Artikel Terbaru

Mengintip Rahasia Dapur Hosti yang Jarang Diketahui Awam

Sr Theresia OSC (kanan) menata hosti berukuran besar untuk dipotong menjadi hosti-hosti kecil. Sementara koleganya, Sr Ana OSC sedang menyortir hosti, sebelum masuk ke oven.
[HIDUP/Yanuari Marwanto]
Mengintip Rahasia Dapur Hosti yang Jarang Diketahui Awam
3.7 (74.44%) 18 votes

HIDUPKATOLIK.com – Sejumlah biara punya ruangan khusus pembuatan hosti. Usaha ini demi menyambung hidup dan karya komunitas.

Indikator suhu di gadget menunjukkan angka 18 derajat celsius. Suhu di Biara
Santa Clara Pacet, Sindanglaya, Jawa Barat, pukul 03.30, membuat gigi gemertak. Air di kamar mandi pun terasa seperti arus listrik, menyengat dan mengejutkan tubuh. Bila tak ada kesibukan, orang akan memilih berlindung di balik selimut.

Tidak demikian bagi Ina dan Onsa. Dua karyawati itu telah menyelami karyanya di ruang pembuatan hosti. Sebab, hosti yang baru keluar dari pan atau cetakan harus dilembabkan, sebelum dipotong. Bila hosti keburu kaku, bakal rapuh dan rusak saat pemotongan.

Menurut Sr Theresia OSC, penanggung jawab pembuatan hosti, bila musim kemarau berkepanjangan, mereka harus bangun pukul 02.30. Demi mempercepat pelembapan, selama musim itu mereka menggunakan kipas angin. Selain itu, pembuatan hosti hanya berlangsung hingga pukul 12.00.

Tertutup, Rapi
Di beberapa sekolah atau kampus, kadang ada program bernama kunjungan atau studi wisata ke pabrik atau rumah produksi (field trip factory). Dalam kegiatan itu, para siswa atau mahasiswa bisa mengetahui proses dari awal hingga akhir sebuah produk, misal makanan atau minuman.

Kegiatan seperti itu takkan terjadi di ruang pembuatan hosti di biara milik Ordo Santa Clara (Ordo Sanctae Clarae/OSC), atau biara kontemplatif lain. Abdis (sebutan untuk pemimpin perempuan di biara) tak bakalan memberi izin. Bukan lantaran khawatir “rahasia dapur” mereka diketahui publik, tapi ruangan pembuatan hosti masuk dalam wilayah klausura (tertutup).

Kata Sr Theresia, jangankan awam, suster dari tarekat lain pun, tak bisa masuk ke ruangan yang mulai digunakan sejak 7 Januari 1981. “Di ruangan ini ada empat karyawati, selain mereka tak ada yang boleh masuk ke sini (ruang pembuatan hosti-Red.),” tandas Sr Theresia, ketika ditemui di ruang kerjanya, Rabu, 31/5.

Aturan yang berlaku di sana mirip di Biara Providentia milik para Klaris Kapusin di Singkawang, Kalimantan Barat. Sementara, aturan di Biara Santa Klara di Kefamenanu, Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur lebih ketat lagi.

Menurut Sr Maria Michaela G. OSCCap, di sana, hosti hanya dibuat oleh dua suster, yakni Sr Koleta Sinulingga OSCCap dan Sr Fidelia Mokos OSCCap. “Tidak ada karyawati karena biara kami klausura, awam tidak bisa masuk,” kata biarawati yang berada di sana sejak 2006.

Praktik serupa juga berlangsung di Biara Trappist Bunda Pemersatu Gedono, Salatiga, Jawa Tengah. Hosti dibuat oleh suster, terutama para novis. Dalam sehari, ada sekitar delapan novis, bersama enam orang lain yang membuat hosti sejak pagi hingga siang. Sementara dua orang akan bekerja pada sore hari, membersihkan ruangan pembuatan hosti.

