Artikel Terbaru

Rekam Jejak Sang Hamba Tak Berguna di Tanah Maluku

Rumphius: Mgr Sol mengunjungi Perpustakaan Rumphius yang didirikannya.
[NN/Dok.MSC]
Rekam Jejak Sang Hamba Tak Berguna di Tanah Maluku
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Selama hampir 70 tahun,Mgr Sol melayani di Maluku. Karyanya tersebar di berbagai tempat sebagai kepedulian dan pelayanan kepada masyarakat dan Gereja.

Mendengar nama “Perpustakaan Rumphius”, masyarakat Maluku dan umat Keuskupan Amboina akan mengingat sosok Mgr Andreas Petrus Cornelius Sol MSC. Uskup Emeritus Amboina ini memang hobi membaca. Ia mengkoleksi ribuan literatur mengenai Maluku yang merupakan sumbangan dari rekan-rekannya.

Jumlah koleksinya terus bertambah. Pada 1984, ia mendirikan Perpustakaan Rumphius. Literatur koleksi pribadinya yang dikumpulkan selama ini kemudian disumbangkan di perpustakaan yang terletak di kompleks Gereja Katedral Ambon itu.

Nama “Rumphius” diambil dari nama seorang ahli ilmu biologi dan botani asal Jerman, Georgius E. Rumphius. Ia melakukan riset biologi dan botani di Ambon dan Kepulauan Maluku. Buku-buku legendaris Rumphius tentang botani (Amboinsche Kruidboek, D’Amboinsche Rariteitkamer, Amboinsche Dierbook) dan tentang kesejarahan (D’Ambonsche Land- Beschrijving, De Ambonensche Historie dan Waerachtigh Verhael van de Schrickelijcke Aerdtbevnge) menjadi beberapa koleksi emas Perpustakaan Rumphius.

Di perpustakaan inilah sejarah Maluku terjaga. Koleksinya kini mencapai lebih dari 7.000 eksemplar, terdiri dari 3.000 eksemplar buku fiksi dan 4.000 eksemplar buku non fiksi juga majalah, peta, kaset, dan video. Sebagian besar buku tentang Maluku dan banyak diantaranya dalam bahasa Belanda, langka dan hanya ada di perpustakaan ini. Berkat usahanya ini, pada 11 Oktober 2012, Mgr Sol menerima Piagam Penghargaan Nugra Jasadarma Pustaloka dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia atas dedikasi dan sumbangsihnya kepada pengembangan perpustakaan di Indonesia.

Menjadi Misionaris
Andreas Sol (sapaan Mgr Sol waktu kecil) lahir di Sloten, Belanda pada 19 Oktober 1915. Ia adalah anak kelima dari 15 bersaudara pasangan suami-istri Cornelius Sol dan Maria Ruhe. Sejak duduk di bangku Sekolah Dasar, ia sudah tertarik menjadi imam. Ini tidak terlepas dari peranan para religius awam yang giat menjaring panggilan dengan menceritakan tentang perkembangan Gereja di Asia, Afrika dan Amerika Latin.

Tamat dari pendidikan dasar, ia masuk St Ignatius College, Amsterdam dan kemudian masuk Seminari Misionaris Hati Kudus Yesus (MSC) di Driehuis-Velsen. Ia memutuskan masuk Seminari MSC karena tertarik menghayati semangat Hati Kudus Yesus dan karena anggota MSC berkarya di tanah misi.

Pada 21 September 1935, ia mengikrarkan kaul (profesi) pertama di Berg en Dal dan mengikrarkan kaul kekal pada 21 September 1938. Setelah kuliah filsafatdi Arnhem dan kuliah teolog di Seminari Tinggi MSC Stein, ia menerima tahbisan imam di Stein pada 10 Agustus 1940.

Sebagai imam muda, Pastor Andreas Sol memilih berkarya di Brasil. Ia giat mempelajari Bahasa Portugis. Namun karena waktu itu terjadi Perang Dunia II, ia batal berangkat ke Brasil. Pastor Andreas Sol memilih menjadi guru di Seminari Menengah MSC di Belanda Utara. Setelah perang mereda, ia menerima tawaran untuk berkarya di Indonesia. Ia terdorong oleh kisah kemartiran para misionaris MSC (3 Juli 1940) antara lain Mgr Johannes Aerts MSC, dkk. yang dibunuh oleh tentara Jepang di Langgur- Tual, Kepulauan Kei. Tanpa persiapan bahasa dan pengetahuan yang cukup tentang Indonesia, ia tak gentar mengemban tugas perutusan itu.

Pada 5 Oktober 1946, Pastor Andreas Sol tiba di Indonesia. Ia diterima oleh Mgr Jacobus Grent MSC, Vicarius Apostolik Amboina saat itu. Awal tugas, Pastor Andreas Sol menjabat sebagai Pastor Paroki di Hollat-Haar, Kei Besar selama tiga tahun. Pada 1950, ia diangkat menjadi Superior Daerah MSC Maluku sekaligus sebagai Pengurus Persekolahan Katolik di Langgur dan mengurus persekolahan Katolik Keuskupan Amboina. Pada 1960, ia melepaskan tugas itu karena dipilih menjadi Administrator Provinsial MSC Indonesia dan pindah ke Jakarta.

