Artikel Terbaru

Bangun Persaudaraan Sejati

Bangun Persaudaraan Sejati
1 (20%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.com – Akhir Mei lalu, di tengah suasana hangat dunia politik Indonesia usai Pilkada DKI Jakarta, muncul berita menyejukkan dari Sekolah Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. Hari itu, Romo Gregorius Soetomo SJ berhasil menuntaskan disertasi doktornya di universitas tersebut. Berkat disertasi itu, Romo Greg telah memberi kontribusi intelektual terhadap sejarah Islam dan lewat kehadirannya sebagai pemuka agama Katolik dapat menciptakan persaudaraan sejati di tengah civitas akademik UIN. Berita ini dimuat di website HIDUP KATOLIK.com. Sampai Minggu ini, berita tersebut telah dibaca 32 ribu pengunjung. Hal ini membuktikan bahwa peristiwa tersebut dapat menarik perhatian banyak orang.

Selain Romo Greg, upaya studi agama Islam secara mendalam juga sudah dilakukan beberapa rohaniawan/wati lain. Upaya dialog antaragama dengan mempelajari ajaran agama lain seperti ini juga sudah dilakukan beberapa Universitas Katolik, terutama di fakultas Teologi dan jurusan pendidikan agama dengan memasukkan mata kuliah Islamologi ke dalam kurikulumnya. Lewat kuliah tersebut, para mahasiswa bisa bertanya langsung dengan narasumber Muslim dan dapat membuka jalinan dialog antaragama.

Gereja sadar, lewat pengenalan dan studi ajaran agama lain akan membuat Gereja bisa lebih memahami tradisi dan ajaran agama lain. Setelah mengetahui, tentu saja Gereja bisa lebih menghormati seperti yang sudah dianjurkan Bapa Konsili Vatikan II dalam Pernyataan Hubungan Gereja dengan Agama-agama Bukan Kristen, Nostra Aetate (NA art. 2). “Gereja Katolik tidak menolak apapun, yang dalam agama-agama itu serba benar dan suci. Dengan sikap hormat yang tulus, Gereja merenungkan cara-cara bertindak dan hidup, kaidah-kaidah serta ajaran-ajaran, yang memang dalam banyak hal berbeda dari apa yang diyakini dan diajarkannya sendiri, tetapi tidak jarang toh memantulkan sinar kebenaran, yang menerangi semua orang”.

Upaya belajar agama lain ini, tentu tidak mudah dilakukan. Ketika seseorang
mempelajari ajaran Islam dan khazanahnya, bisa jadi dapat menemukan pertentangan berkaitan dengan sejarah umat Kristiani dan Muslim yang di beberapa zaman pernah timbul pertikaian dan permusuhan. “Dalam hal ini konsili suci mendorong mereka semua, supaya melupakan yang sudah-sudah, dan dengan tulus hati melatih diri untuk saling memahami, dan supaya bersama-sama membela serta mengembangkan keadilan sosial bagi semua orang, nilai-nilai moral maupun perdamaian dan kebebasan” (NA art. 3).

Sikap memahami ajaran agama lain dan mengutamakan keadilan sosial, juga perdamaian itu harus terus diupayakan dalam dialog antaragama. Konstitusi pastoral Gaudium et Spes (GS) juga telah menganjurkan kepada kita untuk mengupayakan dialog dengan semua orang yang mengakui Allah dengan dialog terbuka, dengan bimbingan sikap cinta akan kebenaran dan kebijaksanaan. “Karena Allah Bapa itu sumber segala sesuatu, kita semua dipanggil untuk menjadi saudara. Maka dari itu, karena bersama mengemban panggilan manusiawi dan ilahi yang sama itu, kita dapat dan memang wajib juga bekerja sama tanpa kekerasan, tanpa tipu muslihat, untuk membangun dunia dalam damai yang sejati” (GS Art. 92).

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*