Artikel Terbaru

Ibu Teresa Hadir Bagi Kaum Papa Ibukota

Pengobatan Gratis: KKIT sedang mengadakan pemeriksaan dan pengobatan gratis kepada orang-orang miskin.
[NN/Dok.KKIT]
Ibu Teresa Hadir Bagi Kaum Papa Ibukota
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Komunitas ini melayani orang sakit, miskin dan telantar di Tomang-Kota Bambu, Jakarta, seturut teladan Bunda Teresa dari Kalkuta.

Anak rantau itu terbatuk-batuk terus. Terkejutlah ia melihat lendirnya berdarah. Dari hari ke hari, kondisinya semakin memburuk. Saat sedang membujur lemah di kontrakannya, beberapa orang wanita dari Kerabat Kerja Ibu Teresa (KKIT) mendatanginya. Mereka membawakan makanan, susu, dan sejumlah uang. “Kamu istirahat dulu, tidak usah bekerja biar cepat sembuh,” ujar Inggar Surjaningtyas salah seorang anggota KKIT wilayah Tomang-Kota Bambu, Jakarta.

Esok hari, Inggar dan Theresia Sukidah anggota KKIT mengantarkan si anak itu ke Rumah Sakit (RS) St Carolus, Jakarta, dan ternyata ia mengidap Tuberkulosis (TBC). Hampir sebulan, Inggar dan Theresia bolak-balik mengantar si penderita TBC ini ke RS St Carolus untuk berobat. Meski rentan terinfeksi, mereka tetap melayani dengan kasih.

KKIT Tomang-Kota Bambu adalah salah satu cabang dari Komunitas KKIT Indonesia yang bermula dari kota Semarang. Menurut sejarahnya, KKIT Indonesia diawali dari kedatangan Mrs. Ann Blaikie, pendiri KKIT Internasional yang datang ke Semarang. Pada 1984, dari Semarang Mrs. Ann ke Jakarta bertemu Mgr Leo Soekoto SJ (Alm). Setahun kemudian, pada 7 Oktober 1984 Mrs. Ann dibantu Linda Gunawan dan Wiranto mengadakan pertemuan KKIT yang pertama di Jakarta. Dalam pertemuan itu, mereka bersepakat mendirikan KKIT di Indonesia. Mereka menunjuk Romo Raymond Stock CICM sebagai pastor pembimbing rohani.

Setelah resmi berdiri, KKIT mulai merambah ke beberapa kota lain di Indonesia. Di Jakarta mereka membentuk lima wilayah komunitas. Enam bulan kemudian, KKIT Tomang-Kota Bambu dibentuk dan dimasukkan sebagai kelompok kategorial Paroki Kristus Salvator Slipi, Jakarta.

Kristus yang Tersamar
Dasar spiritualitas KKIT diangkat dari Matius 25: 40, “Sesungguhanya Aku berkata kepadamu, apapun yang kamu lakukan pada mereka yang hina ini, kamu lakukan untuk Aku.” Karena dasar ini, dalam setiap pelayanan anggota KKIT berusaha melihat kehadiran Tuhan dalam diri setiap orang. Bagi mereka wajah Kristus tersamar dalam wajah kaum kecil, hina dina dan orang miskin.

Selain ayat Matius 25: 40, komunitas ini juga mendapat semangat dari spiritualitas Ibu Teresa yang dikerucutkan dalam satu kata yaitu “kasih”. Untuk menjalani semangat dan spiritualitas itu, KKIT membuat kegiatan yang menyerupai kegiatan Ibu Teresa. Setiap Jumat ketiga, mereka mengadakan Renungan, Misa dan Adorasi Sakramen Maha Kudus. Bahan-bahan renungan yang dipakai dibuat oleh Romo Kris Purwana Cahyadi SJ yang bersumber dari Alkitab dan ajaran Ibu Teresa. Dua kali dalam sebulan, mereka mengadakan pertemuan rutin untuk mendapatkan pengajaran dari Romo Kaitanus Saleky CICM.

Rumah Singgah
KKIT Tomang-Kota Bambu mempunyai rumah penampungan khusus untuk karya pelayanan bernama Wisma Sahabat Baru. Wisma ini menampung sekitar 20 orang sakit, didampingi oleh delapan perawat. Jika pasien yang dirawat telah sembuh, mereka akan dikembalikan ke keluarganya atau dipindahkan ke panti asuhan dan panti sosial milik pemerintah.“Makanya kami menamakan wisma ini rumah singgah, karena dasarnya wisma ini adalah rumah tempat beristirahat di mana luka-luka dibalut dan sakit penyakit disembuhkan dengan sentuhan kasih.”

Wisma ini pernah menampung pasien bernama Nurhayati. Saat muda ia menjadi Pekerja Rumah Tangga (PRT). Suatu ketika, ia terjatuh sehingga tulang pinggulnya patah. Praktis ia tidak bisa bekerja lagi. Ia kemudian hidup luntang-lantung di pinggiran rel kereta api. Dalam keadaan yang tak terurus itu, ia kemudian dirawat di Wisma Sahabat Baru. Karena tidak memiliki KTP, KKIT kemudian mengurus KTP dan BPJS Kesehatan untuk berobat. Enam bulan dirawat, Nurhayati meninggal dalam perawatan kasih Bunda Teresa yang mengalir lewat tangan KKIT.

KKIT melayani orang sakit tanpa membedakan agama, ras atau golongan. Setiap Rabu mereka mengunjungi orang-orang sakit di Rumah Sakit Dharmais dan Harapan Kita . “Untuk kunjungan ke rumah sakit, biasanya ditujukan kepada orang-orang Katolik saja,” ungkap Jeanne.

Pengobatan gratis juga merupakan agenda rutin KKIT. Setiap Sabtu pertama dan ketiga, KKIT mendatangkan dokter ke wilayah-wilayah seputar Tomang di mana orang-orang miskin bermukim.

Warung Sehat
KKIT Tomang juga memiliki Warung Sehat. Warung ini menyajikan makanan sehat dan bergizi bagi orang-orang miskin. Setiap Senin, warung ini menyajikan makanan gratis bagi 350-500 orang.

Pembiayaan untuk kegiatan berasal dari anggota KKIT yang menyisihkan sebagian rejekinya. KKIT juga menampung sumbangan dari orang-orang yang terpanggil. “Kami bekerja berdasarkan panggilan Kasih Tuhan, maka Tuhan juga menyediakan segala sesuatunya bagi kami,” ujar Inggar.

Menjelang hari raya Lebaran, KKIT Tomang membagikan sembako kepada orang-orang miskin. Inggar berharap KKIT bisa semakin menjangkau orang-orang miskin lewat karya pelayanan dan doa-doa mereka. “Dengan begitu, Kasih Allah semakin nyata dalam kehidupan semua orang,” ujarnya.

Jeanne mengungkapkan, di tengah ironi kota Jakarta KKIT bisa menjadi penghubung dan menjadi jembatan “kasih” bagi orang yang hina-dina, miskin dan telantar. “Kasih Allah harus mengalir melalui pelayanan dan doa,” pungkasnya.

Edward Wirawan

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*