Artikel Terbaru

Hanya Tuhan yang Tahu Jalan Terbaik Untukku

Albertus Wibowo Wahyu Sanyoto.
[HIDUP/Karina Chrisyantia]
Hanya Tuhan yang Tahu Jalan Terbaik Untukku
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Cita-citanya pupus lantaran menuruti kehendak sang ibu. Siapa sangka, Tuhan punya misi khusus untuk dia. Ia menjadi “gembala” bagi anak-anak berkebutuhan khusus.

Gang L-1, Jalan Duri Selatan, nyaris tak menyisakan celah bagi pejalan kaki. Lokasi yang berada di wilayah Tambora, Jakarta Selatan, pada Rabu pekan lalu, dipenuhi siswa berseragam Pramuka. Mereka adalah murid Yayasan Kasih Bunda Sejati (YKBS), lembaga pendidikan bagi penyandang tunarungu dan tunagrahita.

Jam pelajaran baru saja usai. Mereka berkumpul di gang untuk menanti kendaraan yang mengantar pulang. Di depan pintu sekolah, berdiri pria paruh baya dan berkaca-mata. Nama pria itu Albertus Wibowo Wahyu Sanyoto. Bowo, sapaannya, tak akan beranjak sebelum semua siswa dijemput. “Mereka harus ditungguin, takut ada yang hilang,” ujarnya singkat.

Bowo sudah 33 tahun menangani anak-anak berkebutuhan khusus. Selain menjadi guru, ia juga menjabat sebagai Direktur Pelaksana Harian YKBS. Meski demikian, Bowo mengakui, semula tak ada dalam angannya berkarya di tengah para difabel. “Sebetulnya itu ‘kecelakaan’, saya tak bercita-cita menjadi guru, apalagi guru di Sekolah Luar Biasa (SLB),” katanya.

Permintaan Ibu
Bowo sempat mencicipi pendidikan di Seminari Menengah St Petrus Kanisius
Mertoyudan. Tapi, hanya tiga bulan ia berada di tempat pembinaan calon imam itu. Bowo lantas putar kemudi dan masuk SMA Kanisius Solo, Jawa Tengah. Begitu lulus, sang ibu Chistina Kiswiyatun meminta Bowo melanjutkan ke Sekolah Guru Pendidikan Luar Biasa (SGPLB).

Keinginan sang ibu membuat pria yang gemar melukis ini kecewa. Bowo berangan-angan menjadi arsitek, seniman, atau praktisi hukum. Ia amat kecewa. Kekesalan itu ia lampiaskan dengan tak lagi menyentuh kuas dan cat air. Bowo menghentikan hobinya melukis. Ia tak sudi menjadi guru SLB.

Sebagai anak yang taat kepada orangtua, Bowo tak kuasa membantah keinginan ibundanya. Apalagi jika penolakan itu ia lontarkan terang-terangan, sang ibu bisa tersinggung dan sakit hati. Namun, ia juga tak ingin mengamini permintaan ibunya. Jangankan menjadi guru, baru membayangkan saja ia rasa tak mampu. Apalagi ini bukan menjadi guru biasa, tapi pendidik di SLB.

Menurut Bowo, guru di SLB harus punya keterampilan dan kesabaran ekstra, dibandingkan guru di sekolah umum. Ia berharap gagal saat tes masuk SGPLB di Solo. Bowo sengaja tak mempersiapkan apa pun. Harapan Bowo benar-benar kandas. Pengumuman tes menyatakan ia lulus di SGPLB.

Rampung di SGPLB, Bowo merantau ke Jakarta pada 1985. Ia mendapat pekerjaan di sebuah yayasan pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus. Sayang, karier Bowo di sana tak berumur panjang. Ia hanya bertahan dua tahun. Yayasan tak memperpanjang masa kontrak. Rupanya, laju yayasan sedang limbung saat itu. “Satu orang pendiri, Ibu Elizabeth, tersingkir dari yayasan yang dibangunnya,” kata Bowo, mengenang.

Tuhan tampaknya punya rencana lebih besar lewat kejadian nahas itu. Elizabeth kembali mendirikan yayasan pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus. Pemicunya adalah rasa iba. Yayasan itu berdiri di Ketapang, Jakarta Barat. Baru muncul beberapa tahun, yayasan itu lagi-lagi diterpa aneka persoalan.

Buntutnya, lahirlah YKBS. “Untung pada saat itu, saya dan istri sudah diangkat menjadi pegawai negeri. Jadi pada saat yayasan goyah, kami masih bisa mencukupi kebutuhan keluarga,” ujar Bowo.

