Artikel Terbaru

Promotor Panggilan Hidup Religius yang Doyan Blusukan

Mgr Pio Alberto del Corona OP.
[monastero.com]
Promotor Panggilan Hidup Religius yang Doyan Blusukan
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Tradisi kristiani keluarga mengantarnya memeluk panggilan sebagai imam Dominikan. Kecintaan kepada hidup religius mendorongnya mendirikan Tarekat Suster Dominikan Roh Kudus.

Penyakit liver dan gangguan indera penglihatan yang dialaminya kian parah. Memasuki usia 70 tahun, Uskup San Miniato, Italia, Mgr Pio Alberto del Corona OP mengalami hambatan fisik yang luar biasa. Terpaksa ia harus mengundurkan diri dari takhta keuskupannya.

Paus Pius X (1835-1914) mengabulkan pengunduran dirinya itu pada 30 Agustus 1907. Sesuai praktik yang berlangsung dalam Gereja saat itu, tiap uskup diosesan yang pensiun akan diberi gelar tituler. Maka sejak itu Mgr Alberto bergelar Uskup Agung Tituler Serdica. Praktik ini berubah sejak 1971, Uskup Diosesan yang sudah pensiun akan bergelar Uskup Emeritus.

Mgr Alberto menghabiskan masa senjanya di Biara San Domenico di Fiesole, Italia. Uskup yang dikenal suka blusukan ke paroki-paroki itu tinggal bersama para suster Dominikan Roh Kudus, tarekat yang di dirikannya. Ia hidup bersahaja hingga menghembuskan nafas terakhir pada 15 Agustus 1912.

Panggilan Imam
Mgr Alberto berasal dari keluarga penjual sepatu eceran di pasar tradisional Tremoleto, sebuah desa kecil di Keuskupan San Miniato. Ia lahir sebagai anak bungsu pasangan Giuseppe del Corona dan Ester Bucalossi. Orang tuanya dikenal sebagai pekerja yang ulet di kalangan para pedagang. Ketekunan mengais rezeki sebagai pedagang kecil pun dibalut dengan kerendahan hati dan praktik kesalehan kristiani. Tak heran, sejak kecil empat buah hati mereka dididik peduli pada kesusahan sesama.

Kala Alberto berusia dua tahun, ibunya meninggal. Kematian sang istri ini menjadi pukulan berat bagi Giuseppe. Dalam situasi serba sulit, Alberto tumbuh menjadi pribadi berperasaan halus dan saleh. Saban hari ia mengawali dan menutup kegiatan dengan doa.

Bocah kelahiran Livorno, Italia, 5 Ju li 1837 ini rutin mengikuti Misa. Alberto senang berlutut berjam-jam lamanya memandang tubuh Kristus. Ia begitu takjub mencecap pengorbanan Kristus yang rela tubuh-Nya dipecah dan dibagi. Ketakjuban itu seolah menumbuhkan benih panggilan menjadi imam. Acapkali saat sedang bermain, Alberto kecil menyusun potongan-potongan kayu menyerupai altar, lalu mulai meniru cara imam memimpin Ekaristi.

Seiring waktu, Alberto sadar akan kemampuan studinya yang terbatas. Ia amat tertinggal dalam pelajaran matematika. Namun kematangan pribadi dan kesalehan hidupnya begitu menonjol. Tanda bahwa panggilan menjadi imam bergaung dalam sanubarinya.

Awalnya Alberto tertarik dengan spiritualitas Serikat Sosial Vincentian (SSV), terutama pelayanan mereka kepada tuna wisma di Italia. Setelah mempertimbangkan dengan matang, ia memutuskan bergabung dengan Ordo Fratrum Praedicatores (OP). Ia masuk Biara San Marco, Florence, 4 Desember 1854. Selain karena kedekatannya dengan dua imam Dominikan, Pater Domenico Verda OP dan Pater Costanzo Mori OP, keputusan menjadi calon imam Domikian ini juga didorong oleh kegandrungannya pada spiritualitas St Khatarina dari Siena.

Promotor Panggilan
Sebagai Dominikan muda, Alberto mengikrarkan kaul pertamanya pada 3 November 1859. Lalu pada 21 Desember 1859, ia menerima tahbisan diakon dan pada 5 Februari 1860, menerima tahbisan imam, sekaligus mengikrarkan kaul kekalnya sebagai Dominikan. Meski tak cemerlang di bidang intelektualitas, ia justru mendapat perutusan perdana sebagai formator di Seminari San Marco.

