Artikel Terbaru

Komitmen Bangun Bumi Aekhula

Nitema Gulö dan istri dalam usaha memajukan pariwisata Kabupaten Nias Barat.
[HIDUP/Yusti H. Wuarmanuk]
Komitmen Bangun Bumi Aekhula
5 (100%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.com – Ia menjadi dosen yang sangat dikagumi. Tetapi demi misi membangun daerahnya, ia terjun ke birokrasi. Ketua DPRD Nias Barat ini tak pernah lelah melayani masyarakat.

Ruas jalan provinsi di Gunung Sitoli menuju Kecamatan Lahomi, ibukota Kabupaten Nias Barat, rusak parah. Pemerintah Kabupaten Nias Barat menetapkan jalan ini sebagai darurat dan rawan kecelakaan. Banyak pengguna jalan mengeluh ketika melewati jalan tersebut. Miris, karena jalan yang dibangun Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh-Nias yang selesai pada 2007 ini tak pernah mendapat perbaikan.

Situasi jalan ini membuat Nitema, Ketua DPRD Nias Barat, naik pitam. Pria yang bernama lengkap Nitema Gulö ini gemas menyaksikan akses jalan antarprovinsi ini belum juga diperbaiki. Dalam Musyawarah Pembangunan (Musrenbang) Kabupaten Nias, Maret 2017 lalu, Nite, sapaan akrabnya, tegas menyampaikan aspirasi daerah terhadap pemerintah pusat soal program percepatan pembangunan jalan lingkar Pulau Nias yang belum ada kejelasan.

Program jalan lingkar Pulau Nias, katanya, sudah dianggarkan pemerintah pusat pada 2016, tapi sampai kini belum belum ada kejelasan. “Kami minta tolong Pemerintah Pusat untuk memprioritaskan ini,” cetus Nite.

Penyadap Karet
Nite lahir sebagai anak ke delapan dari sembilan bersaudara, keluarga pedagang dan petani. Sejak kelas 2 SD, Nite sudah mahir menyadap karet dan membantu ibunya memberi makan ternak babi milik keluarga. Pengalaman kesederhanaan keluarga Nite terus membakar tekadnya untuk kelak menjadi orang sukses. Pria kelahiran Desa Zuzundrao, Nias, 31 Juli 1965 ini pun bertekad untuk membangun daerahnya. “Suatu saat, saya ingin kembali untuk membangun daerah saya menjadi daerah maju, baik dari segi ekonomi maupun pendidikan,” kisah Nite mengenang ihwal ketika ia meninggalkan Nias untuk kuliah.

Lahir sebagai putra Nias, Nite ingin banyak orang melirik “surga tersembunyi” di Provinsi Sumatera Utara itu. Nias, kata Nite, menyimpan kekayaan alam dan kaya akan tradisi. Banyak wisatawan domestik dan internasional plesir ke Nias karena pantai dengan gelombang yang menawan di Pulau Asu. Sayang, keindahan itu hanya menjadi “surga tersembunyi”. Maka ketika menjadi Ketua DPRD, Nite bertekad menjadikan Bumi Aekhula, “Tanah Nias belahan barat” sebagai The Paradise on Earth.

Nite dikenal sebagai pribadi yang ugahari. Ia selalu menyambut hangat setiap orang yang menghampirinya. Tak pernah ada gurat lelah di raut wajah Nite, meski sepanjang hari dilalui dengan rapat berkali-kali. “Ini tugas saya sebagai unsur penyelenggara pemerintah daerah di Kabupaten Nias Barat,” ungkapnya.

Pria lulusan Magister Pertanian Institut Pertanian Bogor ini memulai karier di bidang pendidikan sebagai dosen Universitas Katolik (Unika) St Thomas Sumatera Utara. Saat bergulirnya reformasi di Indonesia tahun 1998, dunia politik Indonesia mengalami perubahan. Setelah runtuhnya rezim Soeharto, perpolitikan di Indonesia berubah menjadi multipartai. Salah satu partai yang muncul adalah Partai Demokrasi Kasih Bangsa (PDKB). Ia lalu menjadi Sekretaris DPD PDKB Sumatera Utara. Setelah dua tahun di PDKB, Nite bergabung dengan Partai Peduli Rakyat Nasional (PPRN). Pada Pemilu 2009, Nite mencalonkan diri sebagai calon anggota legislatif dari PPRN di daerah pemilihan Kepulauan Nias. Namun, ia tidak terpilih.

Nite tak putus asa. Pada 2011 dibuka pemerintahan definitif di Nias Barat sebagai hasil pemekaran Kabupaten Nias tahun 2008. Bupati terpilih saat itu, A. Gulö sekaligus Ketua DPC Partai Demokrat memintanya bergabung. Tawaran ini disanggupi Nite dan mencoba keberuntungan pada Pemilu 2014. Ia pun terpilih. Partai Demokrat mengusulkan dia sebagai Ketua DPRD. “Ini seperti mimpi di siang bolong. Tetapi kepercayaan tetaplah kepercayaan. Saya harus membuktikan dengan kinerja saya melayani masyarakat,” janjinya.

