Artikel Terbaru

Merangkul Domba Ekspatriat

Merangkul Domba Ekspatriat
1 (20%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.com – Pada 1 Januari 2016, program Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) telah resmi diberlakukan di seluruh negara anggota Association of Southeast Asian Nations (ASEAN). Dengan MEA, para pekerja dari negara-negara ASEAN seperti Filipina, Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, Brunei Darussalam, Vietnam, Laos, Myanmar, dan Kamboja dapat bekerja di seluruh wilayah ASEAN dengan lebih mudah.

Para tenaga kerja asing, yang mengikuti program MEA ini tentu ada yang beragama Katolik. Mereka berusaha mengadu nasib di negara lain, salah satunya Indonesia. Tentu saja, para tenaga kerja ekspatriat ini membutuhkan pelayanan rohani yang dapat mengena dalam hati atau merayakan iman mereka dengan bahasa dan kebudayaan mereka sendiri.

Pelayanan terhadap umat ekspatriat di Indonesia sebenarnya sudah terlaksana sejak tahun 1963, yang dirintis Romo Joannes Burgers SJ ketika masih berkarya di Kolese Kanisius Menteng, Jakarta. Pelayanan itu kemudian berkembang, bahkan menjadi sebuah paroki yang diberi nama Paroki St Petrus Canisius International yang saat ini kegiatannya terpusat di Gereja St Theresia Menteng, Jakarta.

Pendirian paroki di sebuah Keuskupan dapat diizinkan dengan aturan dalam Kitab Hukum Kanonik, Kanon 518. “Pada umumnya paroki hendaknya bersifat teritorial yakni mencakup semua orang beriman Kristiani, di wilayah tertentu. Tetapi, di mana dianggap bermanfaat hendaknya didirikan paroki personal yang ditentukan atas dasar ritus, bahasa, bangsa kaum beriman Kristiani wilayah tertentu dan juga atas dasar lain”.

Dalam perkembangannya, umat ekspatriat Paroki St Petrus Canisius International ini pada 2010 tercatat sebanyak 1.500 orang. Tujuh tahun kemudian, pada Juni 2017, menurut Pastor Kepala Paroki St Petrus Canisius International Romo B. Bambang Triatmoko SJ jumlah umatnya bertambah menjadi 2.500 orang berasal dari 40 negara. Jumlah umat terbanyak berasal dari Filipina dan India yang bekerja di bidang pendidikan, finansial, pertambangan, dan perkebunan.

Pada 15 April 2012, di edisi 16, Majalah HIDUP pernah membuat tulisan tentang pelayanan untuk umat ekspatriat. Pada tahun itu, sudah tercatat ada lima keuskupan yang telah membuat pelayanan untuk umat ekspatriat seperti di Keuskupan Agung Jakarta dengan pelayanan di Paroki St Theresia Menteng menggunakan bahasa Inggris, Paroki St Stefanus Cilandak (bahasa Inggris), Kapel Kolese Kanisius (bahasa Inggris), Paroki St Yohanes Bosco Danau Sunter (bahasa Inggris dan Tagalog), Rumah di daerah Pejaten (bahasa Jerman, Perancis, dan Spanyol), dan Rumah di Jl. Margasatwa Jakarta Selatan (bahasa Korea). Hal yang hampir serupa juga dibuat oleh Keuskupan Surabaya, Keuskupan Denpasar, Keuskupan Agung Semarang, dan Keuskupan Agung Medan.

Tampaknya, pelayanan untuk umat ekspatriat di Indonesia akan naik seiring dengan program MEA yang terus bergulir. Menjadi pekerjaan rumah bagi Gereja Katolik Indonesia untuk merangkul dan memberikan pelayanan kepada domba-domba ekspatriat ini agar tidak merasa kehilangan kawanannya. “Seperti seorang gembala mencari dombanya pada waktu domba itu tercerai dari kawanan dombanya, begitulah Aku akan mencari domba-domba-Ku dan Aku akan menyelamatkan mereka dari segala tempat,” (Yehezkiel 34:12).

Redaksi

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*