatikan gerak-gerik Ekol. Ia iba kepada kehidupan anak muda itu, tapi sekaligus ingin menanamkan nilai kerja kepadanya. Sejak saat itu, Ekol beralih profesi menjadi penoreh getah karet.

Perekonomian Ekol perlahan-lahan mulai berpijar. Ia bisa mencukupi kebutuhan dapur keluarganya. Tak hanya itu, meski baru tiga tahun, sudah bisa membuka warung kecil. Di situ, ia belajar mengatur pengeluaran dan pembelian, serta keuangannya sendiri. Selang beberapa tahun, warungnya telah berubah rupa menjadi toko. Pria berdarah Tionghoa-Dayak itu juga membuka warung makan dan mengerjakan proyek pembangunan dari pemerintah dan swasta.

Doa, Usaha
Berkat doa dan usaha tekunnya, ekonomi Ekol kian melesat. Namanya santer terdengar di seluruh kecamatan sebagai satu-satunya pengusaha di Kecamatan Sompak. Ia dikenal sebagai pemilik “Toko Partai”. Ekol yang dulu hanya sanggup mengantongi Rp 1000, kini telah memiliki 20 buah bus dan delapan truk untuk mengangkut getah karet dan padi masyarakat Sompak ke Pontianak.

Meski bonanza bisnisnya kian berlipat, ia bukan kacang lupa kulit. Ia sadar, berkah yang ia terima berasal dari Tuhan. Dalam tiap doanya, selain bersyukur, ia juga meminta kepada-Nya, agar tak salah langkah berbisnis dan menjauhi judi.

Ekol pun tak melupakan jasa Uwe Ekol. Dialah yang telah memberikan “obor”, ketika hari-hari hidupnya dulu amat suram. Sebagai rasa terima kasih kepadanya, ia dan ketiga buah hatinya memakai nama belakang sang majikan. “Nama itu mengingatkan perjuangan dan pergumulan saya, serta kebaikan seorang majikan kepada saya,” ujar suami Vitalia Angeliany ini.

Meski usaha Ekol terus menanjak, anak pasangan Maria Mahadin dan Petrus Saidi tetap merendah. Ia yakin, perubahan dan pencapaiannya berkat dukungan sesama, terutama campur tangan Tuhan dan Gereja. “Pesan ayah saya, ‘Jangan lupa kepada Tuhan dan Gereja’,” ujarnya.

Sejak kecil, Ekol selalu mengekor orangtuanya ke gereja tiap Minggu. Ia tertegun mendengar pastor berkhotbah dan menyalami umat usai Misa. Kenangan yang sederhana dan biasa itulah yang justru terpatri di hati Ekol hingga kini.

Ekol mengagumi semangat dan karya kaum berjubah. Mereka, kata umat Paroki St Fransiskus Asisi Pakumbang ini, telah meninggalkan segalanya, datang ke sini untuk menawarkan keselamatan, dan tak ada bayaran untuk itu. Maka, ia berkomitmen untuk memperhatikan Gereja dan para pelayan pastoral.

Tugas Umat
Ekol memaknai, bantuannya untuk Gereja tak semata-mata karena pesan orangtuanya, tapi karena tanggung jawab sebagai anggota Gereja. Jadi, imbuhnya, tak ada yang aneh atau harus dibesar-besarkan. Kata St Paulus kepada umat di Galatia, sambung Ekol, bertolong-tolonglah dalam menanggung bebanmu! Demikian kamu memenuhi hukum Kristus (Gal 6:2).

Bagi Ekol, melayani merupakan ciri khas seorang murid Kristus, yang mesti dilakukan secara bebas dan berdasarkan kasih. Bukan karena berkelimpahan harta, dan juga tak harus menjadi seorang biarawan-biarawati baru melayani. “Semua murid Kristus menerima panggilan yang sama, untuk saling melayani dan mendukung agar Kabar Gembira dapat dirasakan semua orang,” demikian Ekol.

Agus Belyanan

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*