Artikel Terbaru

Ibu Muda Berhati Mulia dari Keluarga Gila

St Bartolomea Capitanio (1807–1833).
[santuarioloreto.it]
Ibu Muda Berhati Mulia dari Keluarga Gila
4 (80%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.com – Ia wafat dalam usia terbilang muda. Kendati begitu, karya besar lahir dari kesederhanannya. Ia menjadi ibu bagi anak-anak dan kaum perempuan.

Awal abad XIX di Lovere, Bergamo, Italia Utara, terjadi kemiskinan besar-besaran. Tak hanya materi, aspek spiritual dan moral pun tercabik-cabik karena dampak pecahnya Revolusi Perancis (1789-1799). Ekses peristiwa besar ini mengakibatkan sebagian rakyat Eropa hidup dalam kemelaratan. Belum lagi wabah penyakit merajalela di tengah masyarakat. Kerugian material seolah tak terhitung banyaknya karena begitu massifnya peristiwa tersebut.

Dalam aspek spiritual, banyak paham anti-agama mulai bersemi dan tumbuh bak jamur di musim hujan. Nilai-nilai Kristiani terancam oleh paham-paham anti-Kristen yang tergolong radikal. Pascakonflik, tak sedikit dari orang mengabaikan dan meninggalkan praktik kesalehan iman Kristen. Mereka sibuk memulihkan diri dari trauma dan rehabilitasi sarana prasarana fisik. Masyarakat lebih mementingkan isi perut daripada mendalami ajaran Tuhan. Kendati demikian, masih ada orang yang tak putus asa melayani dan mewartakan Injil, adalah Bartolomea Capitanio.

Keluarga Gila
Bartolomea lahir di Lovere, dari pasangan Modesto Capitanio dan Caterina Canossi pada 13 Januari 1807. Ia diberi nama Bartolomea, yang dalam bahasa Italia berarti “Anak Pemberani.” Sebelum kelahiran Bartolomea, keluarga Capitanio dikarunia dua anak laki-laki dan empat anak perempuan. Naas bagi Modesto dan Caterina, semua buah hati mereka gugur sejak dalam kandungan, kecuali dua putri, yakni Bartolomea dan Camilla.

Karena itu, kelahiran Bartolomea menjadi rahmat yang luar biasa bagi Modesto dan Caterina. Meski ayahnya seorang pengusaha gandum dan sayur-mayur, kehidupan keluarga ini selalu mencerminkan kesederhanaan dan ugahari. Di mata para tetangga, keluarga Capitanio dikenal sebagai keluarga Kristiani saleh yang menjunjung tinggi moralitas. Selain itu, Modesto terkenal karena kedermawanannya kepada masyarakat miskin di Lovere. Virus keutamaan hidup ini pun seolah ditularkan kepada Bartolomea dan Camilla. Modesto dan Caterina mendididik anak-anaknya dalam balutan nilai-nilai Kristiani. Dua buah hati mereka akhirnya menjadi pribadi yang kaya akan Kristus.

Sayang, keutamaan hidup ini tak bertahan lama. Entah kenapa, Modesto tiba-tiba berubah menjadi figur yang menakutkan. Ia mulai bersifat agresif dan terlihat gemar meneguk minuman keras. Pribadinya menjadi temperamen dan tak lagi menjadi “bapak dermawan”. Hal ini membuat masyarakat sekitar memanggilnya “Modesto, si gila”. Kondisi sang ayah meluluhlantakkan hati Bartolomea. Sebagai anak yang berbakti, ia tetap menerima fakta ayahnya meski menyakitkan.

Ketika Bartolomea berumur 11 tahun, sang ibu mempercayakan pendidikannya di sekolah yang diasuh para Suster Claris. Ibunya berharap, bimbingan para suster dapat melindungi putrinya dari ketidakharmonisan dalam keluarga. Bartolomea pun tinggal bersama para Suster Claris dan mengenyam pendidikan layaknya para postulan Claris. Dalam proses pendidikannya, ia tergolong murid yang cemerlang dan pandai bergaul.

Hidup bersama para Claris yunior membuat Bartolomea ingin menjadi suster. Keinginannya ini diungkapkan kepada kepala biara, Sr Francisca Parpani OSC. “Saya ingin menjadi santa. Kelak saya ingin menjadi santa. Saya ingin menjadi santa yang hebat,” ujarnya. Keinginannya ini ditanggapi positif Sr Francisca, sambil menunggu agar Bartolomea cukup umur untuk menjadi biarawati.

Biara Kecil
Bartolomea menyelesaikan pendidikannya di Biara Suster Claris saat berusia 18 tahun. Setelah itu, ia kembali ke rumah dan membuka ruang belajar bagi gadis-gadis Lovere. Dalam penantian menjadi suster, ia mengajari anak-anak untuk menguasai banyak keahlian. Disiplin hidup Suster Claris pun ditularkan kepada anak didiknya, yang tidak mengenyam pendidikan formal.

