Artikel Terbaru

Melayani dan Mengasihi Tanpa Akhir

Mgr Petrus Canisius Mandagi MSC.
[HIDUP/A. Nendro Saputro]
Melayani dan Mengasihi Tanpa Akhir
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Uskup Amboina, Mgr Petrus Canisius Mandagi MSC bertekad meneruskan semangat kasih kepada Hati Kudus Yesus. Ia menghidupi dan mewujudkan semangat itu dalam karya pelayanan kepada orang-orang miskin. “Saya dengan cara saya, Mgr Sol dengan caranya sendiri,” tekad Mgr Mandagi, yang ditahbiskan sebagai uskup pada 18 September 1994, menggantikan Mgr Sol, ini.

Dalam liputan khusus Perayaan 100 Tahun Mgr Sol, Wartawan HIDUP Maria Pertiwi mewanwancarai Mgr Mandagi MSC. Wawancara berlangsung di ruang kerjanya. Berikut petikannya:

Seperti apa sosok Mgr Sol MSC menurut Bapak Uskup?

Mgr Sol adalah seorang yang sederhana dan pekerja keras. Ia juga sangat memperhatikan orang-orang kecil dengan membuat panti asuhan dan juga pendidikan khusus untuk orang bisu tuli. Beliau membantu anak-anak yang kesulitan keuangan untuk studi.

Selain merawat dan mengembangkan Gereja, Mgr Sol juga memperhatikan orang miskin. Ini baik karena ia memiliki prioritas. Gereja bertumbuh karena Gereja memperhatikan orang miskin.

Saya melanjutkan yang Mgr Sol lakukan, tetapi dengan cara lain. Prinsipnya tetap sama yakni memperhatikan orang-orang miskin. Kita melihat Kristus sendiri di dalam diri orang miskin. Dalam melayani orang miskin, kita menemukan kasih yang diajarkan oleh Kristus. Kita nyatakan kasih itu di dalam perhatian kita kepada orang-orang miskin. Saya dengan cara saya, Mgr Sol dengan cara nya sendiri. Misalnya saya memperhatikan bidang kesehatan, pendidikan, dan eko nomi kecil dengan memajukan Credit Union (CU). Intinyaoption for the poor.

Pelayanan dan peran serta Mgr Sol dalam karya perutusan di Keuskupan Amboina seperti apa?

Dulu ia pastor di Kei Besar. Dengan sikap sederhana, ia melayani, membantu, dan hidup bersama dengan umat. Ia hidup sebagai seorang misionaris yang memiliki dedikasi untuk mewartakan kasih. Ia menjadi misionaris dengan semangat Hati Kudus Yesus dalam kasih. Mengapa ia memperhatikan orang-orang miskin dan menderita? Karena ia menimba semangat kasih dari Hati Kudus Yesus, hati yang terbuka dan penuh kasih.

Dulu ketika datang ke Indonesia, sebagai misionaris muda, ia hidup sederhana tetapi tetap mempunyai visi untuk pengembangan umat. Lalu ia pernah menjadi Superior Daerah Misionaris Hati Kudus Yesus (MSC) Maluku dan dipilih menjadi Administrator Provinsial MSC Indonesia di Jakarta. Hingga akhirnya ia kembali lagi ke sini dan menjadi Uskup Amboina.

Mgr Sol menekankan persatuan dan kesatuan, seperti moto tahbisan uskupnya “Ut Omnes Unum Sint”. Itu juga saya tekankan melalui moto saya “Nil Nisi Christum”, tiada lain selain Kristus.

Di tengah masyarakat Maluku yang plural, kita bisa mengupayakan dialog antar agama. Dan aktivitas dialog antar agama ini, bisa kita jadikan sebagai gaya hidup kita. Dalam hidup beragama itu, kita harus menghargai antar agama dan melakukan dialog dengan kasih.

Bagaimana Bapak Uskup merefleksikan Yubelium Seabad Mgr Sol MSC ini?

Semoga semangat Mgr Sol bisa kami lanjutkan, juga oleh para imam-imam. Dalam perayaan 100 tahun ini sebenarnya kita mau merayakan semangat Mgr Sol. Ini bukan soal usia yang panjang, tapi yang terpenting dalam usia yang panjang itu ada semangat. Itu yang kami rayakan.

Semangat yang digaris bawahi adalah semangat cinta kasih yang ditimba dari semangat MSC. Dan saya membawanya terus. Semangat ini harus dibuktikan dengan tindakan. Bagaimana caranya? Seperti yang pernah dibuat Mgr Sol yaitu memperhatikan orang miskin. Kita akan bawa terus semangat Mgr Sol. Sepertinya Mgr Sol senang jika kita meneruskan apa yang telah dirintisnya.

Maria Pertiwi/ Romo Theodorus Amelwatin

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*