Artikel Terbaru

Harapan untuk Menyelamatkan Perkawinan yang Bermasalah

Retret pasutri komunitas Semakin Tua Semakin Manis.
[NN/Dok.Pribadi]
Harapan untuk Menyelamatkan Perkawinan yang Bermasalah
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – “Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku.” Refl eksi ini menjadi pesan utama kelompok kategorial dalam merayakan pesta 210 tahun KAJ.

Gembira, lega, dan rasanya plong! Demikian rasa syukur yang dialami pasangan suami istri (pasutri) Budiman Yustin usai mengikuti retret. Dalam retret ini, para pasutri diharapkan membuat konsiliasi dan menghargai pasangannya. “Ini sebuah pengalaman yang sungguh menyentuh kami,” ungkap Budiman.

Pria kelahiran 1 Oktober 1951 ini mengisahkan, dulu perkawinan mereka nyaris hancur. Relasi mereka hanya sebatas kebutuhan. Itu pun kadang terpaksa. Hal kecil diperbesar dan berujung percekcokan. Kepercayaan antarpasangan hilang dan kehadiran pasangan seakan tak ada artinya.

Lewat retret tersebut, Tuhan menyambung lagi relasi mereka yang nyaris putus. Pasutri yang menikah tahun 1973 ini menjadi sadar dan berkomitmen untuk mau melayani keluarga-keluarga Katolik. Kesadaran ini melahirkan sebuah komunitas Semakin Tua Semakin Manis (STSM) yang berdiri pada 12 Maret 2004. Komunitas ini diharapkan dapat membantu pasutri untuk memahami bahwa hari tua harus diisi dengan kasih.

Dialog Rutin
Budiman mengatakan, STSM berawal ketika mereka bertemu seorang Romo tahun 2003. Saat itu, sang Romo menyatakan kesediaan untuk memimpin Misa HUT ke30 perkawinan mereka. Kata Romo, banyak keluarga Katolik yang dilanda masalah dan diambang perpisahan. “Romo berharap, kami bisa menjadi role model bagi keluarga tersebut,” jelas umat Paroki St Antonius Padua Bidaracina, Jakarta Timur ini.

Sementara itu, Pasutri Hamdani Sari, Koordinator STSM menjelaskan, sejak 2013, STSM diterima sebagai kelompok kategorial KAJ. Saat itu, STSM mengusung visi menjadikan keluarga sebagai ecclesia domestica. Visi ini, jelas Hamdani, menjadi jawaban situasi saat ini. Banyak orang menjadi “pecandu gadget”, individualis pun merebak masuk dalam kehidupan pasutri. “Maka, salah satu usaha Gereja KAJ dalam perayaan 210 tahun ini harusnya mendukung kampanye sehari tanpa gadget.”

Perayaan 210 tahun KAJ juga menjadi perayaan sukacita bagi komunitas Couple for Christ (CFC). Komunitas ini didirikan di Manila, Filipina, tahun 1981, setahun setelah Seruan Apostolik Familiaris Consortio oleh Paus Yohanes Paulus II. Merayakan 210 tahun KAJ, CFC memberi perhatian khusus kepada pendampingan formatio keluarga. Formatio keluarga ini dilaksanakan dalam bentuk pendampingan keluarga, seperti Retret Pengayaan Perkawinan, Pertemuan Doa Mingguan Keluarga, Family Day, dan Family Ministries.

Direktur CFC, Alex Gosyanto mengatakan, CFC dalam setiap pelayanan selalu mengajak anggotanya untuk rutin membangun dialog. Dialog ada bermacam-macam, seperti dialog dalam doa, baca Kitab Suci, dialog antaranggota, dll. “Diharapkan dengan dialog ini, para anggota bisa menghindari dosa, hidup teratur, membangun keluarga yang kokoh lewat dialog rutin, melaksanakan tanggungjawab sebagai orangtua, berdoa bersama dalam keluarga, dan menyediakan waktu bagi keluarga,” ungkapnya.

Tak Sendiri
Selain dua komunitas itu, salah satu komunitas yang lahir untuk saling menyembuhkan adalah komunitas You Are Not Alone (YANA). YANA adalah komunitas khusus single mom yang berusia 2555 tahun. Para anggotanya menjadi single mom karena suami meninggal atau karena berpisah. “Kami batasi usia mereka hingga 55 tahun karena pada usia itu, single mom masih aktif bekerja,” jelas Fanny Rahmasari.

