Artikel Terbaru

Rasul Catania yang Menerjemahkan Alkitab Dalam Bahasa Tiongkok

Beato Gabriele Allgera bersama tim Studium Biblicum Tiongkok.
[absoluteprimacyofchrist.com]
Rasul Catania yang Menerjemahkan Alkitab Dalam Bahasa Tiongkok
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – “Tiongkok adalah proyek surgawi. Jika suatu saat saya bermisi ke Tiongkok, saya akan memaksa mereka mencintai Kitab Suci,” ucap Beato Gabriele suatu hari.

Ribuan umat menyemut di alun-alun kota Acireale, Catania, Italia. Alun-alun yang terletak persis di bawah kaki Gunung Etna ini menjadi saksi bisu beatifikasi “Martir Tiongkok dari Italia”, Pater Gabriele Allegra OFM. Perayaan akbar yang dipimpin Prefek Kongregasi Penggelaran Kudus, Kardinal Angelo Amato SDB juga dihadiri Uskup Emeritus Hongkong, Kardinal Joseph Zen Ze-kiun SDB bersama delegati dari Tiongkok.

Hari itu, 29 September 2012, menjadi momen bersejarah bagi umat Keuskupan Acireale dan umat Katolik di Tiongkok. Pater Gabriele, rasul Kitab Suci berdarah Catania telah meletakkan dasar iman bagi umat Katolik di Tiongkok. Ia dikenang sebagai rasul penerjemah Kitab Suci dalam bahasa Mandarin dan pendiri Lembaga Biblika Tiongkok.

“Ia telah mengkatolikan orang Tiongkok. Banyak orang percaya Kristus setelah membaca Kitab Suci berbahasa Mandarin. Sungguh, dia utusan yang merawat api Injil di Tiongkok,” tulis Paus Benediktus XVI dalam dekrit beatifikasi yang dibacakan oleh Kardinal Angelo Amato.

Pelayan Keluarga
Masa kecil Gabriele dihabiskan dengan membaca Kitab Suci. Ketika anak-anak seusianya lebih senang bermain, Gabriele memilih berdoa dan berkutat dengan Kitab Suci. Sebagai sulung dari delapan bersaudara, Gabriele tidak saja dipaksa menjadi dewasa, tapi juga mesti memberi contoh bagi adik-adiknya. Terkadang, peran anak sulung membuatnya putus asa, sebab setiap kali adik-adiknya berbuat salah, ia yang kena getahnya. Gabriele pun tumbuh menjadi anak yang dewasa dalam berpikir dan bertindak.

Pria kelahiran San Giovanni, La Punta, Catania, 26 Desember 1907 ini, lahir dengan nama Giovanni Stefano. Nama ini diberikan orangtua dengan harapan kelak Gabriele bisa menjadi rasul, seperti St Stefanus. Tetapi lebih dari itu, keluarga besar Allegra punya harapan, agar Gabriele bisa menjadi imam. Semangat itu membuat keluarga sederhana ini terus mendidik Gabriele dalam disiplin rohani yang ketat. Membaca Kitab Suci, berdoa Rosario, dan mengikuti perayaan Ekaristi, serta menerima Sakramen Pengakuan Dosa menjadi keharusan baginya.

Suatu hari, ia mengikuti perayaan imamat Pater Giovanni OFM di Montecorvino. Saat itu, Gabriele mendengar kisah Pater Giovanni tentang misi para imam Ordo Saudara-saudara Dina (Ordo Fratrum Minorum/OFM) di Asia. Kata Pater Giovanni, Asia menjadi lahan misi yang subur. Perjumpaan ini membuat Gabriele berani memutuskan menjadi imam.

Ia lantas masuk seminari kecil milik Fransiskan di San Biagio, Acireale, pada 1918. Setamat dari San Biagio, ia meneruskan ke Novisiat Fransiskan di Bronte tahun 1923. Sejak di novisiat, ia mulai tertarik dengan spiritualitas St Fransiskus Assisi. Selain itu, Frater Gabriele juga tertarik membaca Story of a Soul, sebuah refleksi St Theresia dari Kanak-Kanak Yesus. Keteladanan St Fransiskus membuat ia mantap memutuskan menjadi imam Fransiskan. Ia lalu meneruskan studi di Universitas Kepausan Antonianum, Italia pada 1926.

Frater Gabriele dikenal memiliki perasaan yang halus. Ia selalu sedih, bila menemui umat yang tidak mendapat pendidikan iman yang baik. Ia kerap keluar masuk rumah umat di dekat biaranya untuk memberikan katekese sederhana. Hal ini membuat dia sering dipanggil sebagai Cameriera di Famiglia atau ‘pelayan keluarga’. Setelah ditempa dalam rumah formasi calon imam, ia menerima Sakramen Imamat pada 1930.

