Artikel Terbaru

Selamat Datang Uskup Baru

Selamat Datang Uskup Baru
1 (20%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.com – Hingga pertengahan tahun ini, Gereja Katolik Indonesia mendapatkan empat Uskup baru: Uskup Sintang Mgr Samuel Oton Sidin OFMCap, Uskup Agung Semarang Mgr Robertus Rubiyatmoko, Uskup Manado Mgr Benedictus Estephanus Rolly Untu MSC, dan yang baru diumumkan pada Rabu, 28 Juni lalu, Mgr Adrianus Sunarko OFM sebagai Uskup Pangkal Pinang. Sementara masih ada dua Keuskupan dari 38 Keuskupan di Indonesia yang masih dalam kondisi sede vacante alias takhta lowong, yakni Keuskupan Purwokerto dan Keuskupan Tanjung Selor.

Saat berbicara tentang Uskup baru, hal yang paling sering diungkapkan adalah aneka tantangan, kesulitan, serta persoalan pastoral yang akan dihadapi sang gembala utama yang baru. Tak hanya di internal Gereja, tetapi juga beragam tantangan dari eksternal Gereja, mulai dari kemiskinan, dialog antaragama, pastoral budaya, krisis panggilan, imam yang bermasalah, kesulitan keuangan, dan sederet permasalahan yang lain. Seakan, Uskup yang baru akan menghadapi semuanya yang adalah persoalan. Betapa merananya dia.

Gereja Lokal memang memiliki segudang persoalan. Persoalan bisa sama, namun penanganan di masing-masing Gereja Lokal Keuskupan tentu berbeda. Jika sang Uskup baru hanya berkutat dengan aneka persoalan di Keuskupannya, tentu dia tak akan memberikan inspirasi apapun. Seorang pemimpin baru mestinya berani menggali segala potensi untuk melakukan terobosan baru. Sayangnya, potensi itu tak akan pernah datang dengan cuma-cuma. Keberuntungan tak bisa jadi pegangan dalam cara berkarya. Potensi mesti digali, dicari.

Permasalahan selalu bisa menjadi peluang baru. Persoalan senantiasa membuka potensi baru. Mari kita lihat contoh. Konsili Vatikan II (1962-1965) misalnya. Konsili yang amat fenomenal itu tak datang sekonyong-konyong. Ia datang justru dari aneka permasalahan yang berkelindan di Gereja, seperti banyaknya praktik liturgi, penggunaan bahasa lokal dalam liturgi, persoalan hubungan antaragama dan antar-Gereja, pemahaman yang tak sama tentang hidup membiara, perkembangan ilmu dan teknologi, serta persoalan lain. Dalam sidang-sidang Konsili Vatikan II, aneka persoalan itu dibicarakan, didiskusikan, bahkan diperdebatkan. Akhirnya, para Bapa Konsili mendengar bisikan Roh Kudus untuk mengubah permasalahan yang majemuk itu menjadi peluang baru dengan membuka jendela dan pintu Gereja. Angin segar perubahan yang inspiratif pun berhembus masuk ke segala sudut Gereja. Angin itu pun masih kita rasakan hingga kini.

Atau kita ambil contoh yang lain. Keuskupan Manado misalnya. Keuskupan ini telah berziarah sejak 1919 dengan berdirinya Prefektur Apostolik Celebes, yang merupakan pemekaran dari Vikariat Apostolik Batavia. Artinya, peziarahan Keuskupan ini hampir satu abad. Kini, umat di Keuskupan ini kurang lebih 250 ribu jiwa, yang tersebar di 61 Paroki. Umat sebanyak itu dilayani oleh 138 imam, di mana 91 imam merupakan imam diosesan. Boleh dikatakan, Keuskupan ini telah menjadi Keuskupan yang mandiri. Melihat perjalanan sejarah dan jumlah umat, tentu Keuskupan ini menyimpan aneka potensi yang masih bisa dikembangkan.

Kepemimpinan baru dalam sebuah Keuskupan pasti meniupkan angin segar perubahan ke arah yang semakin baik. Tantangan pemimpin baru adalah mengubah aneka kelemahan dan persoalan menjadi kekuatan. Kerap kali, upaya ini membutuhkan keberanian melakukan loncatan. Uskup baru mestinya tak gentar dengan perubahan.

Redaksi

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*