Fanny menuturkan, kelompok ini berbeda dengan komunitas single mom lainnya. YANA mengkhususkan pelayanan bagi para single mom Katolik yang aktif dan produktif. Para anggota bertemu tiap bulan pada Sabtu minggu kedua untuk sharing dan saling memberi masukan. “Lewat pertemuan-pertemuan ini, mereka saling menguatkan. Sebab, dalam kesendirian, mereka butuh dukungan.”

Di KAJ, lanjut Fanny, banyak single mom mengalami kebingungan, kekhawatiran, dan kurang rasa percaya diri bila harus berhadapan dengan sikap Gereja; lingkungan, komunitas atau bahkan imam yang tidak mau merangkul mereka. Perayaan 210 tahun KAJ kiranya menjadi momen bagi para single mom bahwa you are not alone, ‘Anda tidak sendirian’.

Komunitas “single” lain adalah Single Mother Community (SMC). Komunitas ini didirikan atas keprihatinan terhadap para ibu yang hamil di luar nikah. Suatu hal yang sulit bila mengetahui setelah melahirkan anak tanpa suami. Tak jarang, para ibu ini menitipkan anak di Panti Asuhan karena keluarga tak ingin menanggung malu. Atas pertimbangan ini, lahirlah SMC tahun 2008, bekerjasama dengan para Suster Gembala Baik (RGS), Jatinegara, Jakarta Timur.

Komunitas ini dapat membantu setiap pribadi agar lebih berharga. Cerita-cerita pilu tentang hubungan ibu dan anak yang seharusnya penuh kasih, hanya berujung perpisahan. Belum lagi, para ibu muda harus mencari pekerjaan untuk menafkahi buah hatinya.

Perjuangan demi si buah hati membuat para ibu tangguh ini berkumpul untuk saling menguatkan. Sebagai anggota Pemikat KAJ, SMC berharap pada perayaan 210 tahun KAJ ini, Gereja memberi dukungan dan perhatian kepada para single mom. “Dengan semangat pelayanan Gembala Baik yang murah hati, kami berharap bahwa paroki-paroki di KAJ terbuka menerima para single mom, terutama kaitannya dalam pelayanan sakramen dan mengurus dokumen Gereja, seperti surat baptis bagi anak.”

Sumbu Kehidupan
Kepedulian pada single mom juga menjadi perhatian Komunitas Warakawuri Katolik. Komunitas ini didirikan pada 12 Juni 1982 di Paroki Fransiskus Assisi Tebet, Jakarta Selatan. Komunitas ini mirip komunitas single mom lainnya, tapi berfokus pada para janda Katolik. Dalam komunitas ini, keanggotaan dibagi menjadi anggota biasa dan anggota luar biasa. Anggota biasa adalah mereka yang ditinggalkan suami karena meninggal. Sedangkan anggota luar biasa adalah mereka yang ditinggalkan atau berpisah dengan suami.

Ketua Perhimpunan Warakawuri Katolik, Maria Florentina Suparti Antho Warsono mengatakan, fokus Warakawuri adalah membantu sesama “janda” agar hidup layak. Karena sebagian dari kita, ada yang masa tuanya tidak memiliki dana pensiun. “Jangankan untuk membiayai mondar-mandir ke perhimpunan, memenuhi kebutuhan hidup mereka saja, kerap kurang.”

Selain itu, masih ada komunitas kategorial KAJ, yaitu Catholic Blessed Families. Komunitas ini melayani Catholic Men Ministry, yang melaksanakan program Camp Pria Katolik Sejati dan Catholic Women Ministry yang membawahi program Camp Catholic Wife Woman.

Komunitas ini berawal dari keprihatinan dr Laurentius Suliadi atas ketidakharmonisan sebuah keluarga yang berakhir dengan “pisah ranjang”. Dalam proses itu, ungkap Laurent, ada kecenderungan ketidakharmonisan ini disebabkan oleh pria. Sebab ketika pria menjalankan perannya sebagai kepala keluarga, dalam banyak kasus muncul pertengkaran dengan istrinya. Saat bapak “pergi”, keluarga itu menjadi “fatherless”. Ketiadaan seorang bapak ini bukan karena meninggal. Dalam keadaan ini, peran kepala keluarga hilang.

Karena situasi ini, berdirilah komunitas Camp Pria Katolik Sejati. Laurent menambahkan, semua pria, baik lajang, menikah maupun sudah berpisah, boleh menjadi anggota komunitas ini. Program dalam komunitas ini bertujuan menghilangkan sifat-sifat itu. Laurent percaya, ketika satu pria diselamatkan, keluarga akan selamat, dan tentunya Gereja pun selamat.

Yusti H. Wuarmanuk
Laporan: Karina Chrisyantia, Christophorus Marimin, Marchella A.Vieba

KOMENTAR ANDA:

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*