Artikel Terbaru

Batal Jadi Imam Berakhir Jadi Perancang Busana Liturgi

Andreas Tomy Agusta.
[HIDUP/Maria Pertiwi]
Batal Jadi Imam Berakhir Jadi Perancang Busana Liturgi
5 (100%) 2 votes

HIDUPKATOLIK.com – Cita-citanya menjadi imam, tapi “surat sakti” orangtua tak pernah keluar. Lalu ia menjadi desainer pakaian liturgi dengan tetap merawat benih panggilan.

Lulus SMA tahun 1998, Andreas Tomy Agusta melanjutkan pendidikan di Jurusan Desain Interior, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Universitas Trisakti Jakarta. Ia sempat terjun sebagai freelance interior designer selama lima tahun (2001-2006). Kemudian ia banting stir.

Kecintaannya kepada liturgi dan seni membawa laki-laki kelahiran Cirebon, Jawa Barat, 21 Agustus 1980 ini menekuni desain busana liturgi. Ia ingin ambil bagian dalam pelayanan Gereja dan sesama dengan talenta yang Tuhan anugerahkan. Ia berharap, liturgi semakin indah.

Namun menjadi desainer busana liturgi tak menggugurkan benih panggilan yang telah tumbuh di hatinya. Ia masih menggenggam keinginan untuk menjadi imam. “Meskipun mungkin saya tidak jadi masuk seminari, cinta pertama saya adalah imamat,” ujar Tomy.

Ingin Jadi Imam
Tomy lahir dalam keluarga Katolik, dibaptis saat bayi, dan dibesarkan secara Katolik. Dari SD hingga SMA, ia menempuh pendidikan di sekolah Katolik. Sejak duduk di bangku kelas 6 SD hingga SMA, ia melibati kegiatan putra altar. Menjadi misdinar atau putra altar membuat Tomy menjalin relasi yang cukup dekat dengan sosok imam. “Akhir masa SMP, terbersit keinginan saya untuk menjadi seorang imam. Saya mengungkapkan keinginan itu kepada orangtua dan orang-orang di sekitar. Waktu itu orangtua oke-oke saja,” kisahnya.

Meskipun bercita-cita menjadi imam, Tomy menjalani kehidupan seperti remaja umumnya. “Saya pacaran ketika kelas 2 SMA. Saat itu, saya mengatakan terus terang kepada pacar bahwa saya ingin menjadi imam. Tapi ya kami jalani saja hingga akhirnya kami putus,” katanya. Ia pun mengikuti Retret Panggilan Ordo Salib Suci (Ordo Sanctae Crucis, OSC).

Setelah menyelesaikan ujian SMA, Tomy semakin mantap untuk masuk Novisiat OSC. “Pastor paroki sudah memberi rekomendasi untuk saya, tapi ‘surat sakti’ (surat izin-red) dari orangtua tidak pernah keluar,” ujarnya.

Rasa kecewa menyelimuti hati Tomy. “Lalu saya mau apa? Saya tidak bisa berpikir apa-apa waktu itu. Selama ini, saya begitu ingin menjadi imam,” katanya. Melihat kekecewaan sang buah hati, ibu Tomy lalu mengajak bicara dan menjelaskan mengapa ia tak memberi “surat sakti” untuk Tomy.“Ketika Mama mengatakan tidak ingin ikut orang lain, ya saya memutuskan untuk melanjutkan kuliah. Keinginan menjadi imam tetap ada, tapi saya tidak mau ngotot masuk seminari,” jelasnya.

Busana Liturgi
Awal masa kuliah, ia tak pernah aktif secara khusus dalam kegiatan menggereja. Ia hanya mengikuti ibadat lingkungan, wilayah, dan Misa di Gereja St Kristoforus, Grogol, Jakarta Barat. Suatu saat seorang teman yang mengetahui Tomy pernah bergabung dalam kelompok teater di SMA, mengajaknya ikut pementasan teater Malam Kesenian Mudika Paroki Bunda Hati Kudus (BHK), Kemakmuran, Jakarta.

Bermula dari teater, Tomy melibati kegiatan-kegiatan di Paroki Kemakmuran. Ia aktif dalam kelompok paduan suara gregorian, menjadi lektor, pemazmur, dan pendamping putra altar. Kegiatan-kegiatan ini mendorong Tomy terus memperkaya diri dengan pengetahuan liturgi. Ia mengikuti pelatihan lektor yang diadakan Sanggar Prathivi, mengikuti kursus katekese dan seminar-seminar yang berhubungan dengan liturgi, mengikuti Colloquium Liturgicumatau  sarasehan tentang liturgi yang diadakan Institut Liturgi Sang Kristus Indonesia (ILSKI) dan mengikuti Extension CourseTeologi Ekaristi di Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara Jakarta.