Rencana Pindah
Pada 1994, setahun setelah YKBS muncul, Bowo bekerja di belakang layar. Situasi yayasan pada saat itu kurang greget, lantaran kondisi Elizabeth tak kondusif. Ia jatuh sakit. Mau tak mau, Bowo mengambil alih segala urusan YKBS, mulai dari membuat logo, mencari guru dan donatur.

Kondisi Bowo pada saat itu juga berada di titik nadir. Ia ingin hengkang dari
yayasan, dan membangun masa depan di kampung halamannya, Solo. “Saat itu, saya juga jenuh membantu Ibu Elizabeth. Saya seharusnya mencari nafkah untuk keluarga,” akunya.

Pada 1995, keponakan Elizabeth pulang dari Amerika. Bowo berharap, keponakan Elizabeth itu yang memegang kendali YKBS. Dengan demikian, langkah Bowo membawa istrinya ke Solo menjadi ringan. Ia tak merasa terbebani meninggalkan yayasan, sebab ada yang mengurusnya.

Suatu hari, Bowo dan istrinya membawa berkas logo ke yayasan. Mereka sekaligus ingin pamit untuk pindah ke daerah. Namun, Bowo kaget dengan perkataan keponakan Elizabeth. “Kalau Bapak dan Ibu pindah, sekolah dan yayasan, saya tutup besok. Apalagi yang perlu dipertahankan?” kutip Bowo.

Bowo dan istrinya sedih mendengar kata-kata itu. Bowo tak tega jika yayasan
harus tutup. Ia merasa punya tanggung jawab moral mempertahankan keberadaan yayasan. Selain itu, umat Paroki St Gregorius Agung Kutabumi, Tangerang, Keuskupan Agung Jakarta, mengingat pesan ayahnya F.X. Supono, “Rejeki kamu tuh di Jakarta.”

Kata-kata itu membuat Bowo mengurungkan rencana pindah, meski berat hati, katanya mengakui. Pada 30 Mei 1999, Elizabeth meninggal. Di depan jenazah Elizabeth diumumkan, tongkat estafet YKBS dialihkan kepada Bowo. Pada saat itulah, Bowo merasa seluruh isi langit berada di atas pundaknya. “Saya dengernya pengen jatuh, sama seperti Bunda Maria menerima kabar gembira. Tapi kabar gembira ini kok nyiksa,” kenangnya.

Jatuh bangun Bowo mengurus YKBS. Situasi ini justru membuat hubungannya kian intim dengan Bunda Maria. Bowo menumpahkan berbagai kekalutan dalam batin dan pikiran kepada Maria. “Saya tak ada kekuatan. Saya hanya bisa pasrah,” ujar pria kelahiran Klaten, Jawa Tengah, 19 April 1963, mengakui.

Setiap pagi, Bowo mengawali hari dan perjalanan ke yayasan dengan doa Rosario. Tiap malam, ia mendaraskan 100 doa Bapa Kami. Sang istri, yang sebelumnya penganut Protestan, sempat berseloroh kepada Bowo. “Dulu katanya, doa kok diulang-ulang. Tapi kini justru melakukan hal yang sama,” ungkap Bowo, mengulang pendapat istrinya seraya tersenyum.

Tidak disangka, repetisi doa menjadi teman Bowo dalam mempertebal iman. Kepasrahan kepada bimbingan Roh Kudus, serta doa membuatnya sanggup menggerakkan roda YKBS hingga kini. Bahkan, YKBS tak sekadar ada bagi siswa berkebutuhan khusus, tapi juga berhasil mengukir prestasi.

Hidup Bersama
Bowo mengenang, menjalani profesi yang bukan pilihan atau panggilan hati pertama-tama memang sulit. Cinta terhadap profesi serta anak-anak berkebutuhan khusus, ia akui, mulai tumbuh seiring berinteraksi dan hidup bersama mereka. Rasa cinta itulah yang membuatnya mati-matian mempertahankan YKBS.

Kebahagian bagi Bowo justru bisa terasa pada hal kecil dan biasa. Misal, ketika Bowo dan istri memasak dan menyiapkan makan siang untuk para siswanya.

Bowo tak menepis, beberapa kali ia mendapat tawaran untuk pindah yayasan atau sekolah, disertai iming-iming gaji yang menggiurkan. Begitu sering mendapat tawaran, sesering itu pula ia menolak. “Tuhan memanggil saya untuk menjadi pastor’ anak-anak berkebutuhan khusus,” ungkap Bowo.

Karina Chrisyantia

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*