Artikel Terbaru

Pengorbanan yang Bertujuan untuk Kebaikan Bersama

Pengorbanan yang Bertujuan untuk Kebaikan Bersama
1 (20%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.com – Kita sudah merayakan Paskah. Ada banyak hal yang dapat dijadikan sebagai rujukan hidup dari peristiwa Paskah itu. Dalam tulisan ini, saya hanya membahas dimensi pengorbanan. Paskah adalah momentum pengorbanan. Dari perspektif Kristiani, pengorbanan tersebut memperlihatkan intervensi Allah yang berpijak pada belaskasih-Nya kepada manusia. Sementara itu, dari perspektif sosio-politis, pengorbanan Yesus merupakan akibat ketidak-takutan-Nya dalam “menginterupsi” berbagai deviasi dalam ruang sosial Yahudi.

Yesus secara lantang melontarkan kritikan atas hermeneutika (penafsiran) yang salah terhadap kitab Taurat. Ia tidak menerima “pelucutan” ayat-ayat suci demi kepentingan segelintir orang. Yesus menolak jika elite-elite Yahudi “menindas” rakyat dengan dalil-dalil agama. Agama mesti dijadikan sebagai rujukan religius, etis, humanis, liberatif, dan bukan sebagai acuan pendukung hasrat parsial.

Mendermakan Diri
Sesungguhnya Paskah adalah momentum “pendermaan” diri Yesus. Seperti roti yang dipecahkan dan dibagi-bagi untuk orang lapar, Yesus “mendermakan” diri sehabis-habisnya untuk kita (Leo Kleden, 2012). Ia tidak takut dijadikan sebagai objek konspirasi dan sasaran amukan sadis. Yesus “memartirkan” diri. Ia bertindak sebagai “pahlawan” yang hanya memperhatikan kepentingan manusia. Ia tidak peduli, meskipun mengetahui bahwa keputusan itu pasti mengancam hidup-Nya. Kalau saja orientasi Yesus bukan kepentingan manusia, Ia pasti tidak mau berkonfrontasi dengan elite-elite agama Yahudi.

Yesus tidak mau mengambil posisi abu-abu. Dia melawan hegemonisasi ayat-ayat suci. Yang Ia inginkan adalah tafsiran terhadap ayat-ayat suci mesti berorientasi liberatif dan benar-benar menampilkan kerahiman Allah. Dia ingin mengedepankan figur Allah yang memberi diri bagi keselamatan manusia. Penghargaan terhadap harkat dan martabat manusia mesti menjadi titik tolak dan titik tuju tafsiran itu. Karenanya, ayat-ayat suci tidak boleh diinstrumentalisasi untuk kepentingan elite agama Yahudi.

Pahlawan Politik
Sesungguhnya melalui peristiwa Paskah yang telah dirayakan, kita bisa melihat intervensi politik Allah. Politik Allah adalah politik keteraturan, kesejahteraan, dan keadilan untuk semua (Kolimon, 2016). Hal-hal inilah yang menjadi rujukan tindakan Allah dalam peristiwa Paskah. Melalui intervensi itu, Allah bertindak sebagai pahlawan.

Jika hal tersebut dikaitkan dengan praksis publik perpolitikan kita, pertanyaannya adalah: apakah elite-elite publik kita juga telah bertindak sebagai pahlawan politik? Pertanyaan ini terasa menjadi gugatan kritis dan keprihatinan jika melihat kiprah sosial elite-elite politik kita selama ini. Diharapkan menjadi pahlawan dalam bidang politik, mereka malah menjadikan politik sebagai sarana untuk mendapatkan keuntungan pribadi. Perjuangan politik mereka seringkali tidak mengakomodasi desakan rakyat. Politik seringkali diprivatisasi dan didekonstruksi untuk keperluan parsial. Alih-alih berkorban, mereka malah mengorbankan rakyat.

Karena itulah, kita berharap agar sebagaimana seorang pahlawan tidak memikirkan diri sendiri, begitu jugalah elite-elite publik. Semangat Paskah mesti menjadikan perjuangan politik mereka benar-benar berkiblat pada kebaikan bersama. Mereka harus membantu rakyat keluar dari penderitaan dan memastikan bahwa keadilan sosial sungguh-sungguh terwujud. Tentang hal ini, Paus Paulus VI dalam ensiklik Popularum Progressio (No. 76) mengatakan: “perjuangan melawan kemiskinan serta ketidakadilan itu berarti mengupayakan kondisi kehidupan yang lebih baik dan sekaligus memajukan spiritualitas dan kemanusiaan umat manusia, sehingga kesejahteraan bersama umat manusia dapat bertumbuh baik”. Elite-elite politik tidak boleh menyebabkan disparitas sosial, tetapi memastikan bahwa kesejahteraan dan keadilan sosial tercipta dalam ruang publik. Posisi politik harus membantu mereka untuk menjabarkan semangat Paskah secara benar dengan menjadi politikus berhati pahlawan.

Inosentius Mansur

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*