Artikel Terbaru

Menghangatkan Relasi Muslim-Kristen Lewat Asian Journey

Bergulir lagi: Peserta pertemuan Asian Journey di Bali.
[NN]
Menghangatkan Relasi Muslim-Kristen Lewat Asian Journey
Mohon Beri Bintang
HIDUPKATOLIK.com – Forum dialog Muslim-Kristiani tingkat Asia atau Asian Journey digulirkan lagi setelah “istirahat’’. Dialog Muslim-Kristiani nyatanya tetap jalan.

Sebuah artikel dari Shaheen Whyte (2015) berjudul ”Interfaith Dialogue in an Age of Extremism: Revisiting Muslim-Christian Relations after Nostra Aetate”. Sebutan Age of Extremism (abad ekstremisme) tentu bukan tanpa alasan, mengingat sejumlah tragedi akibat ekstremisme memang terjadi, seperti sepak terjang kelompok Boko Haram, Al-Shabab dan ISIS.

Sebenarnya kita dapat menemukan peristiwa-peristiwa positif yang menyangkut relasi Kristiani-Muslim, tetapi sepertinya itu tak mampu menetralisir tegangan. Peristiwa negatiflah yang lebih menyerap energi. Tidak mengherankan kalau pihak-pihak yang terlibat dalam relasi Kristiani-Muslim sering dibuat gamang. Gugatan dari pelbagai pihak pun sering terdengar. Apakah masih ada gunanya gerakan semacam ini karena nyatanya konflik agama tetap muncul dan bom terus meledak di sana-sini? Apakah ini justru tidak akan melemahkan semangat misi demi pewartaan Injil? Mengapa belajar tentang ajaran iman Kristiani seperti Trinitas, Kristologi, kalau akhirnya orang justru diajak untuk menghargai iman lain? Apakah yang dapat diharapkan dan dibanggakan dari gerakan semacam ini ketika sejumlah orang bersikap antipati terhadap Kristiani?

Orang tahu bahwa upaya untuk mengentaskan kemiskinan telah dilakukan sejak dahulu kala, dan nyatanya kemelaratan tetap ada hingga kini. Rupa-rupanya realitas tentang kemiskinan masih dapat dipahami, namun itu tak berlaku untuk relasi Kristiani-Muslim. Adanya tuntutan bahwa gerakan ini harus mampu menyelesaikan masalah riil, seperti resolusi konflik, peace building, dan perizinan untuk membangun rumah ibadat. Kenyataan yang tak jarang membuat para pemerhati dan pegiat di bidang relasi Kristiani-Muslim merasa gagal.

Kiranya hal itu sudah terasakan sejak dahulu, tak hanya sekarang. Karena itu, sejumlah pemerhati dan pegiat di bidang relasi Kristiani-Muslim dari pelbagai belahan dunia merasa perlu mengadakan forum perjumpaan guna saling menimba peneguhan. Inisiatifnya muncul dari sejumlah pihak yang sempat mengenyam pendidikan khusus dalam kajian Islam dan Bahasa Arab di Roma. Itulah sebabnya mengapa forum itu memakai nama Journées Romaines.

Para pemerhati dan pegiat di bidang relasi Kristiani-Muslim mau menyediakan waktu selama beberapa hari di Roma untuk saling berbagi pengalaman serta refleksi yang menyangkut Islam dan relasi dengan umat Muslim. Journées Romaines yang dimulai tahun 1981 dan dicanangkan berlangsung setiap dua tahun itu dianggap membantu peserta dari Asia. Mereka terinspirasi mengadakan kegiatan dengan intensi serupa. Kemudian lahirlah apa yang dinamai Asian Journey. Bunyi kata  Journées dan  Journey memang mirip, meskipun maknanya berbeda. Journées berarti “hari-hari” sedangkan Journey berarti “perjalanan”. Asian Journey yang direncanakan terselenggara berpindah-pindah dan berlangsung setiap dua tahun. Kalau Journées Romaines misalnya diagendakan pada tahun genap; Asian Journey pada tahun ganjil.

Karena sebab tertentu, salah satunya terkait dengan pergantian pimpinan di Roma, Journées Romaines tidak dapat terus berlangsung. Asian Journey  yang sebenarnya sudah mulai terstruktur sejak 1995 pun ikut limbung. Dokumentasi terakhir tentang Asian Journey yang diperoleh dari internet menunjuk tahun 1997, meskipun ada indikasi bahwa tahun 2000  Asian Journey sempat terselenggara di Kuala Lumpur, Malaysia.

