Artikel Terbaru

Dibutuhkan, Kreativitas Kerasulan Keluarga

Romo Al. Andang L. Binawan.
[NN/Dok.HIDUP] Imam, Vikep Kategorial KAJ
Dibutuhkan, Kreativitas Kerasulan Keluarga
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Keluarga adalah pilar masyarakat, juga pilar Gereja. Karena itu, Gereja mempunyai perhatian khusus terhadap keluarga. Tentu, yang dimaksud keluarga bukanlah sekadar perkawinan antara seorang suami dengan seorang istri. Di dalamnya ada juga anak-anak, dan segala interaksi di dalamnya.

Bagi Gereja, keluarga adalah sekolah cinta, sekolah iman, juga sekolah kehidupan. Semua yang menjadi unsur dalam keluarga terlibat secara aktif maupun pasif, baik memberi maupun menerima, dengan segala kelebihan dan kekurangan. Harapannya hanya satu, yaitu bahwa masing-masing dapat menjalani panggilannya untuk saling menjadi berkat dengan sebaik-baiknya.

Sebagai sekolah, keluarga akan membentuk pribadi-pribadi di dalamnya menjadi makin dewasa, makin matang, dan tentu juga makin beriman. Seperti halnya dalam sekolah, ujian-ujianlah yang membuat pribadi tertempa. Kesulitan dan kekecewaan yang dialami, pada dasarnya adalah bagian dari tempaan Tuhan.

Keluarga sebagai sekolah ini adalah sebuah analogi yang sejajar dengan perumpaan tentang benih yang ditabur dalam Injil Matius 13: 1-9. Diharapkan keluarga menjadi tanah yang baik agar benih cinta dan benih iman yang ditaburkan Allah Bapa bisa tumbuh dan berbuah lebat. Disinilah, keluarga sebagai tanah, perlu disiram, dipupuk, dan digemburkan.

Hanya, Gereja sadar penuh bahwa tantangan hidup berkeluarga makin hari makin berat. Ujiannya makin tidak gampang. Salah satu tantangan yang mencolok adalah pengaruh gadget, yang mengubah pola pikir, sikap, dan juga cara berkomunikasi dalam keluarga. Selain itu, mengubah daya tahan masing-masing anggota keluarga dalam berkompromi yang satu dengan yang lain. Dengan kata lain, gadget membuat selongsong ego makin keras, dan sangat mempengaruhi hidup berkeluarga. Ego yang keras ibarat tanah yang berbatu yang tidak memungkinkan benih bertumbuh. Akibatnya, banyak benih tidak tumbuh, apalagi berbuah. Hal ini tercermin antara lain dalam cukup tingginya angka perceraian dalam masyarakat, termasuk di Indonesia.

Karena itu, dalam kehadiran Gereja Katolik selama 210 tahun di Jakarta, tantangan hidup berkeluarga ini juga menjadi perhatian penting. Arah Dasar Keuskupan Agung Jakarta 2016-2020 juga menyebutkan pastoral keluarga ini sebagai salah satu prioritas.

Untuk mewujudkan perhatian dan keprihatinan itu, Keuskupan Agung Jakarta, seperti halnya Keuskupan-keuskupan yang lain, mempunyai Komisi Kerasulan Keluarga, dan kemudian di tingkat paroki ada seksi kerasulan keluarga. Bahkan, tak jarang di Lingkungan pun ada seksi kerasulan keluarga. Meski begitu, “jaring” yang dibuat ini tidak mampu menjala setiap keluarga. Di sinilah kehadiran komunitas-komunitas kategorial menjadi perlu.

Komunitas Kategorial
Kehadiran komunitas kategorial untuk konteks Keuskupan Agung Jakarta tidak bisa dilepaskan dari pengaruh sosiologis yang berkembang cepat. Dengan mobilitas yang tinggi, dan waktu tempuh dari rumah ke tempat kerja yang lama, ikatan umat, juga keluarga, dengan teritori atau wilayahnya menjadi longgar. Tidak sedikit umat yang pergi ke gereja yang bukan parokinya karena alasan ini, ditambah dengan pengaruh sistem transportasinya. Karena itu, seksi kerasulan keluarga paroki tidak mampu menjala semuanya.

Dalam konteks itu pula, sejak 1991, di Keuskupan Agung Jakarta, komunitas-komunitas kategorial didorong untuk bertumbuh, tentu juga supaya berbuah.
Komunitas-komunitas itu ada yang disatukan karena minat dan perhatian yang sama, ada yang karena profesi yang sama, atau juga karena usia yang sama. Salah satu jenis komunitas itu adalah komunitas yang mempunyai perhatian pada keluarga.

