Artikel Terbaru

Serba-serbi Hosti yang Perlu Diketahui Umat

Proses pembuatan hosti di Sidanglaya, Jawa Barat.
[HIDUP/Yanuari Marwanto]
Serba-serbi Hosti yang Perlu Diketahui Umat
4.2 (84%) 10 votes

HIDUPKATOLIK.com – Sejak kapan hosti bulat kecil digunakan dalam Ekaristi? Apa bahan untuk membuatnya? Adakah dokumen Gereja yang membahas soal ketentuan bahan dan cara membuat hosti ini? Pertanyaan semacam itu kerap berseliweran di benak umat.

Tahun ini, Gereja Katolik merayakan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus pada Minggu, 18 Juni. Dalam Ekaristi, Gereja mengimani bahwa roti atau hosti dan anggur setelah dikonsekrasikan oleh Sabda Tuhan menjadi Tubuh dan Darah Yesus Kristus. Kristus hadir di dalam Ekaristi dalam rupa hosti dan anggur.

Hosti berasal dari bahasa Latin “hostia”, yang berarti kurban sembelihan atau persembahan. Ketika Yesus wafat di salib, Ia mempersembahkan Diri-Nya sebagai kurban untuk menghapus dosa-dosa manusia.

Hosti merupakan roti dari gandum, berbentuk bulat, dan berwarna putih. “Praktik penggunaan hosti bulat kecil untuk umat terjadi sejak abad XII. Sebelumnya hanya hosti besar yang digunakan dalam perayaan Ekaristi,” ungkap Sekretaris Eksekutif Komisi Liturgi Konferensi Waligereja Indonesia (Komlit KWI), Romo Yohanes Rusae.

Setiap sakramen memiliki materi dan rumusan sakramental. Materi sakramental, lanjut Romo John, sapaannya, adalah bahan atau tindakan yang digunakan untuk merayakan sakramen. Sedangkan rumusan sakramental adalah kata-kata yang menyertai atau mengungkapkan secara jelas arti/ makna dari tindakan atau materi tersebut.

Romo John menjelaskan bahwa materi Sakramen Ekaristi adalah roti dan anggur. “Kurban Ekaristi Mahakudus harus dipersembahkan dengan roti dan anggur, yang harus dicampur sedikit air” (KHK Kan. 924 §1 dan PUMR 319). “Rumusan sakramental adalah kisah dan kata-kata Yesus sendiri yang terdapat di dalam seluruh Doa Syukur Agung. Roti dan anggur diubah menjadi Tubuh dan Darah Kristus pada waktu seluruh Doa Syukur Agung diucapkan. Maka, Doa Syukur Agung adalah tugas khas imam dan harus diucapkan dengan selengkapnya hanya oleh imam (Redemptionis Sacramentum art.52)”, paparnya.

Bahan Hosti
Bahan roti yang dipergunakan di dalam perjamuan malam terakhir Yesus bersama para rasul ialah roti tanpa ragi. “Praktik Yesus dan para Rasul tersebut berakar pada tradisi Yahudi yang hanya menggunakan roti tidak beragi untuk Perjamuan Paskah Yahudi. “Jadi kamu harus tetap merayakan hari raya makan roti tidak beragi, sebab tepat pada hari ini juga Aku membawa pasukan-pasukanmu keluar dari tanah Mesir” (Kel 12:17). Roti tak beragi, yang umat Israel makan dalam perayaan Paskah setiap tahun, mengingatkan pada ketergesaan keluaran dari Mesir yang membebaskan (Kel 12:1-28, 31-39; Katekismus No.1334),” jelas Romo John.

Kebiasaan menggunakan roti tidak beragi untuk merayakan Ekaristi menjadi praktik umum di seluruh Gereja pada abad VIII dan IX. Pada abad XI, Gereja Latin memutuskan hanya menggunakan roti tidak beragi. Selanjutnya, hosti haruslah terbuat dari gandum murni dan baru, sehingga tidak ada bahaya pembusukan (KHK Kan.924 §2; PUMR 320).

