Artikel Terbaru

Memperkenalkan Indonesia Lewat Musik Neo Tradisi

Ivan Nestorman.
Memperkenalkan Indonesia Lewat Musik Neo Tradisi
2.5 (50%) 2 votes

HIDUPKATOLIK.com – Mengusung konsep musik neo-tradisi, Ivan Nestorman memberi warna baru dalam blantika musik Tanah Air. Musiknya mempromosikan Indonesia hingga ke mancanegara.

Ceacelia Pune Nestorman sedang bermain organ. Putri sulung musisi Ivan Nestorman itu lantas berhenti dan menyampaikan salam. Dua putrinya yang lain asyik menonton acara di televisi. Ternyata, soundtrack acara di televisi itu merupakan karya Ivan. Tak lama berselang, Ivan keluar dari kamar. Ia baru bangun tidur. “Semalam saya rekaman di Depok,” katanya saat ditemui di rumahnya.

Hari itu di studio rumahnya, Ivan sedang merekam sebuah jingle bernada dangdut. Jingle itu akan dinyanyikan kelompok musik East Voice besutannya. Kedengaran aneh, Ivan yang dikenal sebagai musisi jazz dan etnik merekam musik dangdut. “Itu (musisi jazz-Red), sebenarnya label yang orang berikan. Tapi tidak pernah sekalipun keluar dari mulut saya,” ujarnya. Label itu, lanjut ayah tiga orang anak ini, berdasarkan pengalaman yang orang lihat. “Orang tahu saya penyanyi reggae, pas lihat saya main reggae atau jazz, pas melihat saya main jazz.”

Bermain musik, kata Ivan, mestinya tidak mengabdi pada suatu genre. Seorang pemusik tidak boleh mengindetifikasikan dirinya dengan dengan genre musik tertentu. “Musisi harus merdeka. Tidak bisa orang bilang ‘saya rocker sejati’. Dia harus membuka semua jenis asupan dan pengaruh musik.” Musik, lanjutnya, hanya ada dua; yang baik dan yang buruk atau yang enak dan tidak enak. “Saya berusaha memang main musik yang enak dan itu bisa terjadi di genre apa saja.”

Neo Tradisi
Ivan menyebut musiknya sebagai neo tradisi: musik seni tradisi yang terbarukan. “Jadi ekspresinya harus kontemporer, ekspresi tradisinya itu harus modern sehingga relevansinya bersifat universal.”

Ekspresi kontemporer, jelas Ivan, tetap menjaga motif tradisi musik, sedangkan penyampaian motif itu sendiri bisa dengan instrumentasi tradisi bisa juga instrumentasi modern. Hal ini, jelas Ivan, membuat musik itu akan ramah di telinga orang. “Jadi, ketika kita menyampaikan musik seperti ini di Amerika dan Eropa, mereka merasa musik kita friendly, karena kita mengemas sesuatu yang tradisi secara modern.”

Apa yang dikatakan Ivan bukan omong kosong. Beberapa turis mancanegara kerap menjadikan lagu-lagu gubahannya sebagai cover. Padahal sebagian besar lirik lagu-lagu Ivan berbahasa Manggarai. Tentu, bukan sebuah pilihan pasar yang menarik. Bahasa Manggarai hanya digunakan masyarakat di tiga kabupaten di Flores, Nusa Tenggara Timur.

Tetapi musik, bagi Ivan, tidak sekadar dinikmati dari aspek makna verbal dari
lirik-lirik lagu. Kekuatan musik, lanjut Ivan, terletak pada sound of imagery atau pencitraan bunyi yang enak dan baik. “Yang saya lakukan adalah memberi tafsiran baru, ekspresi baru terhadap motif-motif musik lokal,” kata Ivan.

Jalur neo tradisi, membawa Ivan manggung dari satu kota ke kota lain, bahkan sampai ke mancanegara. Ivan menjelaskan, pilihan musiknya ibarat butik dan kodian. Neo tradisi merupakan jenis “musik butik”. “Jika seseorang ke toko mau membeli jeans, akan ada banyak pilihan dan ukuran. Tetapi jika ia ingin membeli sebuah batik yang spesial misalnya, ia akan datang ke butik.”

Ivan meyakini, pilihan ini membuat musiknya akan melampaui zaman dan tak lekang oleh waktu. “Saya selalu percaya dengan strong point. Jadi kita kuat di bagian itu dan diasah betul. Kalau kita hanya jadi jeans yang ada di mana-mana, ya itu tidak akan melekat di memori orang,” katanya.

Pilihan musik pria kelahiran Ruteng ini ternyata berakar pada filosofi “menggali sumur”. Saat orang menggali sumur, kata Ivan, mereka menemui pelbagai hal. Ada yang menggali beberapa meter, langsung menemukan air. Ada yang menggali hingga kedalaman dan menemui batu-batu. “Kalau orang menyerah, ia tidak sampai tujuan mendapatkan air. Artinya tidak ke mana-mana. Kalau saya gali terus, pasti ada air kok.”