Awal masa Prapaskah 2009, Tomy mengajukan desain busana lektor kepada Seksi Liturgi Paroki Kemakmuran. “Ketika itu, busana lama untuk lektor akan diganti. Saya pun membuat desain busana lektor tanpa alba. Saya membuat desain agar warna dan busana liturgi tidak seperti busana liturgi uskup atau imam,” ujar pendiri dan pemilik sebuah brand pakaian CRVX Corporate dan LIVM (Liturgical Vestments Producer) ini.

Namun desain yang diajukanTomy hanya ditanggapi sambil lalu. Tak patah arang dan memahami bahwa tak semua orang bisa memahami bahasa gambar. Ia nekat mempresentasikannya didepan seksi liturgi dan pastor paroki. “Setelah mereka melihat wujud busana yang saya desain, mereka meminta desain itu segera dibuat untuk di pakai perdana pada Pekan Suci. Saya terkejut waktu itu, tapi saya juga bersyukur boleh ambil bagian,” ujarnya.

Pada tahun yang sama,Tomy mendapat tugas merancang 30 pasang kasula dan stola bertema “Bunda Hati Kudus” untuk di pakai para imam pada Misa Ulang Tahun Paroki Kemakmuran.

“Saya berharap liturgi indah, termasuk secara visual. Hal ini juga terdorong oleh pengalaman bertemu dengan Orang Muda Katolik (OMK) yang tuna rungu. Pemuda itu mengatakan, Katolik itu indah, tata gerak maupun busana liturginya. Meski ia tak dapat mendengar, ia mengimani Kristus dalam liturgi secara visual. Ia bisa menangkap kehadiran Tuhan meskipun tunarungu. Dari situ, saya semakin terdorong untuk ambil bagian dalam membuat busana liturgi yang lebih liturgis,” kata Tomy mengisahkan pengalamannya.

Sejak merancang 30 pasang kasula dan stola Bunda Hati Kudus, Tomy sering mendapat pesanan dari beberapa imam yang pernah melihat karyanya. Ia pernah merancang 50 pasang stola dan kasula untuk perayaan 475 tahun Gereja Maluku Utara, 13 alba untuk Paroki St Theresia, Menteng, Jakarta. Ia juga merancang 25 pasang kasula dan stola untuk perayaan syukur perak imamat seorang imam Misionaris Hati Kudus Yesus (MSC). Semua pengerjaan desain busana liturgi yang dibuat Tomy dilakukan di kota ke lahirannya, Cirebon sehingga ia kerap bolak- balik Jakarta-Cirebon.

Tomy mengungkapkan, “Liturgi merupakan puncak dan sumber iman umat kristiani. Karena saya mencintai liturgi, saya ingin bisa berbuat sesuatu untuk menghasilkan liturgi yang lebih indah. Saya lakukan apa yang mampu saya lakukan. Semoga liturgi di Gereja Indonesia semakin indah. Memenuhi tiga kriteria, verum, benar yakni liturgi sesuai PUMR; bonum, baik, liturgi bisa membantu meningkatkan iman umat dan pulchrum, indah, yakni bisa menghadirkan Allah.”

Dengan membuat desain busana liturgi, Tomy merasa dituntut untuk semakin tahu dan mengenal liturgi Gereja. “Dari situ, saya merasa semakin mengenal Kristus, semakin mencintai Kristus yang hadir me lalui liturgi,” kata Tomy. Sang ibu mendukung apa yang dilakukan Tomy. “Asalkan tidak masuk seminari,” ujar Tomy menirukan ibunya sambil tertawa.

“Melalui desain atau rancangan, saya ingin menyampaikan pesan tentang keindahan yang hadir dalam ‘Kesederhanaan yang Agung’ (Noble Simplicity) sebagaimana tertulis dalam PUMR 344: ‘Busana liturgis hendaknya tampak indah dan anggun bukan karena banyak dan mewahnya hiasan, melainkan karena bahan dan bentuk potongannya ’,” ujar anggota Komisi Liturgi Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) bagian tata ibadah (2012-sekarang) ini.

Bagi Tomy, mendesain busana liturgi menjadi bentuk pelayanannya untuk Gereja. Ia akan terus mendesain busana liturgi. “Demikianlah saya, seorang desainer interior yang ‘murtad’ menjadi desainer pakaian liturgi. Saya percaya, Tuhan mempunyai rencana indah bagi saya. Soal menjadi imam, saya tetap ingin, tapi biar rencana Tuhan yang terjadi.”

Maria Pertiwi

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*