Pada 10 Desember 1963, Pastor Andreas Sol diangkat menjadi Uskup Koajutor Keuskupan Amboina. Dan pada 25 Februari 1964 ia ditahbiskan menjadi Uskup Amboina menggantikan MgrJacobus Grent MSC yang pensiun. Mgr Sol, sapaannya memilih moto tahbisan “Ut Omnes Unum Sint”. Pilihan moto ini berlandaskan harapan Yesus dalam doa-Nya kepada para murid, dalam Injil Yohanes 17:21, “Supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam kita, supaya dunia percaya bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku”.

Semboyan ini dilatarbelakangi keadaan masyarakat Maluku yang terdiri dari berbagai suku, budaya, agama, maupun situasi geografis. Umat Katolik di Maluku ini berdiam secara sporadis dan diaspora di Kepulauan Maluku seperti Kei, Tanimbar, Seram, Buru, Aru, Halmahera, Bacan, Ternate, Kisar, dan Tepa. Mgr Sol berusaha untuk mempersatukan kawanan domba gembalaannya. Ia pergi dari satu daerah ke daerah lain untuk mengunjungi umat, termasuk para tahanan politik di Pulau Buru.

Pada Konsili Vatikan II, ada 33 Bapa Konsili yang mewakili Gereja Katolik Indonesia. Salah satunya adalah Mgr Sol. Ia menghadiri Konsili Vatikan II pada sesi ketiga dan keempat. Menurut Mgr Sol, Konsili Vatikan II merupakan karya besar Paus Yohanes XXIII yang besar dalam sejarah Gereja Katolik.

Terus Melayani
Pastor Cornelis Bohm MSC, misionaris Belanda di Maluku, mengungkapkan bahwa Mgr Sol menjalankan tugas sebagai gembala umat Katolik Keuskupan Amboina dengan setia hingga purna tugas. “Ia mengendarai sepeda setiap hari, pergi membuat Misa di biara-biara dan Gereja-gereja setempat. Tak jarang anak-anak di kota Ambon yang tidak mengenalnya, ketika melihat dia lewat dengan sepeda berseru ‘balap!’ atau ‘mistar, mistar!’ Biasanya Mgr Sol menanggapi dengan senyuman sambil berseru kembali: ‘pinsil, pinsil!’,” ujar Pastor Bohm mengisahkan pengalaman Mgr Sol.

“Mgr Sol itu orang yang teliti, setia kepada janji dan tugas serta kebapakan. Ia pernah bercerita waktu sedang mengunjungi Pulau Aru, umat dan fasilitas di sana sangat sederhana. Ketika sedang tidur, malam-malam katanya ada tiga tikus jalan-jalan gigit dia punya kepala,” ujar Pastor Bohm sambil tertawa. Kini misionaris asal Belanda di Maluku tinggal dua orang: Mgr Sol dan Pastor Bohm.

Mgr Sol juga memiliki perhatian besar untuk Persekolahan Katolik. Ia mendukung usaha Pastor J. Oudenhoven yang berhasil membuka puluhan sekolah di Maluku Tengah dan Maluku Utara. Ia sering dengan gigih berusaha untuk mempertahankan status swasta serta kekatolikan sekolah-sekolah yang oleh Pater Oudenhoven diberi istilah “Nasional- Katolik”, atau disingkat “Naskat”. Mgr Sol juga memberikan perhatian kepada “Proyek-Ohoinol” dimana kegiatannya mendirikan SMP Pertanian dan kursus Lembaga Pendidikan Usaha Tani (LPUT) untuk praktik pertanian. Tahun 1966, Mgr Sol juga mendatangkan bruder MSC ahli pertanian dari Belanda, Br Henk Duivenvoorde.

Selain pendidikan, Mgr Sol juga peduli dengan orang-orang miskin. Ia mendirikan panti asuhan dan membiayai kebutuhan hidup anak-anak panti. Sejak 1980-an, Mgr Sol juga mengupayakan bantuan finansial untuk anak-anak sekolah yang orangtuanya kurang mampu membayar uang sekolah. Ia menamakan ini Program Adopsi. “Mgr Sol itu memang 100 % MSC, menghidupi spiritualitas Hati Kudus Yesus, berbagi kasih untuk semua orang, terutama mereka yang miskin dan tak berdaya,” tutur Pastor Bohm.

Untuk mengurus Program Adopsi tersebut, Mgr Sol dibantu oleh Pastor Bohm MSC dan Sr Bernadethe Jeujanan PBHK. Biasanya setiap Rabu dan Minggu, Pastor Bohm datang ke Biara MSC Batu Gantung, Ambon, untuk bertemu dan bercakap-cakap dengan Mgr Sol mengenai Program Adopsi. Pastor Bohm memberikan laporan keuangan atau membawakan cetakan surat elektronik dari Belanda. Mgr Sol membaca surat itu lalu membalas dengan menulis di secarik kertas. Balasan surat itu akan diberikan kepada Pastor Bohm untuk dikirim melalui surat elektronik.

Pemimpin Daerah atau Superior MSC Maluku, Pastor Frederikus Sarkol MSC mengungkapkan, “Mgr Sol adalah orang yang peduli dengan orang kecil. Itu komitmen beliau sampai sekarang.”

Kini di usia senjanya, Mgr Sol terus menghidupi semangat kasih khususnya kepada mereka yang miskin. Ia pun tetap berpegang kepada Sabda Yesus: “Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kami berkata: kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus kami lakukan” (Luk 17:10).

Maria Pertiwi/Romo Theodorus Amelwatin

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*