Promosi Indonesia
Ivan kerap melalang buana ke banyak festival musik di pelbagai benua. Dulu,
katanya, pemerintah yang menyediakan biaya dalam rangka mempromosikan
budaya Indonesia ke dunia internasional. Atas kiprahnya itu, Ivan mendapatkan pengakuan, seperti penghargaan sebagai duta budaya dari pemerintah Maroko pada 2014. Jauh sebelum itu, ia pernah meraih penghargaan SCTV Music Awards.

Selain promosi budaya, Ivan juga terlibat dalam promosi komodo menjadi salah satu keajaiban dunia. Pada 2011, Ivan tampil di Oprah House Sydney dalam rangka mempromosikan “Wonderful Indonesia”. Di sana, ia menyanyikan lagu-lagu dalam album yang berjudul “Komodo” yang ia ciptakan sendiri. Meski mempromosikan komodo dan budaya Indonesia, Ivan tidak besar kepala. Ia justru merasa berutang budi pada komodo dan budaya Flores yang menghiasi lagu-lagunya. Ketika komodo resmi menjadi salah satu “Seven Wonders of The World”, Ivan mendatangi lagi Pulau Komodo. “Saya bilang ke komodo, gara-gara kau saya bisa lihat dunia,” katanya sembari terkekeh.

Pada 2016, Ivan tampil di panggung utama Tower of Bridge of London dan membawakan 10 lagu. Ia mentas dalam rangka promosi budaya Indonesia, khususnya Sasando. Acara ini merupakan kerjasama pemerintah Indonesia dengan Inggris. Awal Mei ini, Ivan juga memberi tutorial Sasando untuk anak-anak turis di Bali. “Mereka kaget melihat Sasando, ini apa lagi ini,” kata Ivan sembari tersenyum.

Setidaknya ada 33 kota besar dunia, di empat benua telah Ivan datangi. Ia mengaku bangga, karena musik membuat ia bisa mempromosikan Indonesia. Saat ini, Ivan terlibat sebagai aktor dalam film pendek untuk pariwisata. “Semacam re-campaign lagi tentang komodo, namun kali ini tempat- tempatnya tidak hanya di Pulau Komodo tetapi juga Pulau Padar dan Labuan Bajo yang akan dipromosikan.”

Pada Juni mendatang, Ivan akan merayakan 25 tahun bermusik. Rencananya, Ivan akan menggelar konser khusus di Jakarta. Dalam jejak seperempat abad itu, Ivan telah menghasilkan belasan album. Pada 1994, ia meluncurkan album pertama “The Blanca”. Pada 1 Juli mendatang ia akan merilis album terbarunya. Ia juga terlibat dalam beberapa proyek dengan musisi Erwin Gutawa dan mendiang Chrisye. “Erwin Gutawa melibatkan saya dalam album Chrisye Akustik dalam lagu ‘Jamrud Khatulistiwa’. Pada lagu tersebut, saya memainkan Sasando dan memasukkan cual, semacam tuturan vokal tradisi dalam lagu.”

Ivan juga muncul di album Franky Sahilatua, Perahu Retak (1995), dalam lagu “Ewada”. Dalam lagu itu, Ivan memasukkan lirik bahasa Manggarai. Ivan juga terlibat dalam penggarapan sebuah album Edo Kondologit dalam lagu berjudul “Pangkur Sagu”.

Pada 2010, Ivan meluncurkan album solo “Flores, The Cape of Flower”. Album itu mengangkat beragam tradisi Flores Barat hingga Flores Timur. Tak hanya album, Ivan terlibat dalam pembuatan beberapa soundtrack film dan acara televisi. “Saya bikin musik “Ring of Fire” di Metro TV dan musik untuk acara Mata Najwa.”

Di sepanjang karier, Ivan bergaul karib dengan banyak musisi, seperti Dwiki
Dharmawan, Gilang Ramadhan, Donny Suhendra, dan Adi Darmawan. “Tuhan itu baik, saya bertemu orang-orang seperti mereka, di mana saya belajar banyak. Mereka melihat bakat saya dan mengajak saya dalam proyek etnis mereka.”

Ivan Nestorman
TTL : Ruteng 18 Februari 1967
Istri : Katharina Mogi
Anak : Ceacilia Pune Nestorman, Maria Bernadetta No’o Nestorman, Benedicta Jennifer Mogi Nestorman

Pendidikan:
• SD Ruteng V (lulus 1980)
• SMP Seminari Pius XII Kisol (lulus 1983)
• SMA Negeri I Ruteng (lulus 1987)
• Sastra Inggris Universitas Nasional (1987-1992)

Album dan Proyek:
• The Blanca (1994)
• Indonesia Damai (1996)
• Album Campuran: Simak Dialog, Franky Sahilatua-album Perahu Retak,
album MHM Najib, Album Chrysie (1997)
• Vivo (2000)
• Produser Wasiat Perdamaian
• Lagu Pangkur Sagu untuk album Edo Kondologit
• Flores The Cape of Flower (2010)
• Musik fi lm Inerie
• Musik Ring of Fire, Alenia’s Journey Uncover NTT, Metro TV
• Musik Id Mata Najwa.

Penghargaan:

• Duta Budaya Maroko dari Pemerintah Maroko (2014)
• SCTV Awards (2007)
• Lagu Mogi masuk Nominasi AMI kategori folk song

Edward Wirawan
Laporan: Karina Chrisyantia

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*