Artikel Terbaru

Menikmati Senja di Biara MSC

Doa dan Ekaristi: Mgr Sol saat merayakan Misa pribadi di kamar khusus untuk berdoa dan bekerja.
[HIDUP/Maria Pertiwi]
Menikmati Senja di Biara MSC
2 (40%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.com – Meski usia kian menua, dan tubuh kian merenta, Mgr Andreas Petrus Cornelius Sol MSC tetap melayani orang miskin dengan penuh semangat.

Biara ini terletak di belakang Gereja Hati Kudus Yesus. Di tempat inilah di Biara Misionaris Hati Kudus Yesus (MSC) Batu Gantung, Ambon, Maluku, Mgr Sol menjalani masa senja. Dua dari sekian banyak kamar di lantai dua biara itu menjadi kamar Mgr Sol. Satu dari dua kamar itu adalah kamar untuk tidur, dan yang satunya untuk berdoa dan bekerja.

Dua kamar itu berada di bagian belakang kompleks biara. Berhubung Gereja Hati Kudus Yesus sedang direnovasi, untuk sementara Mgr Sol pindah ke kamar lain di dekat tempat rekreasi untuk menghindari debu. Sr Anna Maria Sarisway TMM merawat dan men dam pingi Mgr Sol sejak 11 Juli 2012. Ia juga turut pindah supaya bisa mengamati keadaan Mgr Sol.

Sr Anna mengungkapkan, selama tinggal di Biara MSC Batu Gantung Mgr Sol menempatkan diri sebagai anggota komunitas. Mgr Sol hanyalah salah satu dari sekian banyak anggota komunitas biara. Ia pun harus taat kepada pimpinan biara. Saat Mgr Sol akan pindah kamar pun dilakukan sesudah meminta izin dari Superior MSC Daerah Maluku. “Lewat peristiwa itu, saya bisa belajar banyak hal dari Bapak Uskup yang mau tunduk dengan pimpinan,” ujar Sr Anna.

Hidup Harian
Aktivitas nya dimulai dengan merayakan Misa pribadi bersama Sr Anna. Usai Misa, Mgr Sol akan bertelut dalam doa. “Setelah Misa Bapak Uskup biasanya akan melanjutkan dengan brevir menggunakan bahasa Belanda,” ujar Sr Anna. Siang dan malam hari, Mgr Sol akan berdoa Rosario.

Selain hidup doa dan Ekaristi, membaca juga menjadi kebiasaan harian Mgr Sol. Baginya, tiada hari tanpa melahap bacaan buku cerita orang kudus, majalah, dan koran. Di bawah sorot lampu baca dan menggunakan kacamata, Mgr Sol menelusuri larik demi larik buku, majalah atau koran.

Untuk mengikuti informasi, Mgr Sol juga menonton berita di televisi baik seputar Ambon, Indonesia maupun luar negeri. “Dulu Bapak Uskup juga menulis di Buletin MSC daerah Maluku. Terakhir, awal tahun ini ia menulis,” tutur Sr Anna di sela aktivitasnya mendampingi Mgr Sol.

Untuk menjaga kebugaran, Mgr Sol melakukan senam pagi. Biasa nya ia duduk di atas tempat tidur, lalu menggerakkan tangan beberapa kali. Kemudian ia menyusuri lorong-lorong biara di lantai dua. Untuk makanan yang dikonsumsi Mgr Sol, Sr Anna berkonsultasi dengan ahli gizi. Biasanya siang dan malam Mgr Sol makan olahan sayur terdiri dari kentang, wortel, labu kuning dan ikan. Setiap hari Mgr Sol juga mengkonsumsi buah-buahan, sepertinanas dan nangka. Mgr Sol juga ikut makan bersama komunitas di biara.

Di sela-sela kegiatan hariannya, Mgr Sol tetap menyediakan diri untuk menerima tamu. Namun Sr Anna, bruder, diakon dan pastor membatasi waktu kunjungan tamu agar Mgr Sol tidak kelelahan dan banyak pikiran.

Penuh Semangat
Meski usia makin renta dan pendengaran berangsur berkurang, daya ingat Mgr Sol masih baik. Ketika ditemui setelah Misa pribadi, Mgr Sol mengisahkan keadaan masyarakat zaman dulu, ketika banyak orang belum memeluk agama. Ada pastor-pastor yang ia sebut sebagai pastor pintar, rajin dan baik pergi ke kampung-kampung untuk mengajarkan agama.

Mgr Sol juga menyebutkan moto tahbisan uskupnya: Ut Omnes Unum Sint  (supaya semua bersatu). Ia menjelaskan, dalam kehidupan, ada perbedaan-perbedaan, tapi dalam perbedaan kita harus bersatu. Moto tersebut dilengkapi dengan moto Mgr Petrus Canisius Mandagi MSC, Nil Nisi Christum (tiada yang lain kecuali Kristus). “Ini saling melengkapi, persatuan ada di dalam Kristus. Ini cocok juga dengan Bhinneka Tunggal Ika yang ada di Indonesia. Artinya banyak suku dan adat tetapi tetap bersatu,” ujar Mgr Sol, yang lahir di Sloten, Belanda pada 19 Oktober 1915 ini.

Di akhir pembicaraan, Mgr Sol tak lupa menyebut program “adopsi” yang dirintisnya puluhan tahun silam. Ini program bantuan dana untuk membiayai sekolah anak-anak keluarga miskin. Saat ini sekitar 2.000 anak di seluruh Maluku yang mendapat bantuan.

Mensyukuri Hidup
Pada 19 Oktober nanti, Yubelium Satu Abad hidup Mgr Sol akan diperingati. Sebagai puncak acara, akan diadakan Misa syukur yang dipimpin Duta Besar Vatikan untuk Indonesia Mgr Antonio Guido Filipazzi dilanjutkan dengan pentas hiburan. Berbagai kegiatan lain pun digelar seperti sosialisasi spiritualitas Mgr Sol di Kei Besar, Kei Kecil, Tanimbar, Aru, Pulau Buru, Seram, Ambon, dan Ternate. Ada pengobatan gratis di Kei Besar pada Sabtu- Jumat, 26/9-2/10. Juga diadakan seminar dialog antar umat beragama dan launching buku jejak keteladanan Mgr Sol pada Sabtu, 17/10, di Catholic Center, Ambon.

Dalam perayaan HUT ke-100 ini keponakan Mgr Sol yang tinggal di Belanda berencana akan hadir. “Saya tetap perhatikan family di Belanda dengan surat-menyurat setiap bulan. Mereka juga membantu pekerjaan saya untuk orang miskin lewat program adopsi,” tuturnya.

Mgr Sol datang ke Indonesia pada 1946. Ia resmi menjadi Warga Negara Indonesia (WNI) pada 1951. Ia merasa senang menikmati masa senja di Biara MSC Batu Gantung ini. “Dengan menjadi WNI, saya rasa tidak perlu kembali ke Belanda sebab saya senang tinggal di sini.”

Mgr Sol berterima kasih kepada Tuhan karena masih diberi hidup sampai hari ini. Ia mengaku tidak memerlukan perayaan itu, karena di dalam perayaan orang biasanya hanya menyebut hal yang baik, sedang hal yang kurang baik tidak disebut. “Di waktu Misa, kita mengatakan saya berdosa, saya berdosa. Itu saya mengaku juga bahwa dalam hidup saya ada kekurangan dan dosa. Tetapi karena banyak orang yang ingin merayakan peringatan ini, maka saya tidak bisa melawan. Seratus tahun, panjang sekali,” ujar Mgr Sol sambil tersenyum.

Maria Pertiwi

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*