Artikel Terbaru

Tak Punya Keturunan Selingkuh Menjadi Solusi, Bolehkah?

Tak Punya Keturunan Selingkuh Menjadi Solusi, Bolehkah?
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Dear Romo Erwin, keluarga saya sedang bermasalah. Saya dan suami baru tiga tahun menikah. Kami belum dikaruniai anak, meski sudah mencoba. Sayang, pada Desember tahun lalu, saya mengetahui suami punya hubungan spesial dengan perempuan lain, mantan rekan kerja sekantornya. Hubungan mereka membuahkan anak, tapi digugurkan (aborsi). Kemudian perempuan itu hamil lagi, dari hubungan dengan suami saya. Kabar yang mengagetkan itu baru saya ketahui bulan ini. Sejak pertama kali mengetahui perselingkuhan suami, saya sudah menasihati dan memintanya agar menghentikan perselingkuhan mereka.

Dia malah mengatakan, jika perempuan selingkuhannya melahirkan dan memberikan anaknya itu kepada saya dan suami untuk dirawat, maka suami akan tetap bersama saya. Atau dia akan tinggal bersama perempuan itu, jika tak memberikan anaknya kepada kami. Saya, suami, dan orangtua kami sempat datang ke rumah perempuan itu, tapi tak ada penyelesaian. Apa yang harus saya lakukan, Romo?

Fransiska Natalia, Jakarta

Saudari Fransiska yang baik, terima kasih atas pertanyaanmu. Perkawinan tak boleh berbatas punya dan tak punya anak. Meskipun tiap perkawinan harus terbuka kepada kelahiran anak, tetapi tak ada syarat bahwa tiap perkawinan harus bisa punya anak, sebab anak melulu anugerah dari Allah untuk suami-istri yang menikah. Semoga dasar ini Anda mengerti, supaya Anda jangan terjerumus kepada perasaan bersalah dan membiarkan suami Anda melegalkan perselingkuhan atas dasar ingin punya anak.

Ketika menikah dulu, apakah ada syarat bahwa pernikahan kalian harus bisa mendapatkan anak? Apakah pernah muncul suatu pernyataan, jika tak punya anak maka suami akan menikah atau punya istri lagi? Tentu tidak, kan? Jika sekarang muncul gagasan perselingkuhan itu, maka itu tidak dapat dibenarkan. Perselingkuhan tetaplah perselingkuhan, dan tak dihalalkan oleh Gereja. Jika suami ingin berpoligami, itu saja membuat perkawinan terganggu.

Pernikahan harus menjamin adanya kesetiaan, sehingga kedua pihak yang menikah terjamin kesejahteraan dan ketenangannya. Jika perkawinan bersyarat sesuatu yang tak mungkin diatur manusia, maka perkawinan itu menjadi cacat. Saya menyayangkan bahwa suami Anda membuat persyaratan sendiri yang tak terdapat dalam syarat Gerejawi.

Pengguguran dan poligami yang diinginkan suami Anda jelas sesuatu yang salah dan tak dapat diterima oleh Gereja dan tentu saja oleh Anda sendiri. Jangan ragu mempertahankan ajaran yang baik ini di hadapan semua orang. Jangan berkecil hati lalu menyerah, karena Anda tak punya anak. Kemandulan tak membuat perkawinan menjadi batal (KHK kan. 1084). Jika akhirnya suami Anda menikah, maka ia terkena ekskomunikasi dan tak dapat menerima Komuni.

Persoalan ini bukan berpusat pada mau tidaknya Anda merawat anak mereka. Anda harus dengan bijaksana memilah mana permasalahan yang dibuat suami Anda, dan mana yang menjadi persoalan kalian berdua. Anda tak mempunyai kewajiban apa pun atas anak mereka. Jika ini dijadikan alasan, maka Anda mengambil tanggung jawab yang lain dan tak wajib Anda ambil. Menurut saya, dengan mengadopsi anak mereka, tidak ada jaminan bahwa suami Anda akan berhenti berselingkuh di kemudian hari.

Usul saya, mintalah bantuan pihak ketiga: konselor, romo paroki, atau orangtua kalian agar menjadi saksi atas semua ini. Jangan tersembunyi, supaya persoalan jangan berlanjut tanpa jaminan akan berhenti. Perkawinan Anda adalah yang utama. Suami boleh saja mempunyai persoalan, Anda siap membantunya, tetapi tak mengacaukan hakikat perkawinan dengan poligami yang harus Anda setujui.

Saran penting, Anda berdua perlu membangun komunikasi yang lebih lancar. Jangan membiarkan suami Anda mendominasi seluruh sisi kehidupan kepasutrian. Anda harus lebih berperan, memberi ide-ide, memberi pertimbangan, berani berkata tidak jika sesuatu salah, dan mengajak suami untuk lebih baik hidup berimannya dengan berdoa bersama.

Alexander Erwin Santoso MSF

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*