Artikel Terbaru

Tantangan Merajut Jejaring dan Dialog Muslim-Kristen

Mempererat Jejaring: Suasana diskusi Asian Journey di Kuta, Bali.
[NN/Dok.Asian Journey]
Tantangan Merajut Jejaring dan Dialog Muslim-Kristen
5 (100%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.com – Setelah terlelap lebih dari 15 tahun, forum bagi para pegiat dialog Katolik-Islam bangkit. Asian Journey menjadi wadah mempererat jejaring dan dialog.

Kamp pengungsi Zamboanga, Filipina Selatan, September 2013. Seorang lelaki Muslim nampak tergesa menemui seorang pastor. Kerut di dahinya mengisyaratkan rasa lelah dan bingung. Meski mereka sudah bersahabat sekian waktu, pembicaraan empat mata itu berlangsung amat tegang.

Si lelaki itu berkisah, sepasang kekasih sudah merencanakan pernikahan. Hari, tanggal, bulan dan tempat yang dinilai baik telah ditentukan. Sayang, semua kandas karena desa mereka diserang kelompok bersenjata Moro National Liberation Front (MNLF). Serangan itu meluas menjadi baku tembak dengan militer Filipina. Alhasil, sepasang kekasih ini masuk dalam bilangan sekitar 118 ribu pengungsi Muslim.

Di kamp pengungsian, kondisi serba terbatas. Mereka mengalami kesulitan merealisasikan rencana bersejarah dalam hidup mereka. Mereka tak punya uang untuk menghelat upacara adat dan membayar penghulu. Bagaimana mungkin menikah dalam situasi mengungsi –bahkan untuk makanan saja sulit?

Berusaha tenang, sang pastor berkata, “Mari, kita nikahkan saja!” Si lelaki itu sontak kaget. Lalu mereka menghitung berapa biaya yang dibutuhkan, yakni 1.000 Peso. Karena hanya memiliki dana separuh, sang pastor mencari sumbangan dari Walikota Zamboanga, Maria Isabelle Climaco Salazar, dan diberi 500 Peso.

Sehari sebelum pelaksanaan pernikahan, sang pastor bertemu wartawan Al Jazeera yang sedang meliput di Kamp Zamboanga. Tanpa berpikir panjang, ia iseng mengundang mereka untuk datang kembali esok hari guna menyaksikan peristiwa unik, pernikahan di kamp pengungsi. Tawaran itu pun mereka terima.

Esok harinya, wartawan Al Jazeera datang dengan mobil. Karena lokasi kamp calon pengantin laki-laki dan perempuan terpisah jauh, mobil Al Jazeera di pinjam untuk menjemput calon pengantin perempuan. Tak disangka, para penjemput calon pengantin perempuan terkejut. Gadis itu tampil cantik dengan dandanan layaknya pengantin. Ternyata ada relawan yang menyediakan diri mendandani si gadis pada hari itu.

Di luar dugaan, hari itu sungguh menjadi perayaan pernikahan yang meriah dan disiarkan Al Jazeera secara apik. Ada kelompok musik tradisional Tausuj yang disewa untuk memeriahkan acara pernikahan. Makanan jatah dari Departemen Kesejahteraan Sosial pun menjadi hidangan dalam acara khas adat Tausuj itu. Kolaborasi banyak pihak tanpa memandang latar belakang agama mendatangkan buah berlimpah dan membahagiakan sesama dalam kondisi sedang teraniaya.

Itulah secuil kisah kerasulan dialog antaragama yang diceritakan Romo Albert Alejo SJ dalam Asian Journey yang digelar di Quest Hotel, Kuta, Bali, Senin-Kamis,29/9-1/10. Jesuit yang sudah berkarya 15 tahun di wilayah konflik di Mindanao itu pun diminta untuk menjadi wali nikah pengantin laki-laki yang dilakukan secara Islam dalam adat Tausuj. “Inilah pesta nikah paling meriah yang pernah saya lihat. Ada semacam “cultural energy” (energi budaya), yakni kekuatan penduduk lokal yang bersumber dari budaya asli mereka, yang muncul dan di ekspresikan justru pada saat-saat genting,” jelasnya kepada HIDUP di sela-sela pelaksanaan Asian Journey (30/9).

