Artikel Terbaru

Penulis Siluman yang Karyanya Selalu Ditunggu

Anang YB.
Penulis Siluman yang Karyanya Selalu Ditunggu
5 (100%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.com – Dulu ia ”miskin”, tak punya uang untuk membeli buku. Berkat ”kegilaannya” membaca, banyak karya lahir dari tangannya.

Di rumah Anang YB, buku berserakan. Bukan berarti ia sembrono. Keluarga Anang memang gemar membaca. Mereka maniak membeli buku. Alhasil, dua lemari buku sudah jebol karena kebanyakan isi. “Sekarang buku-buku disimpan dalam beberapa kontainer plastik dan saya taruh di kolong meja kerja. Sebagian lagi tersebar di meja, sofa, kamar tidur, hingga dapur.”

Sebagian buku-buku yang sudah terbaca, Anang bagikan ke teman atau perpustakaan. Hanya buku referensi yang ia simpan. Kegemaran membeli dan membaca buku rupanya berlatar pada dunia menulis yang ia geluti. Selain itu, ada motif lain. Saat kuliah, Anang menyebut dirinya “miskin”, bahkan untuk membeli sebuah buku. Ia harus menjadi pengunjung tetap perpustakaan kampus Universitas Gajah Mada Yogyakarta. “Kini saya balas dendam dengan beli dan baca banyak buku, selagi pingin,” ungkapnya.

Radar Inderawi
Anang telah menghasilkan puluhan judul buku. Tiap tahun, ia menulis rata-rata lima hingga delapan buku; mulai biografi, true story hingga finansial. Produktivitas itu lahir dari sensitivitasnya terhadap setiap ide hingga peristiwa yang ia dengar dan saksikan. Menurut Anang, tiap orang punya curahan ide.“Yang membedakan satu orang dengan yang lain adalah kepekaan radar untuk menangkap dan menyimpan ide-ide itu.”

Penulis yang gemar berpergian ini mencatat, tiap gagasan atau apa yang ia lihat di gadget-nya. Ia tak membiarkan ide-ide alami dan segar itu menguap begitu saja. “Ide semacam itu perlu ditangkap agar bisa kita gunakan sewaktu-waktu,” ungkapnya.

Ayah dua anak ini mulai memasuki dunia tulis-menulis profesional sejak Februari 2008. Ia merajut aksara sebagai penulis, editor, penerbit, mentor, dan self publisher. “Semuanya itu saya coba agar saya bisa fokus dan dapat menemukan tempat,” imbuhnya.

Menjadi penulis, katanya, membuka banyak kesempatan untuk masuk ke semua kelompok. Anang percaya pada kekuatan tulisan untuk mengubah dunia. “Kata-kata seorang penulis itu dapat dipercaya dan biasanya menjadi rujukan. Dengan tulisan, meskipun sederhana, penulis dapat mengubah orang lain.”

Bagi umat Paroki St Arnoldus Janssen Bekasi ini, jadi penulis profesional itu berarti perlu menjadi master dibidangnya. “Penulis profesional bukan hanya sekadar beda, tapi juga karyanya akan dicari, dimintai bantuan, dan ditunggu-tunggu, bukan malah menunggu karyanya diterbitkan penerbit.”

Tiap penulis yang ingin masuk dunia profesional, lanjut Anang, wajib menerapkan dan mengupayakan semua definisi profesional itu.Karenanya, penulis mesti senantiasa belajar. Penulis perlu memiliki mitra kerjasama. “Semakin kencang orang memanggil ‘guru’, maka Anda harus semakin kencang berguru tanpa kenal lelah dan pantang berhenti,” ungkapnya.

Anang memiliki relasi luas. Ia bermitra dengan para penulis, ilustrator, desainer, translator, penerbit, percetakan, dan profesi lainnya. Ia yakin, latar belakang apapun dalam diri seseorang akan lebih bermanfaat dan berguna jika diberi bumbu kemampuan menulis. Anang punya banyak rekan penulis dengan pelbagai corak latarbelakang. Ada dari kalangan perwira, chef, sejarawan, pebisnis, hingga guru. “Mereka akan lebih didengarkan oleh publik, ketika mereka mampu menuliskannya dengan baik dan sadar publikasi,” simpul Anang.

Penulis Siluman
Menilik latar belakang akademik, Anang bukanlah produk kuliah tulis-menulis; sastra atau jurnalistik. Ia adalah jebolan Fakultas Geografi UGM. Namun, latar belakang itu tak menjadi tolok ukur dalam mengembangkan bakat menulis. Justru latar belakang itu memberi kesempatan baginya untuk menulis ensiklopedi pulau-pulau kecil di Nusantara. Oleh sebuah instansi, Anang dipercaya berkeliling di Kalimantan Tengah guna membuat buku ilmiah populer tebal dengan data satelit.

