Artikel Terbaru

Wadah Bermusik dan Melayani Umat Paroki Kalvari

Musica Sacra de Calvary setelah mengiringi perayaan Natal Paroki Lubang Buaya, 2012.
[NN/Dok.Pribadi]
Wadah Bermusik dan Melayani Umat Paroki Kalvari
2 (40%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.com – Karena kesamaan minat dan kecintaan terhadap musik dan alat musik, komunitas ini melayani Gereja.

Musica Sacra de Calvary merupakan komunitas yang menjadi sarana bagi orang muda, terutama yang memiliki keterampilan bermusik untuk melayani Gereja. Komunitas ini hadir untuk memberi jawaban bagi orang muda yang memiliki kecintaan dalam bermusik.

Komunitas ini kali pertama terbentuk pada 2008 di Paroki Kalvari Lubang Buaya, Jakarta Timur. Awal terbentuk komunitas ini boleh dikatakan seadanya atau baru tahap percobaan. Anggota komunitas ini dari berbagai usia. Anggota awal yang tergabung kala itu memiliki rentang usia yang sangat jauh.

Kala tampil pertama, anggota paling muda masih duduk di kelas empat sekolah dasar, sedangkan usia paling senior sudah berkepala tujuh. Selain beda usia yang mencolok, pemahaman dan keterampilan bermusik pun ada kesenjangan. Tapi, tantangan ini tak menjadi persoalan serius dalam komunitas ini. Perbedaan itu justru bisa menyatukan anggota.

Salah seorang “motor penggerak” komunitas ini, Theresia Friska Ratih Sagita memaparkan, saat awal terbentuk, komunitas hanya melayani di sekitar Paroki Lubang Buaya saja. Pada Natal 2008, komunitas ini tampil untuk pertama kali di Gereja Kalvari, pun dengan sarana yang sederhana.

Saling Mendampingi
Setahun kemudian, Tere memegang kendali komunitas. Musica Sacra de Calvary pun mulai unjuk gigi. Mereka kerap diminta mengiringi beberapa acara khusus di Paroki Lubang Buaya, seperti Paskah, Natal, dan ulang tahun paroki.

Komunitas ini pun mulai bergeliat dengan menata organisasi. Mereka membuat partitur sendiri dan membuat jadwal latihan rutin satu minggu sekali. Partitur ditulis dalam bentuk hardcopy dan softcopy. Semua partitur yang dibakukan oleh komunitas ini tidak keluar dari pakem musik liturgi Gereja Katolik.

Mereka biasa berlatih pada Sabtu petang. Jadwal ini tidak baku, kadang disesuaikan dengan kondisi anggota. Tapi jika mereka diminta mengisi dalam perayaan-perayaan khusus, jadwal latihan bisa ditambah. “Kalau mendekati tugas dalam perayaan besar, kami biasanya latihan dua kali seminggu,” ungkap Tere.

Mereka biasa berlatih, satu hingga dua jam. Untuk tempat latihan, kadang di salah satu rumah anggota atau di kompleks Gereja Kalvari. Setiap kali latihan, sekitar enam anggota selalu hadir. Suasana latihan pun nampak santai tapi serius. Mereka yang datang untuk berlatih membawa alat musik sendiri-sendiri. Seringkali nampak, ada anggota komunitas yang membawa alat musik yang besar, seperti cello atau piano digital.

Tere mengatakan, dari latihan rutin itu, kemampuan setiap anggota terus bertambah. Ada anggota yang awalnya tak bisa membaca not balok, tapi karena kerap latihan jadi lancar baca not balok. Di komunitas ini, lanjut Tere, ada proses pendampingan. Mereka yang sudah mahir memainkan alat musik tertentu harus mendampingi anggota yang sedang belajar. “Proses pembelajaran seperti ini terus terjalin antaranggota komunitas,” ungkap Tere.

Tak Surut
Komunitas ini telah berjalan selama sembilan tahun. Selama itu pula, beragam tantangan hadir di hadapan mereka. Tantangan yang paling sering terjadi justru datang dari anggota komunitas. Anggota yang sudah merasa mahir memainkan alat musik, kadang enggan ikut berlatih. Mereka datang berlatih jika mendekati perayaan besar saja. “Ah nanti aja datang latihannya pas mau ada event,” kata Tere menirukan.

Saat komunitas ini terbentuk, cerita Tere, kedisiplinan berlatih amat kurang. Tapi itu sudah menjadi cerita masa lalu. “Dulu, kami biasa latihan sampai pukul 23:00, karena janjian pukul 19:00, baru ‘bunyi’ pukul 22:00,” kenangnya. Tapi itu sudah menjadi cerita masa lalu. Kini, anggota Musica Sacra de Calvary amat berdisiplin soal waktu.

Tempat latihan juga kadang menjadi tantangan bagi komunitas ini. Jika latihan di kompleks Gereja Kalvari, mereka mesti berbagi ruang dengan komunitas lain. Kadang mereka mesti latihan di salah satu rumah anggota komunitas. Tapi, kendala ini tak menyurutkan langkah para anggota komunitas untuk berlatih, demi melayani Tuhan.

Mimpi Konser
Tere mengakui, dukungan dari keluarga para anggota dan Gereja menjadi pemantik semangat komunitas ini untuk senantiasa melayani Gereja. Dukungan dari keluarga itu nampak ketika komunitas ini tampil melayani.

Paroki Lubang Buaya pun mendukung komunitas ini dengan menyediakan ruang dan fasilitas untuk berlatih. Mereka juga diberi jadwal pelayanan Misa. “Jadwal pelayanan ini, kami gunakan untuk ajang unjuk keterampilan bermusik. Jadi, selain mempertebal iman, kemampuan bermusik kami juga berkembang,” ujar Tere.

Tere berharap, Musica Sacra de Calvary bisa terus melayani Gereja, serta menjadi wadah bagi orang muda mengasah keterampilan bermusik. Rencana, Musica Sacra de Calvary akan menggelar konser. “Kami sedang mencoba mewujudkan mimpi itu.”

Christophorus Marimin

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*