Ruangan pembuatan hosti di biara-biara umumnya rapi. Seperti di Biara Pacet, nyaris tak ada kesat debu begitu “menyapu” lantai dengan ujung jari. Juga sama sekali tak ditemukan satu ekor serangga pun di sana. “Kami sama sekali tak memakai obat-obatan apa pun untuk menghalau serangga. Kami hanya membersihkan ruangan ini, tiap kali selesai dipakai,” ujar Sr Ana OSC, rekan karya Sr Theresia di ruang hosti.

Tak Tersisa
Biara-biara ini umumnya hanya menggunakan campuran tepung terigu dan air untuk membuat adonan hosti. Di Pacet, Sr Theresia mendeskripsikan, mereka mencampur tepung segitiga dengan tepung kunci dengan komposisi 1:1, masing-masing sebanyak 25 sendok nasi, dan air lima liter. Adonan itu kemudian di-mixer hingga lembut.

Bila komposisi masing-masing tepung tak sebanding akan berpengaruh pada hosti, demikian juga bila adonan terlalu encer atau padat, karena kebanyakan atau kekurangan air. “Bila tepung terigu terlalu banyak, hosti gampang remuk. Tapi kalau kebanyakan tepung kunci, hosti akan menempel di langit-langit mulut. Bila kebanyakan air, hosti jadi tipis. Tapi jika kurang air hosti menjadi ‘bunga-bunga’ atau tak halus,” jelasnya.

Dalam sebulan, Biara OSC Pacet butuh 35 karung tepung segitiga, dan 35 karung tepung kunci. Satu karung tepung segitiga seharga Rp 156.000, sementara harga tepung kunci hanya terpaut Rp 10.000, di bawah tepung segitiga. Sejak September tahun lalu, Biara Pacet membeli tepung di Cipanas, sebelumnya di Bogor. Biaya transportasi dan efisiensi waktu menjadi alasan.

Usai di-mixer, adonan langsung dituang di atas pan, satu adonan kira-kira satu sendok sayur. Ada sembilan pan milik OSC Pacet. Enam pan bermerek Baker dari Belanda, sisanya berstempel Kissing asal Jerman. Ada rupa ada harga untuk perbandingan kedua mesin cetak itu. Cetakan Baker dengan diameter 35 centimeter dibandrol Rp 75 juta. Sementara dengan diameter 30 harganya sekitar Rp 70 juta.

Sr Theresia mengakui, ada satu kesamaan dari semua peralatan yang digunakan di ruang pembuatan hosti. Semua alat sama-sama memakan daya listrik amat besar. Bayangkan, satu peralatan butuh tenaga paling sedikit 2000 watt. Itu belum termasuk mata pisau mesin pemotong hosti yang harga sebilah berkisar Rp 7,5 juta. Beruntung, semua alat mereka bersihkan atau menggerindanya sendiri.

Proses cetak hosti butuh waktu berkisar satu menit. Untuk menentukan hosti sudah atau belum matang tak terlalu sulit jika mencetak di pan Baker, sebab ada lampu indikator. Berbeda jika menggunakan Kissing, butuh feeling, imbuh Suster Theresia, sebab tak ada indikator di pan itu. Selama proses cetak, adonan yang tiris di pinggir pan segera dibersihkan, agar bentuk hosti bulat sempurna. Tirisan adonan bisa dijadikan kerupuk atau kwetiau.

Selesai cetak, hosti dilembabkan, kemudian dipotong menggunakan mesin. Kecuali hosti patena yang berdiameter 14 centimeter, dikerjakan secara manual dengan menyilet cetakan satu per satu. Kerumitan itu jelas berimbas pada harga. Satu bungkus hosti patena berisi lima biji seharga Rp 50 ribu.

Hosti yang telah dipotong lantas disortir dan masuk ke dalam oven selama satu jam. Pemanggangan membuat hosti menjadi renyah dan tahan lama. “Hosti kami bisa tahan sampai 1,5 tahun. Tapi kami sarankan sebaiknya cukup enam bulan saja agar hosti masih amat terasa nikmat,” ungkap biarawati asal Sedayu, Yogyakarta ini.

Tak hanya kerupuk yang berasal dari adonan hosti yang luber, potongan hosti juga bisa diolah menjadi kudapan, seperti keripik. Makanan ringan itu di Biara Pacet disebut simping, yang dicampur dengan bumbu balado. Selain bisa menambah pemasukan, cemilan itu bisa menjadi buah tangan khas Klaris Pacet. Jadi, tak ada adonan hosti yang tersisa atau bahkan terbuang kan?