Terus Membangun
Status tidak membuat Nite angkuh. Ia sadar darimana dirinya berasal dan apa
misinya ketika menjadi wakil rakyat. Nite mengungkapkan alasannya ingin berkecimpung dalam politik karena menyaksikan cara kerja pemerintah yang terkadang terlalu lamban dan kurang jeli terhadap pembangunan daerah. “Tentu saya mau mengubah pelayanan yang serba lambat di pemerintahan. Budaya malas para birokrat seperti dibiarkan saja. Pemerintah banyak menyadari kesalahannya, tetapi tidak mau mengakui kepada rakyat. Saya ingin bekerja dengan tulus dan tanggap terhadap situasi masyarakat,” demikian sum pahnya ketika dilantik menjadi Ketua DPRD.

Nite menandaskan, lambannya usaha pemerintah dalam bidang pendidikan ia alami ketika pada 2007, saat menjabat sebagai Manajer Pengembangan Ekonomi dan Usaha BRR Nias Selatan. Di lembaga yang sama, ia sempat merangkap sebagai Manajer Kelembagaan dan Pengembangan SDM. Sebagai manajer, Nite sudah membangun kerjasama dengan pemerintah.

Kerjasama serupa terjadi ketika Nite dipercaya sebagai Adviser dan Liaison di
United Nation Development Programme (UNDP), lembaga naungan PBB tahun 2009-2012. Ia melakukan kerjasama dengan pemerintah untuk pemulihan pasca gempa dan tsunami di Nias dan Aceh. Bersama Sarmedi Purba, ia membantu 25 anak korban tsunami di Nias Barat untuk bersekolah hingga perguruan tinggi, membangun tiga ruang kelas SD di Orahili Hilimaoga serta mendorong pembangunan jembatan gantung di Sungai Moro’o, Desa Sisarahili Mandrehe, Nias. Prinsip Nite, bila pemerintah lamban, ia siap membantu masyarakat.

Jalan hidup ini milik Tuhan, maka harus bersyukur dengan cara mendorong anak-anak muda, agar bekerja keras dan bangkit dari ketertinggalan. Nite cukup prihatin melihat sumber daya manusia di Nias yang sangat terbatas, sementara sumber daya alam melimpah ruah.

Untuk mewujudkan semua itu, ia mengharapkan agar insan pemangku kepentingan dan birokrasi di Nias Barat harus betul-betul sadar akan tanggung jawabnya. Setidaknya takut kalau mengambil uang negara. Baginya jabatan dan birokrasi bukan ajang mengakal-akali uang negara atau membuat kebocoran anggaran, tetapi kerelaan untuk berkorban demi rakyat. “Sebab, pribadi yang ingin cepat kaya, cepat-cepat punya rumah, dan mobil mewah tanpa usaha keras adalah birokrat yang bukan bekerja di jalan Tuhan,” pungkas Nite.

Nitema Gulö
TTL : Desa Zuzundrao Dusun II Hoe, 31 Juli 1965
Istri : Yuniati Laia
Anak : Nivita Luciana Gulö, Carlos Sendroro Gulö, dan Matias Ariel Haga Gulö

Pendidikan
• SD Negeri Sisarahili Mandrehe (lulus 1979)
• SMP Negeri Mandrehe (lulus 1982)
• SMA Negeri Lubuk Pakam Deliserdang (lulus 1985)
• Sarjana Teknik Pertanian Unika St Thomas Sumut (lulus 1989)
• Pasca Sarjana (S-2) Institut Pertanian Bogor (lulus 1995)

Pekerjaan
• Asisten Ahli Pengembangan Kultur Jaringan Anggrek Dendrobium dan Falenopsis (1986- 1992).
• Dosen Tetap Fakultas Pertanian Unika St Thomas Sumut (1990-2009)
• Wakil Kepala BRR NAD Nias Distrik Nias Selatan (2008).
• BKRN Advisor United Nations Development Programme (UNDP) PBB (2009-2010)
• Liaison Offi cer United Nations Development Programme PBB (2010 – 2012)
• Ketua DPRD Nias Barat tahun 2014-sekarang Penghargaan
• Partisipasi sebagai Professional Pattern of Management
• Partisipasi dari Associate Chartered Financial Practitioner Organisasi
• Wakil Ketua DPC Partai Demokrat Nias Barat (2011-2016)
• Sekretaris Badan Pemekaran Provinsi Kepulauan Nias (2012- sekarang)
• Wakil Ketua FMKI Sumatera Utara (2003-2007)
• Ketua DPP Ikatan Sarjana Nias Indonesia 2000 – 2004
• Ketua Seksi Keanggotaan Perhimpunan Ahli Pangan Indonesia (1998-2000)

Yusti H.Wuarmanuk

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*