Artikel Terbaru

Kalau Betul Yesus Adalah Tuhan, Mengapa Yesus Berdoa Kepada Allah Bapa Di Taman Getsemani?

Kalau Betul Yesus Adalah Tuhan, Mengapa Yesus Berdoa Kepada Allah Bapa Di Taman Getsemani?
3 (60%) 5 votes

HIDUPKATOLIK.com – Jika Yesus adalah Allah Putra, Pribadi kedua dari Allah Tritunggal yang Mahakudus, mengapa Yesus masih berdoa kepada Allah Bapa seperti di Taman Getsemani?

Faustina Tumirah, Malang

Pertama, berbicara tentang Yesus Kristus, kita harus menyadari keunikan yang dimiliki Yesus. Yesus adalah Allah Putra, Sang Sabda yang menjelma menjadi manusia (Yoh 1:14). Dalam penjelmaan, Allah Putra tidak mempertahankan keallahan-Nya tetapi mengambil bentuk seorang manusia, dan mengalami hidup sebagai manusia dalam segala hal, termasuk kematian, kecuali dalam hal dosa (Fil 2:6-11; Ibr 4:15). Sang Sabda menjadi manusia sama seperti kita, kecuali dalam hal dosa. Namun demikian, Sang Sabda tidak menanggalkan kodrat ilahi dan
pribadi ilahi-Nya. Karena itu, dalam Konsili Khalcedon (tahun 451), Gereja
merumuskan jati diri Yesus sebagai mempunyai dua kodrat, yaitu ilahi dan insani, yang disatukan dalam satu pribadi ilahi. Kedua kodrat itu sungguh-sungguh bersatu, tetapi tidak tercampur dan tidak terpisah. Keadaan ini sulit kita lukiskan dengan konsep-konsep kita saat ini.

Kedua, sebagai Injil yang ditulis paling akhir di antara keempat Injil, Injil Yohanes menampilkan Yesus sebagai Sabda (Firman) yang menjadi manusia (Yoh 1:1-14). Yohanes menekankan keilahian Yesus. Misalnya dalam doa Yesus, pada Yohanes 17, ditampilkan doa yang dipanjatkan oleh seorang yang mengetahui segala sesuatu dan kini akan kembali kepada kemuliaan-Nya yang kekal. Dia sudah memiliki kemuliaan itu sejak sebelum segala sesuatu diciptakan (Yoh 17:5). Yesus menunjukkan kedekatan-Nya dengan Bapa dan bahwa Bapa di surgalah yang mengutus Dia (Yoh 11:42). Yoh 12:27-28 adalah doa Yesus di Getsemani versi “kristologi dari atas” dari penginjil Yohanes. Terasa kuat sekali dalam Injil Yohanes relasi pribadi Yesus dengan Bapa di surga.

Ketiga, Injil-injil Sinoptik mempunyai pendekatan “kristologi dari bawah”, yaitu lebih menampilkan Yesus sebagai manusia, Guru yang mengajar dengan penuh kuasa dan membuat banyak mukjizat. Karena itulah ketiga Injil ini lebih menekankan sudut pandang kemanusiaan, pergumulan dan pencobaan, kecemasan dan kegembiraan Yesus. Pengalaman-pengalaman Yesus menggemakan pengalaman kita manusia.

Sebagai manusia, Yesus menghabiskan waktu berjam-jam, bahkan semalam-malaman sendirian berdoa kepada Bapa-Nya (Mrk 1:35; 6:46 par; Luk 5:16; 6:12; 9:18.28; 11:1; 22:41-46). Sangat kentara, Lukas menekankan Yesus yang sedang berdoa.
Doa-doa itu mengungkapkan sikap dasar Yesus sebagai manusia kepada Allah di surga, sebagai Putra kepada Bapa. Kedalaman relasi Yesus dengan Bapa, dan fokus misi Yesus untuk melakukan kehendak Bapa, nampak kuat sekali dan berulang kali. Yesus percaya total kepada Bapa-Nya.

Beberapa contoh akan menonjolkan karakter Yesus. Dari doa-doa itu kita bisa merasakan kepercayaan mutlak Yesus akan cinta dan kesetiaan Bapa-Nya. Yesus berterimakasih kepada Bapa-Nya karena kebijaksanaan-Nya yang melampaui pemikiran manusia (Mat 11:25; Luk 10:21). Dalam doa-doa Yesus itulah menjadi nyata sikap dasar Yesus yang melakukan kehendak Bapa, betapapun sulit dan beratnya seperti ketika Yesus berdoa di taman Getsemani: “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki .”(Mat 26: 39). Itulah pelaksanaan konkrit dari apa yang diucapkan Yesus, “makanan-Ku ialah melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerajaan-Nya.” (Yoh 4:34).

Keempat, perlu juga disadari bahwa ada kecenderungan dalam Gereja untuk memandang Yesus Kristus lebih sebagai Allah dengan mengabaikan kemanusiaan-Nya. Tentu saja pandangan yang demikian itu tidak sesuai dengan ajaran Gereja. Pandangan yang demikian juga sangat merugikan fakta kedekatan (solidaritas)
Yesus dengan seluruh umat manusia yang menjadi dasar Yesus untuk bertindak sebagai wakil dari seluruh umat manusia. Yesus adalah manusia yang sempurna.

Petrus Maria Handoko CM

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*