Artikel Terbaru

Keluarga Katolik

Keluarga Katolik
5 (100%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.com – Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia (SAGKI) 2015 mengusung tema “Keluarga Katolik: Sukacita Injil. Panggilan dan Perutusan Keluarga Katolik dalam Gereja dan Masyarakat Indonesia yang Majemuk.” Tema ini tidak berdiri tunggal. Pada kunjungan pastoral ke Kuba dan Amerika Serikat, Paus Fransiskus menutup dengan konser musik meriah dan Misa di Philadelphia, 27 September 2015. Tema yang dipilih adalah “Love Is Our Mission: The Family Fully Alive”. Alhasil, SAGKI 2015 selaras dengan misi besar yang selalu digaungkan Paus Fransiskus, yaitu keluarga.

Menyoal keluarga, setiap era memiliki tantangan sendiri. Era sekarang, teknologi komunikasi melakukan revolusi luar biasa. Keluarga inti yang terdiri dari orangtua dan anak dihadapkan kepada realitas baru, di mana sekat informasi dilabrak habis dan nilai yang dulu dianggap sakral bisa menjadi cair. Teknologi komunikasi dengan produk turunannya hadir tanpa harus diminta, tidak saja di ruang tamu namun menyeruak ke ruang keluarga dan kamar tidur. Teknologi komunikasi membawa keadaban baru yang berpengaruh signifikan terhadap perilaku sehari-hari anggota keluarga.

Dalam konteks Indonesia yang sejalan dengan tema besar SAGKI, tantangan hidup keluarga Katolik justru mendapat peluang. Peluang itu bernama “garam” dan “terang”. Oleh Gereja, keluarga mendapat perutusan. Keluarga disebut “Gereja kecil” yang dipanggil menumbuhkan benih iman dan sukacita Injil. Keluarga secara aktif dan penuh tanggung jawab terlibat dalam misi Gereja, terutama dengan menampilkan jati diri dan misi sebagai persekutuan hidup dan kasih. Keluarga Katolik adalah garam dan terang bagi masyarakat yang tetap harus memancarkan cahaya iman dan memberi rasa bagi dunia sekarang ini.

Bagaimana agar keluarga katolik Indonesia mampu menampilkan diri sebagai “Gereja kecil”? Nilai hidup berkeluarga dan bermasyarakat memang telah berubah. Hanya saja, prinsip yang bersifat universal tetap tidak tergerus hempasan zaman dan bersifat “abadi”. Ada tiga prinsip yang pantas dikedepankan keluarga Katolik sehingga mampu menjadi perpanjangan misi Gereja universal.  Pertama, karakter. Serangan teknologi, informasi yang tumpah ruah, norma pergaulan yang kian cair, serta turbulensi di semua aspek kehidupan, hanya dapat disiasati dengan karakter. Karakter keluarga yang kuat menjadikan mereka mampu berselancar dalam aneka gelombang perubahan. Karakter tak lain pondasi kokoh membangun keluarga yang harmonis dan penuh kasih. Karakter ini yang akan menjadi habitus, sekaligus identitas keluarga.

Kedua, kualitas. Kualitas ini bermain di dua wilayah, internal dan eksternal. Internal artinya hubungan atau komunikasi antaranggota keluarga berkualitas prima. Terjadi keintiman dan kehangatan dalam keluarga. Eksternal bermakna setiap keluarga Katolik memiliki kompetensi dan bertanggung jawab atas perannya. Memang tak semua anggota keluarga Katolik memiliki keunggulan kompetensi dibanding orang yang beragama lain. Namun bila keluarga Katolik berkontribusi positif bagi masyarakat, ia sudah menunjukkan kualitas bermasyarakat. Kualitas diukur dari integritas pribadi dan kontribusi sosial.

Ketiga, Injili. Inti dari prinsip ini, keluarga Katolik mesti hidup berbasiskan Injil dan menghidupi Injil dalam tindakan nyata sehari-hari. Santo Yohanes Paulus II merumuskan dengan gemilang, “Keluarga kristiani merupakan pusat iman yang hidup, tempat pertama iman akan Kristus diwartakan, dan sekolah pertama tentang doa, kebajikan- kebajikan, dan cinta kasih kristiani.” Alhasil, keluarga merupakan wujud nyata dari iman, harapan, dan kasih. Dari keluarga lahir iman akan Kristus. Dalam keluarga tumbuh harapan-harapan akan kebaikan. Melalui keluarga, tersebar kasih nan tulus kepada sesama. Karakter, kualitas, dan Injili, itulah prinsip nan kokoh untuk membangun keluarga Katolik Indonesia yang tidak saja penuh kasih, namun juga berkontribusi optimal bagi masyarakat.

A.M. Lilik Agung

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*