Lewat senyuman, sentuhan keibuan, dan kasih sayang seorang kakak, banyak anak menemukan ketenangan. Bartolomea menyelamatkan masa depan ratusan anak Lovere yang menjadi korban kekerasan sosial, kemiskinan, dan keputusasaan menghadapi kenyataan hidup yang berat. Ia menjadi “ibu nomaden” yang terus berpindah tempat demi nasib anak-anak Italia. Tahun 1824, Bartolomea bertemu, lalu bersahabat dengan Caterina Gerosa (1784-1847) dari Lovere.

Di dalam ketekunannya, ada keraguan bersembunyi di lubuk hatinya mengenai siapa yang akan melanjutkan karyanya itu. Terbesitlah dalam pikirannya untuk mendirikan sebuah lembaga amal bagi orang miskin. Namun, Bartolomea sadar bahwa mendirikan lembaga dengan tujuan pelayanan adalah pekerjaan yang tak semudah membalik telapak tangan. Walau demikian, ia tetap percaya akan penyelenggaraan Ilahi dalam karyanya. Ia pun mengungkapkan kegundahan dan cita-cita mulia itu kepada pembimbing rohaninya, yakni Kepala Paroki Lovere, Keuskupan Brescia, Pater Rusticiano Barboglio. Lewat Pater Barboglio, keinginan Bartolomea pun direstui Uskup Brescia, Mgr Gabrio Maria Nava (1758-1831).

Setelah mendapat restu, Bartolomea lalu menyusun statuta pendirian. Ia juga
menetapkan visi-misi lembaganya, yakni mendedikasikan diri terhadap kesejahteraan orang muda, kaum Hawa, dan orang sakit. Dibantu oleh Pastor Barboglio dan Caterina (kelak menjadi suster dengan nama Sr Vincenza Gerosa dan dikanonisasi bersama Bartolomea), Bartolomea tak patah arang. Pada 21 November 1832, mereka menemukan sebuah bangunan kumuh yang tak berpenghuni. Dengan sedikit bantuan dana paroki, bangunan itu disulap menjadi “rumah sosial”. Tapi anak-anak senang menyebutnya, Conventino, “biara kecil”.

Bagi Bartolomea, tempat itu adalah awal penyemaian cinta kasih yang akan disebarluaskan. Di rumah kasih ini, sepuluh yatim piatu belajar bersama dan
diajarkan nilai-nilai Kristiani. Pada 22 Juni 1833, kasih itu pun mendaging di
seantero Italia hingga ke seluruh dunia.

Ibu Kasih
Lembaga ini pun berevolusi menjadi embrio kongregasi baru bagi para suster.
Harapannya, lembaga ini berkembang dengan campur tangan ibu pendiri. Namun, Tuhan berkehendak lain. Pagi itu, 1 April 1833, sepulang dari gereja, Bartolomea mengalami demam tinggi. Ia lalu menjalani pengobatan. Sayang, tanda-tanda kesembuhan tak kunjung dialami “ibu banyak anak ini”. Menurut dokter, ia mengidap tuberkulosis (TBC) akut. “Saat berada di surga nanti, aku akan dapat membuat sesuatu yang lebih besar dari ini,” ujarnya kepada anak-anak seraya menutup mata untuk selamanya. Ia wafat pada usia 26 tahun, 26 Juli 1833.

Setelah kehilangan putri terbaik mereka, lembaga ini tak ikut mati. Lembaga ini justru berkembang pesat dan bertransformasi menjadi kongregasi baru, Sisters of Charity of Lovere (Suster Karitas dari Lovere), berkat Sr Vincenza. Ia menjadi superior pertama pada 21 November 1835. Pada 29 Juni 1840, Takhta Suci meresmikan Kongregasi Para Suster Cinta Kasih ini.

Dari Italia, para suster pun diutus melayani di Eropa, seperti Italia, Spanyol, Inggris, Romania. Sementara di Asia, mereka mengepakkan sayap di India, Bangladesh, Myanmar, Thailand, Jepang, Israel, Nepal, dan Turki; lalu di Amerika yaitu Argentina, Brazil, Peru, Uruguay, dan Amerika Serikat; serta pelayanan di Benua Hitam, seperti di Zambia, Zimbabwe, dan Mesir.

Atas jasa Bartolomea pada Gereja dan kemanusiaan, pada 30 Mei 1926, Paus Pius XI (1857-1939) menggelarinya beata. Kemudian pada 18 Mei 1950, Paus Pius XII (1879-1958) mengkanonisasinya bersama Sr Vincenza Gerosa di Basilika St Petrus Vatikan. St Bartolomea dan St Vincenza dikenal sebagai pendiri Kongregasi Para Suster Cinta Kasih dari Lovere. Pestanya dirayakan tiap 26 Juli.

Karina Chrisyantia

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*