Kisah Romo Alejo menarik perhatian para peserta Asian Journey yang datang dari delapan negara di Asia, yakni Singapura, Thailand, Kamboja, Filipina, Jepang, Australia, Taiwan, dan Indonesia sebagai tuan rumah. Usahanya terjun bersama para relawan membantu para pengungsi Muslim pasca penyerangan Zamboanga oleh MNLF begitu inspiratif. Bahkan, ia sempat berusaha memediasi pihak militer dan pemerintah Filipina dengan komandan penyerangan dari MNLF, Ustadz Habier Malik dan pimpinan MNLF, Nur Misuari. Usaha yang dilakukan semalam suntuk melalui komunikasi telpon itu menghasilkan gencatan senjata. Meski kesepakatan itu hanya berlangsung beberapa jam, momen itu sempat digunakan untuk memasok bahan makanan dan obat-obatan bagi 200-an sandera, yakni Pastor Ivana –imam Keuskupan Agung Zamboanga– bersama umat parokinya. Pasca negosiasi yang alot, imam diosesan itu dilepaskan.

Merefleksikan pengalaman itu, Romo Alejo yakin bahwa Gereja harus terlibat dan berkontribusi dalam usaha mencari jalan damai. Konflik berkepanjangan di Filipina Selatan menjadi medan kerasulan dialog Katolik-Islam.

Berangkat dari realitas konteks Asia semacam itu, tak heran jika panitia  Asian Journey mengajak peserta mendalami tiga topik utama, yakni resolusi konflik, peace building  serta training dan  advokasi. Bahkan secara khusus, perhelatan para pegiat dialog Katolik-Islam tingkat Asia itu mengundang Ahmad Suaedi untuk berbicara tentang Islam sebagai minoritas.

Pertemuan yang dibuka dengan Misa oleh Ketua Komisi Hubungan Antar agama dan Keyakinan (HAK) KWI, Mgr P.C. Mandagi MSC di Gereja Paroki St Fransiskus Xaverius Kuta itu merumuskan beberapa tantangan besar relasi Katolik-Islam di Asia. Jepang misalnya, menghadapi tantangan sosial dari kaum migran Muslim. Beberapa negara mengamini tantangan sosial terkait kasus-kasus perkawinan beda agama, konflik horisontal yang terdistorsi menjadi isu agama oleh media. Kegiatan seminar, pertemuan, diskusi, dialog bertema religius yang tidak diikuti aksi konkret. Sementara muncul juga sindrom minoritas Katolik yang melemahkan usaha dialog, bahkan pentingnya pendidikan dan pendampingan yang dibalut dimensi interreligius di kalangan kaum muda–terutama bagi masyarakat yang pernah mengalami pengalaman konflik, seperti di Ambon, Maluku, Filipina Selatan, dan Pakistan.

Secara politis, pendirian tempat ibadah di Indonesia masih menjadi isu dominan dalam kancah dialog antar agama. Banyak negara juga berkutat pada problem agama yang rentan ditunggangi kepentingan politik, dan dicerabut dari akar lokalitas budayanya. Sementara para peserta dari Singapura merasakan, kegiatan bersama antaragama masih kental bercorak ekonomis. Artinya, motivasi kerjasama hanya berdasarkan motif untung-rugi. Penerapan Hukum Syariah dan munculnya fundamentalisme agama juga mewarnai dinamika konteks Asia.