Sampai hari ini, setidaknya tercatat ada beberapa komunitas kategorial keluarga, seperti Catholic Blessed Families (CBF), Couple for Christ (CFC),
Marriage Encounter (ME), dan Semakin Tua Semakin Manis (STSM), serta juga Komunitas Gratia yang lebih berwarna karismatik. Masing-masing berusaha berperan dengan kekhasannya masing-masing, tetapi semua berfokus pada upaya mempertahankan dan meningkatkan relasi suami-istri.

Selain itu, ada juga dua komunitas yang berusaha memperhatikan keluarga yang “tidak lengkap” alias tanpa suami atau tanpa ayah, yaitu Single Mother Community (SMC) dan You Are Not Alone (YANA). Kedua komunitas ini berusaha memperhatikan dan memperkuat para ibu tunggal supaya bisa menjalani hidup dengan baik, termasuk perhatian pada anak-anaknya. Yang dimaksud dengan ibu tunggal adalah mereka yang tidak mempunyai suami, namun mempunyai anak, atau yang ditinggalkan oleh suaminya. Karena itu, tidak kalah penting adalah tujuan agar mereka tetap merasa sebagai orang Katolik yang tidak dinomorduakan karena statusnya. Mereka tetap orang Katolik “penuh”.

Peran komunitas-komunitas itu tidak terpisah dari peran Komisi Kerasulan Keluarga di tingkat Keuskupan maupun Seksi Kerasulan Keluarga di tingkat paroki. Tidak sedikit anggota komunitas-komunitas itu menjadi anggota komisi maupun seksi di paroki. Meski komunitas-komunitas itu ada dalam koordinasi Pertemuan Mitra Kategorial (Pemikat), tetapi dalam issue-nya komunitas-komunitas itu terkait erat dengan Komisi Kerasulan Keluarga. Karena itu pula, dalam banyak kegiatan, baik di tingkat Keuskupan maupun paroki, komunitas-komunitas itu juga berperan menjadi pendukung Komisi/ Seksi Kerasulan Keluarga. Meski mereka juga mempunyai kegiatan internal untuk anggotanya. Peran inilah yang tentunya memperkaya pastoral Gereja, dan memberi makna pada kehadiran Gereja di Jakarta.

Kreativitas Pastoral
Peran yang telah dimainkan komunitas-komunitas kategorial itu sudah bagus, tetapi tentu perlu lebih ditingkatkan pada masa depan. Seperti telah disinggung, tantangan-tantangan hidup berkeluarga makin berat. Karena itu,
dibutuhkan suatu kreativitas pastoral dalam menanggapinya, baik dengan merumuskan ulang fokus maupun cara-caranya. Apalagi, untuk ke depan, cara berpikir keluarga baru sudah sangat berbeda dengan keluarga pada masa lalu. Pengaruh gadget menjadi salah satu sebab utamanya.

Dalam hal ini, yang juga perlu lebih ditekankan adalah kerjasama yang lebih
baik antara komunitas-komunitas ini dengan komisi/seksi kerasulan keluarga, maupun kerjasama dengan komunitas serupa. Pendeknya, perlu terus diingat agar komunitas-komunitas tidak jatuh dalam eksklusivitas. Dengan bekerja sama, kreativitas pun akan terpacu dan pelayanan akan menjadi lebih baik.

Kerjasama itu pun akan lebih bagus jika merangkul komunitas-komunitas yang tidak sejenis. Komunitas-komunitas yang berfokus pada keluarga ini bisa bekerjasama dengan komunitas yang berciri sosial atau spiritual, supaya bisa saling memperkaya. Perlu disadari bahwa mereka yang tidak bergabung dalam komunitas keluarga ini pun mempunyai keluarga. Dengan kata lain, perhatian itu ditularkan secara tidak langsung. Meski mereka tidak secara formal menjadi anggota suatu komunitas keluarga, tetapi perhatian pada keluarga tetap ada, dan bahkan ditingkatkan.

Masih dalam kaitan dengan hal ini, komunitas-komunitas yang sudah ada tidak perlu merasa disaingi jika ada komunitas baru. Komunitas baru, dengan gaya dan pendekatan yang baru, sangat mungkin muncul berhadapan dengan segala macam tantangan baru yang dihadapi keluarga. Di sini perlulah diingat bahwa pelayanan terhadap keluarga begitu luas. Jadi, jika ada komunitas baru muncul, seharusnya disyukuri sebagai rekan baru yang mau melayani.

Al. Andang L. Binawan SJ
Vikaris Episkopal KAJ

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*