Artikel Terbaru

Penabur Harapan Bagi Anak Nelayan Miskin Cilincing

Anak-anak belajar di kelas TK B.
[HIDUP/Christophorus Marimin]
Penabur Harapan Bagi Anak Nelayan Miskin Cilincing
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Melalui pendidikan, Yayasan Sosial Lumba-lumba mencoba memberikan peluang yang sama bagi anak-anak nelayan miskin di sekitar Cilincing, Jakarta Utara. Mereka juga punya hak sama seperti anak-anak lain.

Tidak ada satu anak pun yang bodoh. Semua anak lahir dengan potensi yang adalah karunia Tuhan. Setiap anak akan mampu beradaptasi dengan pembelajaran. Apabila diperlukan, pembelajaran itu bisa dimodifikasi untuk memudahkan anak mengembangkan potensi dirinya. Keyakinan inilah yang diterapkan Yayasan Sosial Lumba-lumba (YSLL) Kalibaru, Cilincing, Jakarta Utara dalam mendampingin anak-anak prasekolah. Kebanyakan, anak-anak yang didampingi YSLL adalah anak para nelayan di sekitar Cilincing. Tiap Senin sampai Jumat lebih dari seratus anak-anak prasekolah berkumpul di rumah pendidikan milik YSLL.

Dalam pendampingan ini, anak-anak dibagi ke dua kelas; kelas TK A dan TK B. Pembagian ini berdasarkan usia anak-anak. Di tempat inilah, anak-anak yang setiap hari akrab dengan suara ombak dan desir angin pantai utara Jakarta mulai merajut cita-cita.

Memberi Kesempatan
Saat ini, jumlah anak-anak yang masuk dalam kelas TK A sebanyak 41 anak. Setiap hari, mereka belajar baca, tulis, dan berhitung. Anak-anak mungil ini mulai dikenalkan dengan huruf, angka, dan sedikit berhitung. Jam pengajaran dibagi menjadi dua kelas, yakni kelas pagi dan siang. Kelas pagi mulai pukul 08:00 sampai 09:00. Sementara kelas siang dimulai dari pukul 09:00 hingga 10:00.

Lestari Ambarwati belum genap setahun mendampingi anak-anak di TK A. Namun, Ambar memiliki impian untuk anak-anak nelayan ini. Ia optimis, setiap semester genap anak-anak yang dia ajar harus sudah bisa membaca dan berhitung. “Meskipun membacanya belum begitu lancar,” ujar Ambar.

Ambar menyadari, proses pengajaran yang ia terapkan sedikit berbeda dibanding prasekolah formal umumnya. Anak-anak diberikan pembelajaran yang sudah dimodifikasi dengan aneka permainan dan nyanyian. Hal ini dibuat agar anak-anak lebih siap dan lebih mudah menerima pengajaran.

Saat awal mengajar di tempat ini, Ambar sempat kaget. Lantaran, anak-anak yang harus ia dampingi sangat banyak. Ada 41 anak kala itu. “Selama ini, pengalaman saya mendampingi kelas prasekolah jumlah anak tidak pernah lebih dari 15 anak,” kisahnya.

Namun, hal itu tentu bukan halangan bagi Ambar untuk memberikan pengajaran yang terbaik. Ambar menjalankan tugasnya dengan sepenuh hati. “Mengajar di sini saya jadikan salah satu bentuk ibadah, dan kecintaan saya terhadap dunia anak-anak dan pendidikan,” papar Ambar.

Pemandangan sedikit berbeda di ruang kelas TK B. Anak-anak tak lagi diajarkan mengenal angka dan huruf. Mereka diajarkan membaca kalimat-kalimat yang agak panjang, serta menjumlah atau mengurangkan angka-angka. Jumlah siswa di kelas TK B sebanyak 72 anak. Sama seperti di kelas TK A, kelas ini juga dibagi dalam dua kelas; kelas pagi dan kelas siang. Anak-anak di kelas ini belajar selama dua jam.

Yosephine Erna Yuniarti sudah hampir 20 tahun mengajar di YSLL. Saat ini, dia bertanggung jawab mendampingi TK B. Ia mengatakan, selain mengajar berhitung dan membaca, hal yang paling penting adalah menanamkan pendidikan moral bagi anak-anak. “Pendidikan moral sangat penting, sementara yang lain sebagai pelengkap saja.”

Menurut Erna, yang membedakan pendidikan di YSLL adalah peran orangtua para siswa. Jika di sekolah lain, orangtua bisa memantau perkembangan anak mereka secara terus-menerus. “Di sini beda. Masih banyak orangtua yang berpendapat, mau sekolah syukur, tidak pun tidak apa-apa.” Bagi kebanyakan orangtua siswa, yang mayoritas nelayan miskin, bersekolah bukanlah sebuah keharusan. Mereka lebih sibuk mencari sesuap nasi dan uang untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. “Orangtua anak-anak ini menggantungkan hidup dengan menjadi nelayan lepas atau menjadi buruh kupas kerang” papar umat Paroki Salib Suci Cilincing ini.

Erna menargetkan, saat masuk sekolah dasar, anak-anak ini sudah siap. Ia bermimpi, anak-anak ini juga bisa bersaing dengan teman-teman lain saat di sekolah dasar. Bagi Erna, mengajar adalah salah satu bentuk pelayanan untuk Tuhan. “Dari segi materi, anak-anak boleh kekurangan, tetapi dari sisi pendidikan jangan. Kami hadir untuk mencoba memberikan kesempatan yang sama bagi anak-anak ini agar tidak merasa berbeda dengan mereka yang bersekolah formal,” ungkapnya.

Erna berharap, semangat untuk mengajar anak-anak ini terus terjaga, bahkan jika bisa terus ditingkatkan. Melalui pendidikan, Erna berusaha membangkitkan semangat anak-anak. “Siapa tahu, ada yang tergerak hatinya untuk membantu dalam hal tenaga atau mau berbagi dukungan dana bagi anak-anak ini.”

Mari Terlibat
Berputarnya roda pelayanan YSLL tidak bisa lepas dari enam srikandi pendiri awal. Mereka adalah Yofita Sulastriasih, Gertrudis Anita Rasima, Suwandi Suhartono, Utami Rajiman, Anasri Suratono, dan Rahayu Riadi. Awalnya Yofita bertugas menjadi Ketua YSLL. Saat ini, Ketua YSLL dipegang Gertrudis atau akrab dipanggil Muaral.

Saat ini, lima dari mereka masih berkarya di YSLL. Mereka bertekad terus melayani. Kesetiaan ini karena mereka ingin membagikan cinta kasih yang tulus terhadap masyarakat sekitar. Muaral mengatakan, karya pelayanan ini adalah salah satu cara untuk menampilkan wajah Kristus di tengah masyarakat nelayan miskin.

Selain pendidikan, Muaral menambahkan, YSLL juga menyediakan pelayanan kesehatan bagi warga sekitar. Layanan kesehatan yang diberikan dalam bentuk Posyandu. “Meskipun satu bulan sekali, kami mencoba memberikan yang terbaik,” ujar Muaral.

Selama 40 tahun, YSLL telah setia melayani dan mendampingi para nelayan miskin di sekitar Cilincing. Meski demikian, Muaral masih memendam prihatin, karena penggerak roda pelayanan ini masih amat minim. Belum ada orang muda yang dengan rela melanjutkan gerak pelayanan ini. “Meski begitu, kami tidak pernah bosan mengajak orang muda untuk terlibat. Kami selalu setia menunggu orang muda untuk ikut terlibat aktif dalam pelayanan ini.”

Christophorus Marimin

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*