Ada alasan lain yang perlu diperhitungkan mengapa Asian Journey sempat tak terdengar cukup lama. Rupa-rupanya alasannya berhubungan dengan situasi sosial politik dan ekonomi menjelang dan sekitar 2000-an, saat Asia secara umum dilanda krisis moneter. Tidaklah berlebihan bila penyelenggaraan pertemuan dalam skala internasional dianggap mahal. Setelah Asian Journey cukup lama tak terselenggara, maka muncul rasa gamang untuk memulainya lagi.

Apakah dengan tidak terselenggaranya Asian Journey berarti tidak ada kegiatan yang terkait dengan relasi Kristiani-Muslim di Asia? Tentu saja tidak. Gambarannya begini, dalam jangka waktu tertentu, suatu paroki amat aktif dalam penyelenggaraan kegiatan dialog agama secara formal. Nah, ketika tak ada lagi kegiatan dialog secara formal, gerakan dialog di paroki tersebut terkesan vakum. Pernyataan itu tentu tidak tepat, meskipun tidak ada kegiatan dialog formal di paroki itu, tetapi relasi antarumat beriman tetap berjalan, nampak lewat perjumpaan antaraumat dan warga sekitar. Tak tertutup kemungkinan relasi yang terjadi di akar rumput justru lebih alami, riil dan mendalam.

Jadi, kembali ke Asian Journey, mungkin saja itu tak terselenggara selama beberapa waktu, tetapi tentu kita tak dapat mengatakan bahwa selama itu tidak ada perjumpaan Kristiani-Muslim di Asia. Bahwa Asian Journey  akhirnya dapat terselenggara lagi tahun 2015 ini, kita pun perlu mensyukurinya. Diharapkan, ke depan Asian Journey dapat terjaga keberlangsungannya, bukan sekadar sebagai perjumpaan untuk kangen-kangenan atau curhat, tetapi pertama-tama dan terutama sebagai forum komunikasi sekaligus kesempatan untuk saling meneguhkan dan bertukar-pengalaman tentang tantangan-tantangan nyata seputar relasi Kristiani- Muslim di Asia. Kiranya itu sesuai pula dengan harapan Paus Fransiskus. “Di tengah munculnya berbagai rintangan dan kesulitan, terutama akibat aneka bentuk fundamentalisme, kita terus di dorong untuk membangun suatu tradisi ‘dialog’ dengan umat beriman lain atas dasar keterbukaan dalam kebenaran dan cinta …guna saling bergabung dalam tugas pelayanan demi keadilan dan perdamaian” (bdk. Evangelii Gaudium, 250).

Sejumlah tantangan telah menanti kita dalam kaitannya dengan relasi Kristiani-Muslim di Asia. Kita sadar, iman tak hanya perlu dipelihara dan dijaga agar tetap memiliki kesinambungan dengan konteks awal. Namun, Iman juga perlu ditumbuhkan dalam kesinambungan dengan konteks sekarang, termasuk di tengah lingkungan Muslim. Di sini, Teologi Kontekstual pun terasa mendesak. Hal lain, orang saling berjumpa dalam keseharian bukan pertama-tama sebagai komunitas religius, tapi sebagai individu dan warga negara. Kita ditantang tak hanya memahami ajaran doktrinal serta mengungkapkannya dalam suatu bentuk perayaan iman, tapi juga membuat perwujudan iman dalam praksis sosial sesuai dengan konteks kultural, dalam semangat belarasa demi kebaikan bersama, termasuk dengan saudara-saudari kita kaum Muslim. “Sabda Allah mengajarkan bahwa saudara dan saudari kita adalah perpanjangan dari inkarnasi bagi kita masing-masing” (Evangelii Gaudium, 179).

Quo Vadis Asian Journey? Mengingat Asian Journey yang mulai bergulir lagi ini memiliki konteks agak berbeda dari awal lahirnya, mungkin muncul tuntutan untuk perumusan ulang atas identitasnya yang baru. Harapan mayoritas peserta Asian Journey di Bali memiliki forum pelatihan bagi pegiat relasi Kristiani- Muslim telah terfasilitasi lewat program internasional Asia Pacific Theological Encounter Program selama sebulan dan program dua kali setahun dalam Bahasa Indonesia. Semuanya kini kembali pada kita sendiri!

J.B. Heru Prakosa SJ
 

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*