Seolah Tuhan punya rencana atas dirinya. Keuletannya belajar berbuah limpah. Sambil mengajar, Pater Alberto belajar menulis. Ia tumbuh sebagai seorang penulis dan orator ulung. Namanya mencuat. Ia kerap diminta berbicara dalam pelbagai kesempatan. Saat itu, kehidupan monastik agak lesu. Banyak biara tak terurus dengan baik.

Dengan gigih, ia memberi sumbangan besar pada revitalitasasi biara-biara monastik, khususnya Dominikan dan Agustinian. Suatu usaha yang mendorong banyak biara dibuka lagi.

Di kalangan koleganya, Pater Alberto di kenal peka terhadap situasi panggilan religius. Ia getol mempromosikan panggilan selibat. Kobaran semangat ini mendorongnya untuk merintis pendirian tarekat baru.

Tak disangka, tepat 15 tahun sejak tahbisan diakon, Pater Alberto menerima kabar penunjukannya sebagai Uskup Koadjutor San Miniato, 21 Desember 1874. Ia menerima tahbisan Uskup Tituler Draso pada 3 Januari 1875 di Gereja St Apollinaris, Roma. Pentahbis utamanya adalah Sekretaris Kongregasi Inkuisisi Universal (kini Kongregasi Doktrin dan Ajaran Iman) Kardinal Constantino Patrizi Naro (1798-1876) didampingi Sekretaris Kongregasi Dewan (kini Kongregasi untuk Klerus) Kardinal Pietro Gianelli (1807-1881) dan Uskup Tituler Tyana, Mgr Alessandro Sanminia telli Zabarella (1840-1890).

Posisinya sebagai Uskup Koadjutor San Miniato seolah membuka jalan lebar dalam membidani berdirinya tarekat baru. Ia berkolaborasi dengan Sr Elena Bruzzi Bonaguidi (1835-1913), yang kelak menjadi Pemimpin Umum Para Suster Dominikan Roh Kudus. Ordo Dominikan pun menyumbang sebidang tanah untuk biara di Villa Nuti San Marta, Florence. Biara baru dibangun di via Bolognese tahun 1875- 1878. Usai dibangun, pada 28 Oktober 1878, 10 perempuan pertama mendaftarkan diri menjadi anggota tarekat baru itu.

Tahun 1879, Mgr Alberto bertemu Paus Pius IX (1792-1878) meminta restu pendirian tarekat baru. Ia menjelaskan, tarekat ini melayani kaum miskin dan tuna wisma di Italia. Spiritualitas mereka ditimba dari penjelmaan Roh Kudus dalam karya karitatif dan pemberdayaan orang kecil, dengan mengikuti regula St Dominikus.

Buah Kesalehan
Kala Uskup San Miniato, Mgr Annibale Barabesi (1829-1897) wafat pada 2 Februari 1897, Mgr Alberto secara otomatis menggantikannya. Ia menggembalakan umat San Miniato dengan penuh kasih. Ia terbiasa mengunjungi umatnya sejak menjadi Uskup Koadjutor.

Mgr Alberto tetap gigih menjadi promotor panggilan hidup religius hingga akhir hayatnya. Berkat keuletannya, Tarekat Suster Dominikan Roh Kudus berkembang dari tahun ke tahun. Tarekat ini bernaung di bawah Ordo Dominikan dan merayakan Misa Latin sesuai tata cara luar biasa (forma extra ordinaria).

Promotor panggilan hidup religius ini wafat pada usia 75 tahun. Jasadnya dikebumikan di pemakaman Misericordia, Florence. Tahun 1925, jasadnya dipindahkan ke biara Para Suster Dominikan Roh Kudus.

Sejak 1941, Keuskupan San Miniato mengusulkan proses penggelaran kudus Mgr Alberto. Baru pada 9 Oktober 2013, Paus Fransiskus merestui dekrit keutamaan kristiani Mgr Alberto dan menggelarinya venerabilis. Lalu pada 19 September 2015, Bapa Suci menganugerahinya beato. Misa bea tifi kasinya digelar di Katedral St Maria Assumpta San Genesio, Keuskupan Mi niato, dipimpin Prefek Kongregasi Penggelaran Kudus, Kardinal Angelo Ama to SDB. Gereja memperingatinya tiap 15 Agustus.

Yusti H. Wuarmanuk/R.B.E. Agung Nugroho

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*