Menurut ketentuan Redemptionis Sacramentum art.48, roti yang dipergunakan dalam perayaan Kurban Ekaristi Mahakudus harus tidak beragi, seluruhnya dari gandum, dan baru dibuat sehingga dihindari bahaya menjadi basi. Karena itu, roti yang dibuat dari bahan lain, sekalipun dari butir padi atau yang dicampur dengan suatu bahan lain yang bukan gandum sedemikian rupa sehingga orang tidak lagi memandang itu sebagai roti, tidak merupakan bahan sah untuk dipergunakan pada Kurban dan Sakramen Ekaristi. Adalah pelanggaran berat untuk memasukkan bahan lain ke dalam roti untuk Ekaristi itu, misalnya buah-buahan atau gula atau madu. Tentu saja hendaknya hosti-hosti dikerjakan oleh orang yang bukan hanya menyolok karena kesalehannya, tetapi juga terampil dalam hal mengerjakannya, seraya diperlengkapi dengan peralatan yang sesuai.

“Ragi itu membusukkan atau merusak. Orang Yahudi menganggap proses fermentasi yang disebabkan oleh ragi adalah semacam perusakan. Untuk alasan ini, ragi dikeluarkan dari rumah-rumah Yahudi sepanjang masa Paskah (Kel 12:15; Im 2:11),” ujar Romo John.

Ragi dipakai sebagai lambang kejahatan yang merusak atau menghancurkan. Yesus mengatakan, “Berjaga-jagalah dan awaslah terhadap ragi orang Farisi dan ragi Herodes” (Mrk 8:14). “Roti tak beragi lambang hati yang murni. Persembahkanlah kepada Tuhan hati yang murni bukan hati yang dirasuki atau dihancurkan oleh kejahatan,” kata Romo John.

Dipecah dan Dibagikan
Hosti berbentuk bulat besar dan bulat kecil putih. Dalam Ekaristi, setelah kata-kata “Terimalah dan makanlah: Inilah Tubuh-Ku yang diserahkan bagimu”, imam memperlihatkan hosti besar itu kepada umat beriman dan kemudian dipecah-pecahkan pada saat “Pemecahan Roti/Anak Domba Allah. Hosti kecil biasanya diperuntukkan bagi umat beriman yang tidak mendapat komuni dari hosti besar yang dipecah-pecahkan tadi.”

Pada zaman para rasul, perayaan Ekaristi disebut Pemecahan Roti, karena dahulu roti yang digunakan biasanya berukuran besar. Roti itu, lanjut Romo John, dipecah-pecahkan bukan hanya agar bisa diterima dan disantap oleh umat, tetapi juga untuk melambangkan dengan jelas dan nyata bahwa semua bersatu dalam satu roti (PUMR 321). Maka hosti tersebut dibuat sedemikian rupa sehingga sungguh-sungguh kelihatan sebagai makanan, dapat dipecahkan oleh imam dan mudah dimakan, sebagaimana dibuat Yesus dalam perjamuan malam terakhir. Baik sekali jika imam melaksanakan pemecahan roti dengan khidmat dan setelah memecah-mecahkan hosti besar, tidak menyantap sendiri seluruh hosti besar itu, tetapi membagikan beberapa bagian dari hosti besar itu kepada beberapa umat agar tampak secara jelas makna menyambut komuni dari roti yang satu (PUMR 321, bdk. 1Kor 10:17).

Gereja hanya menentukan bahan dan cara membuat hosti, sebagaimana telah dikatakan di atas. Hukum Gereja tidak menentukan secara pasti tentang siapa saja yang boleh membuat hosti untuk perayaan Ekaristi. Meskipun demikian, Uskup setempat dapat menentukan siapa yang boleh membuat hosti. Bagi yang sanggup, sebaiknya meminta dan mendapat izin dahulu dari Uskup setempat, baru boleh mengadakan hosti. Sikap tersebut hendaknya dilakukan untuk menjamin keabsahan hosti tersebut; selain itu, karena Uskup setempat adalah pengatur dan penjaga Liturgi (Christus Dominus art.15; Redemptionis Sacramentum art.19). Dalam tradisi, barangkali sampai sekarang, biasanya biara-biaralah yang membuat hosti untuk perayaan Ekaristi.

Maria Pertiwi

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*