Artikel Terbaru

Kesempatan Ketiga Sang Mantan Bintang Telenovela

Amada bersama suami dan anaknya.
[maxresdefault]
Kesempatan Ketiga Sang Mantan Bintang Telenovela
5 (100%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.com – Dua kali melakukan aborsi dan nyaris bunuh diri, Amada Rosa Pérez kini getol membela kehidupan. Dunia showbiz, yang melambungkan namanya, ia tinggalkan.

Orang mudah membahas citra positif tentang dirinya. Tapi tak banyak orang, secara sadar, berani dan bersedia menguak sisi kelam kehidupannya di hadapan publik. Apalagi bila orang itu sosialita, peristiwa dan kabar yang mengancam karier harus dibungkus rapat.

Nama Amada Rosa Pérez semula dikenal sebatas profesi dan lakonnya di sejumlah telenovela. Model dan artis papan atas ini membintangi sejumlah peran di opera sabun, misal La Costeña y el Cachaco, Vuelo 1503, dan Lorena. Tapi, pada 2007, perempuan berambut pirang ini terpaksa menghentikan laju kariernya. “Menurut diagnosa dokter, telinga kiri saya hanya berfungsi 60 persen,” ujar Amada kepada koran lokal, El Tiempo.

Amada seperti ditelan bumi sejak saat itu. Orang tak lagi mengetahui kabar tentang dia. Lima tahun kemudian, warga Kolombia terkejut dengan kemunculannya. Ia yang dulu tampil glamour, kini terlihat anggun. Dan yang lebih mencengangkan, Amada bicara blak-blakan soal peristiwa terkelam dalam hidupnya, serta jalan pertobatannya.

Melakukan Aborsi
Masih kental dalam ingatan Amada ketika dirinya berusia 18 tahun. Suatu hari ia pergi ke gedung olah raga. Tanpa sengaja, ia bertemu seorang pencari bakat. Orang itu menawarkan Amada menjadi model. Bagai kucing yang diberi ikan asin, Amada langsung mencaplok tawaran itu. “Dalam benak saya, uang, pesta, terkenal, sukses, dan jalan-jalan…. Saya langsung mengiyakan (tawaran itu-Red),” ujar Amada.

Ambisi Amada meraup kenikmatan dan popularitas kian terbuka lebar, begitu
memenangi kontes kecantikan di negerinya. Tak tanggung-tanggung, ia menyabet empat gelar juara dalam kompetisi itu. Prestasi di ajang seperti itu menjadi pintu masuk ke level tertinggi.

Amada mulai kebanjiran tawaran sebagai talent foto model. Perpaduan antara paras menawan dengan tubuh semampai, menjadikan mahasiswi Fakultas Administrasi Bisnis, Universitas Cartagena, Kolombia sebagai ikon baru di dunia modeling.

Bisnis hiburan menyasar berbagai bidang. Hal ini dialami Amada. Tenar di dunia model, Amada pun laris menerima kontrak bermain di berbagai judul sinetron ala Amerika Latin, telenovela. Panggung catwalk dan bisnis pertunjukan, membantu Amada mewujudkan impian masa remajanya.

Sayang, kesuksesan itu justru membuat Amada silau. Ia tak bisa menjaga langkah dan kelakuan. Ia “kumpul kebo”, menenggak minuman berakohol, obat-obatan, dan mempercayai takhayul. “Saya jemawa karena semakin populer,” kenangnya, seperti dikutip catholic.net.

Suatu hari, Amada merasa bangunan kariernya terancam rubuh. Buah hubungan terlarang membuatnya berbadan dua. Ia khawatir kariernya yang sedang naik daun bakal segera layu. Amada mengambil jalan pintas, menggugurkan bayi dalam kandungannya. “Kata mereka, ‘memiliki anak akan mengakhiri karierku’,” ujarnya dalam situs marylandmovie.org.

Rupanya, Amada tak belajar dari pengalaman. Bila tahu mengandung bakal menghentikan karier, mestinya ia menjaga tubuh dan sikap, tak lagi berzina. Tapi apa lacur, Amada kembali mengandung jabang bayi. Nasib bayi tak berdosa dalam rahimnya berakhir nahas. Amada lagi-lagi membunuh anaknya.

Kejadian kedua ini membuat ia terpukul. Amada seakan menanggung beban berat dalam kehidupan. Ia berusaha menghibur diri, tapi justru kesiasiaan yang didapat. “Hidup saya terasa hampa. Saya kerap merasa amat bersalah, mengalami depresi, hingga berniat bunuh diri. Saya pun sering mengalami mimpi buruk tentang bayi dan mendengar tangis mereka. Harga diri saya telah runtuh,” keluh Amada.