Penerjemah Alkitab
Kisah Pater Giovanni tentang misi Fransiskan di Asia masih saja terngiang dalam batinnya. Kisah itu mendorong Pater Gabriele untuk ikut bermisi. Ia pun diutus bermisi ke Tiongkok. Sebelum berangkat, ia belajar bahasa Mandarin.

Hari yang ia nantikan pun tiba. Pater Gabriele tiba di Hunan, Tiongkok Selatan tahun 1931. Di sana, ia kembali memperdalam bahasa Mandarin, sembari belajar sejarah, geografi, dan budaya Tiongkok. Ia juga mulai bersosialisasi dengan umat Katolik di Tiongkok. Bahasa, menurutnya, menjadi salah satu kendala utama penyebaran Injil di Tiongkok. “Yang disampaikan para misionaris tidak dipahami, padahal Tiongkok adalah proyek surgawi,” ungkapnya.

Pater Gabriele mulai berpikir untuk menyederhanakan bahasa Kitab Suci dalam bahasa Mandarin. Pada 26 April 1935, Pater Gabriele memperkenalkan Kitab Suci berbahasa Mandarin untuk pertama kali. Tapi sayang, dalam proses penerjemahan Kitab Suci itu, kesehatannya terganggu. Rupanya, sakitnya serius. Ia pun mesti kembali ke Italia. Meskipun sakit terus merundungnya, Pater Gabriele menyempatkan diri memperdalam pengetahuan tentang Kitab Suci. Sempat ia ditawari agar menetap di Italia, namun hatinya terlanjur tertambat di Tiongkok.

Ia pun kembali ke tanah misi, Tiongkok. Setelah menempuh perjalanan selama empat bulan menuju Hunan, langkahnya harus terhenti. Kala itu sedang pecah Perang Tiongkok-Jepang (1937-1945). Sesuai perintah pimpinannya, ia berlabuh di Beijing pada 1941. Dalam kondisi perang ini, beberapa teks yang pernah ia terjemahkan raib. Setelah perang usai, teks Perjanjian Lama berhasil ia terjemahkan, meskipun belum sempurna.

Rasul Tiongkok
Pater Gabriele bertekad merampungkan proses penerjemahan Alkitab. Maka, ia meminta bantuan beberapa imam asal Tiongkok untuk membantu menerjemahkan Perjanjian Baru. Tim Biblicum Tiongkok ini terbentuk dalam semangat Beato John Duns Scotus. Tahun 1954, tim ini berhasil menerjemahkan delapan jilid Perjanjian Lama yang belum lengkap. Bersama tim ini, Pater Gabriele kemudian mendirikan Studium Biblicum Tiongkok, sebuah lembaga studi Kitab Suci di Tiongkok.

Awalnya lembaga ini menghadapi beragam tantangan, terutama keterbatasan pemahaman tentang teologi Kitab Suci. Pater Gabriele kemudian mengutus empat imam untuk studi Kitab Suci di Studium Biblicum Franciscanum Gerusalemme (SBF Yerusalem). Setelah mereka menyelesaikan studi, tim ini kembali menerjemahkan beberapa jilid Perjanjian Baru, seperti Kisah Para Rasul, Surat Paulus, dan Kitab Wahyu. Pada Natal 1968, bersama Pater Gabriele, tim ini melengkapi proses penerjemahan Perjanjian Baru, yang ia sebut sebagai Christmas Bible.

Pada 1960, Pater Gabriele mengunjungi SBF-Yerusalem. Sebelum kembali ke Tiongkok, ia mengikuti Kongres Ekaristi di Munich, Jerman. Dalam kongres itu, ia sempat bertemu Paus Yohanes XXIII. Dalam pertemuan pribadi dengan Paus, Pater Gabriele memberikan salinan Injil dalam bahasa Mandarin. “Saya telah menyelesaikan misi di Tiongkok. Banyak umat kini mengenal Kristus. Saya sudah siap untuk misi yang lain,” ujarnya kepada Bapa Suci.

Pater Gabriele terus berkarya dan melayani umat di Tiongkok dengan setia. Ia meninggal dunia di Hongkong, 26 Januari 1976. Seorang muridnya, Pater Giovanni Claudio Bottini menulis, “Saya ingat, ketika ia berkhotbah. Ia sangat tenang, penuh semangat, dan seakan setiap kata yang keluar dari mulutnya adalah Tuhan yang berkata.” Pater Gabriele dikenang sebagai rasul Kitab Suci di Tiongkok.

Yusti H. Wuarmanuk

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*