Beda Harga
Jumlah produksi dan harga hosti tiap biara berbeda-beda. Di Pacet, dalam sehari bisa memproduksi tujuh hingga delapan dus hosti kecil berdiameter tiga centimeter. Berat satu dus 2,25 kilogram. Dalam satu dus ada sekitar 250 ribu hosti kecil. Hosti asal Pacet ini tersebar ke sejumlah paroki di berbagai keuskupan, antara lain Keuskupan Agung Jakarta dan Palembang, Keuskupan Bogor, Bandung, Tanjung Karang, Manokwari Sorong, dan Padang.

Khusus di Jakarta, imbuh Sr Theresia, tiap paroki datang langsung ke Biara Pacet setiap dua hingga tiga bulan sekali. Dalam sekali kunjungan, paroki membeli 1020 dus. Paroki hampir selalu membayar tunai. “Mereka tahu kalau kami tak keluar biara.”

Lebih lanjut, jika yang datang untuk membeli hosti itu orang baru, Sr Theresia meminta surat pengantar dari pastor paroki dan kartu identitas. Ia tak segan juga melemparkan pertanyaan seputar paroki, misalkan nama pastor parokinya. Jika orang itu tak sanggup menjawab, atau mencurigakan, ia tak segan untuk menolak permintaan orang itu.

Sementara di Biara Carolus Borromeus di Yogyakarta, kata Sr Emmanuella CB, dalam sehari bisa menghasilkan delapan kilogram hosti. Harga hosti buatan CB berkisar Rp 80.000100.000 per kilogram. Mayoritas konsumen hosti buatan Suster CB ini adalah paroki-paroki yang berada di Keuskupan Agung Semarang.

Selain buatan para Suster CB, beberapa paroki di Keuskupan Agung Semarang juga dapat membeli hosti buatan para Rubiah Trappist. Selain itu, mereka juga menyuplai kebutuhan hosti untuk paroki-paroki di Keuskupan Purwokerto. Dalam sepekan, Gedono memproduksi sekitar 28 kilogram hosti. Tiap satu kilogram kemasan berisi sekitar 5300 hosti.

Sementara hosti kecil buatan Klaris di Kefamenanu dibandrol Rp 30.000 per bungkus. Dalam satu bungkus berisi 900 hosti. Keuskupan Atambua menjadi pelanggan hosti buatan Suster Klaris ini. Tak jauh beda, para suster Klaris di Singkawang, Kalimantan Barat juga menjadi pemasok utama hosti untuk Keuskupan Agung Pontianak.

Kata Sr Maria Rosa Arel OSCCap, keuskupanlah yang akan memesan dan mendistribusikan hosti ke paroki-paroki. Beberapa paroki, yang berada di sekitar biara, membeli langsung hosti di susteran. Mengenai harga, satu bungkus berisi 1000 hosti dijual Rp 30.000.

Menopang Hidup
Pembuatan hosti di sejumlah biara ikut menopang hidup dan karya tarekat. Pasti ada untung dalam usaha itu, selain misi mulia, yakni mencukupi kebutuhan liturgi tiap paroki di masing-masing keuskupan. Logikanya sederhana, jika produksi terus merugi, masa iya terus dipertahankan.

Sr Theresia mengakui, dari usaha hosti, sebulan mereka mendapat pemasukan sekitar Rp 20-30 juta. Tapi, lanjutnya, jumlah itu hanya untuk biaya hidup, termasuk makan-minum para suster dan karyawan setiap hari. “Kalau untuk gaji karyawan tak cukup dari hosti,” katanya, seraya tersenyum. Apalagi sebagai biara kontemplatif, Klaris Pacet, salah satunya hanya mengandalkan usaha di dalam biara, seperti rumah retret, kebun, ternak, dan pembuatan hosti demi menyambung hidup dan karya mereka, serta karyawan yang ikut membantu misi mereka di dunia.

Yanuari Marwanto
Laporan: Edward Wirawan/Maria Pertiwi

KOMENTAR ANDA:

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*