Kelahiran Yogyakarta, 47 tahun silam ini juga membuka jasa perpanjangan tangan dari pemilik gagasan dan kisah hidup yang hebat. Di titik ini, Anang menjadi seorang ghostwriter atau dalam KBBI bermakna “penulis siluman”. “Kita tahu bahwa banyak orang hebat dengan pengalaman hebat dan gagasan hebat, tapi amat lemah membuat bahasa tulisan. Maka kehadiran ghostwriter ini bisa menjadi penyampai gagasan mereka.”

Sebagai penulis siluman, Anang merahasiakan buku-buku yang ia tulis. Namanya tak ada di sana. Itu, katanya, semacam kode etik bagi seorang penulis siluman. Lewat jalur penulis siluman ini, Anang membantu puluhan instansi, baik pemerintah maupun lembaga swasta dan per orangan. “Ada yang saya bantu menelorkan naskah, menyunting, bahkan menerbitkannya juga.”

Namun, Anang tak asal menulis buku. Ia harus meriset kelayakan sosok atau obyek yang akan ia tulis; bukan sekadar mendapatkan profit. “Sebagai sebuah passion, menulis bukan hanya semata mendapatkan profit,” tegasnya.

Anang menjadi mentor menulis di beberapa lembaga pelatihan. Beberapa kali, ia juga memberikan pelatihan tulis-menulis, baik di paroki maupun di pelbagai tempat lain.Misal, ia pernah memberi workshop singkat untuk para relawan Yayasan Sosial Soegijapranata terkait menulis, menyunting, mendesain buku dan sampulnya, hingga proses penerbitan. “Saya lebih enjoy mengajar secara online menjadi mentor. Untuk itulah saya membuat program: menuntaskan naskah dalam tempo 1 bulan saja,” tuturnya.

Sandal Jepit Gereja
Embel-embel sebagai penulis siluman tak berarti nama Anang hilang dari sampul-sampul buku karyanya. Ia punya puluhan buku yang ia tulis atas nama sendiri. Misal, buku Hartini: Memoar Seorang Perempuan dengan HIV yang diterbitkan Andy F. Noya bersama Penerbit Buku Kompas. Selain itu, ada juga Calvin the Boy in the Baby Stroller, sebuah kisah nyata tentang anak dengan penyakit langka sejak lahir,Osteogenesis Imperfecta atau semacam penyakit tulang lunak. “Menulis naskah true story ini, saya selalu menangis, bahkan membacanya pun masih terus menangis.”

Dari semua karyanya, Anang paling berkesan dengan buku Sandal Jepit Gereja. Baginya, buku itu paling jujur bercerita tentang kehidupan dirinya menjadi seorang Ketua Lingkungan. Judul itu, kata Anang, merefleksikan sebagai posisi dibawah dan tak mau terlihat. Meski penjualan lambat, lanjutnya, buku terbitan OBOR itu terus dicari banyak orang.

Jalan suami Tjandra Susi Dwiliyani ini mendapatkan sokongan penuh keluarga. Sang istri bahkan mengundurkan diri dari salah satu perusahaan media cetak terbesar di Indonesia dan bergabung bersama Anang. “Istri saya menjadi periset, editor, dan pewawancara.”

Anang ikut membantu Komsos di parokinya. Kini ia mengampu sebagai Koordinator Bina Iman Anak dan Remaja (BIA-BIR). Anang mendukung kaum muda Katolik mengembangkan pewartaan di dunia literasi. Semangat itu dimulai dari dalam rumahnya. Ia kadang melibatkan Geofani Nerissa Arviana, putri sulungnya, dalam penyusunan naskah dengan segmen pembaca kaum muda. “Ada tagline perutusan untuk anak muda; teruslah menulis hingga seluruh bangsa jatuh ke pelukan-Nya.”

Anang YB
TTL:Yogyakarta, 4 Februari 1970
Istri: Tjandra Susi Dwiliyani
Anak: Geofani Nerissa Arviana, Justin Ananta

Pendidikan:
• SDN Bantul Timur 1979-1985
• SMPN I Bantul 1985-1987
• SMAN I Bantul 1987-1989
• Fakultas Geografi Universitas Gajah Mada, Yogyakarta 1990-1996

Kerja:
• Staff Konsultan Pemetaan (1996-2001)
• Tenaga Ahli Geografi Self-employed (2001-sekarang)
• Menulis lebih dari 600 artikel, 20 buku, dan 25 naskah dalam skema ghostwriting.
• Editor 20 naskah buku tema ekonomi, bisnis, parenting, dan motivasi.
• Mentor menulis di beberapa lembaga pelatihan.

Buku-buku:
• Santo Arnoldus Janssen ( 2009)
• Sandal Jepit Gereja (2009)
• 88 Mesin Uang di Internet ( 2009)
• Kerja di Rumah Emang Napa?
• Surat Cinta Buat Gembala (2010)
• Guru Writing Berdiri Murid Writing Berlari (2011)
• Hartini: Memoar Seorang Perempuan dengan HIV

Fr Nicolaus Heru Andrianto/Edward Wirawan

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*