Anti Aborsi
Tak hanya deraan psikis, Amada juga menanggung siksaan fisik atas perbuatannya. Ia sulit tidur dan makan. Buntutnya, pada 2007, ia menderita gangguan pendengaran di telinga kirinya. Sakit itulah yang membuat kariernya karam. Amada sungguh-sungguh hilang dari dunia hiburan.

Sakit telah merenggut karier dan ketenarannya. Tapi gering itu membuat Amada menginstropeksi dirinya. “Saya mulai mempertanyakan seluruh hidup saya. Ternyata, selama ini saya berjalan tanpa arah, meraih kenikmatan tapi hanya bertahan sementara,” aku Amada kepada www.catolicadad.com.

Pada sebuah kesempatan, Amada pergi ke Mesir. Ia masuk ke sebuah gereja. Di dalam gereja, ia melihat sepenggal tulisan yang berbunyi, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberikan kelegaan kepadamu.” Kalimat itu berasal dari Injil Matius 11:28. “Saya selalu mencari jawaban apa yang membuat saya seperti ini. Tapi dunia tak pernah memberikan jawaban,” katanya.

Pulang dari Mesir, Amada mulai menata hidup. Pertama-tama, ia menyesali seluruh perbuatannya. Lantas, ia pergi ke gereja dan mengaku dosa di hadapan imam. Hingga kini, Amada rutin datang ke ruang pengakuan. Ia juga membenahi hidup rohani yang sudah amat lama tak tersentuh olehnya.

Amada juga menghadiri Misa dan berdoa Rosario tiap hari. Ia pun selalu memohon pengampunan Tuhan, dengan berdoa Koronka Kerahiman Ilahi saban pukul 15.00. Perlahan-lahan, beban di pundaknya berkurang. Meski demikian, ia tak menyangkal, bayangan aborsi tak hilang. “Saya selalu berpikir, seandainya anak saya masih hidup, apa yang akan ia sumbangkan kepada masyarakat, atau apa yang bisa ia pelajari?” tanya Amada dalam wawancara bersama RCN TV.

Lewat peristiwa hidupnya, Amada kini getol mengkampanyekan anti-aborsi, terutama kepada remaja putri. “Aborsi akan membebanimu seumur hidup. Ketakutan dan tekanan akan terus menghantui, dan bisa merenggut nyawa kalian,” serunya.

Amada juga garang sebagai salah seorang penentang dekriminalisasi pelaku aborsi di negerinya. Menurut Amada, tak bisa mengatakan aborsi itu hak setiap individu, sebab dengan hak itu mereka bisa semena-mena menghilangkan hidup manusia, yang merupakan hak asasi yang paling asasi. “Kehamilan merupakan anugerah eksklusif yang hanya dimiliki perempuan, syukurilah itu,” katanya.

Mukjizat Tuhan
Tak lagi menjadi model dan artis, pada 2013, Amada berlabuh di kantor bantuan hukum pemerintah. Di lingkungan baru ini, ia bertemu dengan Alejandro Pérez, salah satu advokat di tempat itu. Mereka menjalin hubungan hingga berlanjut ke pelaminan. Betapa bahagianya Amada, Tuhan memberikan seorang bayi laki-laki buat mereka. “Ini sebuah mukjizat bagi saya,” kata Amada.

Wajar Amada mengatakan seperti itu. Ia berpikir, setelah dua kali aborsi, bakal tak mendapatkan momongan. Tuhan rupanya masih memberikan kesempatan ketiga buat mantan bintang ini. “Jika anak saya perempuan, akan dinamai María Guadalupe, sebagai bentuk penghormatan kepada St Perawan Maria. Tapi jika laki-laki, ia akan saya namai Miguel Alejandro, untuk menghormati St Mikael, sekaligus sama seperti nama suami saya,” kenang Amada, ketika kehamilannya baru berusia empat bulan.

Bahagiakah Amada dengan hidup barunya, meski tak lagi menjadi bintang? “Saya amat bersyukur dan gembira dengan kesempatan ini. Mungkin beberapa orang mengatakan saya gila. Tapi, baik, ‘kegilaan’ Tuhan lebih indah ketimbang pengetahuan manusia,” ujar Amada seperti dilansir www.jetset.com.

Yanuari Marwanto

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*