Kebebasan Beragama
Sementara itu, para peserta Asian Journey juga diajak menggali kekuatan yang sudah mereka lakukan sebagai insan pegiat dialog Katolik-Islam. Pertemuan yang dihadiri Dirjen Bimas Katolik Kementerian Agama, Eusabius Binsasi ini mengungkap fakta bahwa sudah banyak diadakan pendidikan di kalangan kaum muda mengenai kerasulan dialog antar agama. Misal, adanya program live-in, home stay atau kunjungan para seminaris ke pesantren; pun sebaliknya, para para santri ketempat pendidikan calon imam. Bahkan di Pakistan, Gereja dibela oleh beberapa kelompok umat Islam ketika kelompok Islam garis keras menyerang Gereja –seperti kisah Romo Patrick J. McInerney MCCI, misionaris Columban asal Australia yang pernah merasul di Pakistan selama 18 tahun.

Menurut Ketua Panitia, Romo Heru Prakosa SJ, Asian Journey diharap menjadi wahana saling belajar satu sama lain guna memotret aktivitas Gereja di Asia dalam konteks dialog Katolik- Islam. Selain itu, kegiatan ini juga dapat mempererat dan memperluas jejaring kerasulan dialog antaragama. Sementara Romo Johannes Hariyanto SJ menggarisbawahi bahwa gerakan dialog antaragama ini mesti bergerak dengan menjalin kerjasama dengan pemerintah. Dalam konteks Indonesia, salah seorang panitia inti ini menolak keras RUU Kerukunan Umat Beragama. “UU Kerukunan Umat Beragama atau apa pun namanya, merupakan bentuk kriminalisasi terhadap pemeluknya. Agama itu keyakinan. Keyakinan itu tidak bisa kelihatan, hanya bisa dihayati dan diamalkan. Bagaimana mungkin negara mengatur penghayatan dan pengamalan keagamaan seseorang?,” kata Romo Hariyanto yang juga salah satu pendiri dan Sekjen Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP).

Butuh Regenerasi
Asian Journey kali ini merupakan revitalisasi bentuk kegiatan serupa yang telah tertidur sekitar 15 tahun. Berkat jerih payah panitia di bawah komando Romo Heru, terbentuk panitia persiapan di Jakarta yang memakai bendera Komisi HAK KWI; dan panitia pelaksana di Denpasar di bawah asuhan Romo Venus. “Saya sangat senang acara ini terselenggara dengan amat bagus berkat kerja keras seluruh panitia. Harapannya, pertemuan positif seperti ini dapat dilanjutkan dan menjadi salah satu usaha Gereja di Asia untuk membuka diri dan bekerjasama dengan umat Islam,” ujar Romo William La Rousse, Sekretaris Komisi Hubungan Antaragama FABC yang hadir memberikan dukungan pada terselenggaranya Asian Journey.

Meski sebenarnya forum ini terbatas bagi para pegiat dialog antaragama dalam Gereja Katolik, nampak adanya peserta Islam dan Protestan dari Ambon. Selain itu, pembukaan acara ini juga dihadiri oleh perwakilan dari komunitas umat Hindu dan Ketua FKUB Bali, Ida Idewa Gede Ngurah Swastha.

Para peserta sepakat untuk melanjutkan forum Asian Journey sebagai kegiatan dua tahunan. Mereka menggarisbawahi pentingnya regenerasi pegiat dialog antaragama dari dalam Gereja. Regenerasi ini diharapkan mampu mengembangkan persaudaraan antara Katolik-Islam di Asia, membangun toleransi, dialog dan kolaborasi demi kebaikan bersama.

Usaha membuka dialog demi mempererat jejaring dan persaudaran itu sejalan dengan Nostra Aetate yang 50 tahun silam menjadi hasil Konsili Vatikan II. Pun peringatan tragedi bom Bali I (9 November 2002) dan bom Bali II (1 Okto b er 2005) menjadi alasan pemilihan tempat di Bali. Harapannya, ketika jejaring dan persaudaraan kuat, peristiwa solidaritas umat Islam bagi Gereja Katolik di Pakistan juga terjadi di tempat lain. Konflik politik di Filipina Selatan tak lagi mudah terdistorsi menjadi isu agama.

R.B.E. Agung Nugroho

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*