Artikel Terbaru

Membuat ‘Bicara’ Anak-anak Tunarungu

Mengajar artikulasi: Tumir mengajar artikulasi bersama seorang anak.
[NN/Dok.Pribadi]
Membuat ‘Bicara’ Anak-anak Tunarungu
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Mula-mula, ia ingin menjadi sekretaris yang terlihat rapi, bersih, dan wangi. Namun, sudah 35 tahun ia memilih menjadi guru bagi anak-anak tunarungu.

Seorang perempuan bersama anak kecil sama-sama menghadap cermin. Sang perempuan berbicara dengan lantang. Si anak memperhatikan gerak bibir sang perempuan dengan seksama, lalu menirukan. Sekali-sekali, si anak memegang rahang sang perempuan. Di sekitar mereka terdapat botol berisi gabus untuk latihan pernapasan, balon, bola pingpong, dan sebuah meja panjang.

Perempuan itu bernama Bernadeta Tumirah. Sudah 35 tahun, Tumir mengabdikan diri sebagai guru di Sekolah Luar Biasa B Dena Upakara Wonosobo, Jawa Tengah. Hampir setiap hari, Tumir mengajar berbicara anak-anak tunarungu perempuan. Tidak hanya membantu berbicara, perempuan kelahiran Yogyakarta, 28 Maret 1959 ini juga menggali talenta “anak-anak diam”.

Jadi sekretaris
Menjadi guru, apalagi guru anak-anak luar biasa, jauh dari cita-cita Tumir. Kala kanak-kanak, ia ingin menjadi sekretaris.

Di mata Tumir kecil, sekretaris terlihat rapi dan anggun. Duduk di belakang meja, berdandan serasi, bersih, dan juga wangi. Cita-cita ini terbersit lantaran ia kerap melihat tetangganya yang selalu tampil segar dan menarik sebagai sekretaris.

Ayah Tumir amat mementingkan pendidikan. “Bapak tidak mempunyai apa-apa untuk kamu, tetapi Bapak ingin memberi bekal yang tidak bisa habis dimakan waktu,” ujar Tumir menirukan ucapan sang ayah.

Keinginan menjadi sekretaris terusber gejolak dalam diri Tumir. “Saya terus me rajut impian menjadi sekretaris dengan semangat belajar yang membara,” ungkap perempuan lajang berambut pendek ini. Suatu ketika di kelas, saat pelajaran admi nistrasi, sang guru spontan berkata, “Tumir, kelak kamu akan menjadi guru!” Sontak Tumir menjawab, “Tidak, Pak! Saya ingin menjadi sekretaris!”

Sedikit demi sedikit, ucapan sang guru itu terbukti. Setelah lulus sekolah menengah pertama, sang ayah meminta Tumir melanjutkan pendidikan ke Sekolah Pendidikan Guru (SPG) Sang Timur Yogyakarta. Tumir pun mengikuti permintaan ayahnya. Tumir dididik menjadi seorang pendidik. Angan-angan tentang sekretaris yang rapi dan wangi berangsur luntur. Sementara, jiwa seorang pendidik mulai menancap kuat dalam hati Tumir.

Pada Oktober 1980, kala usia menginjak 21 tahun, Tumir melabuhkan hati menjadi guru di Sekolah Luar Biasa bagi anak- anak tunarungu atau SLB/B Dena Upa kara Wonosobo. Muridnya semua perempuan yang datang dari berbagai kota di Indonesia. Lembaga pendidikan luar biasa ini dikelola Suster-Suster Putri Maria dan Yosef (PMY). Tapi, Tumir tak bisa langsung mengajar. Ia mesti belajar lagi selama kurang lebih empat tahun untuk mengetahui seluk-beluk ilmu ketunarunguan bersama para suster.

Suster Belanda
Sr Henricia PMY, seorang ahli artikulasi, mendidik Tumir secara khusus untuk belajar artikulasi. Tumir merasa gembira dibimbing langsung biarawati asal negeri Belanda itu. Dengan penuh perhatian dan kesabaran Sr Henricia membimbing Tumir menjadi guru artikulasi. Mula-mula, Tumir diminta melihat bentuk mulut menghasilkan bunyi-bunyi bahasa. Setelah dirasa cukup mampu, Tumir mendapat giliran praktik mengajar wicara. “Suster Henricia duduk di belakang saya. Saya diminta melihat ekspresi wajah beliau dari cermin,” ujar Tumir bercerita.

Tumir paling takut jika Sr Henricia berkata, “Nee…!” Itu berarti, yang dilakukan Tumir tidak tepat. “Keringat saya segera mengucur sebesar biji- biji jagung,” ujar peraih Juara III Lomba Dedikasi Guru SLB/SDLB Provinsi Jawa Tengah 2010ini disertai tawa berderai mengenang masa lalu. Tapi sebaliknya, bila Tumir mengajar dengan benar, Sr Henricia pasti mengacungkan jempol tangan kanan, lalu pundaknya ditepuk-tepuk dengan lembut.

Tidak hanya memberi ilmu tentang arti kulasi, Sr Henricia menularkan cara membuat skenario sandiwara bagi anakanak tunarungu dan tunawicara. “Suster Henricia selalu mengajar para guru agar anak-anak bahagia. Semua anak harus dihargai dengan memberi peran,” ujar Tumir mengingat nasihat sang guru. Sampai kini, Tumir masih membuat ske nario sandiwara bagi anak-anak. Beberapa kali, sandiwara hasil garapan Tumir tampil di televisi.

“Membuka” Mulut
Bagi peraih Juara Pertama Lomba Mengarang Guru SLB tingkat Nasional ini, menjadi guru bagi anak-anak tunarungu putri adalah sebuah karunia terbesar. Jalan hidup yang dipilih Tumir tidak biasa. Ia memilih menemani, mendidik, dan bergembira bersama anak-anak tunarungu. Guru artikulasi masih langka di Indonesia. Tak semua Sekolah Luar Biasa bagian B memiliki guru artikulasi. Maka sejak 2010 sampai saat ini, Tumir diberi kepercayaan oleh Balai Pengembangan Pendidikan Khusus Provinsi Jawa Tengah untuk berbagi pengalaman mengajar artikulasi bagi guru-guru SLB se-Jawa Tengah.

“Saya bersyukur diberi kesempatan ‘membuka’ mulut anak- anak yang sering disebut bisu. Awalnya memang mereka tidak tahu apa-apa, bahkan nama diripun tidak mengerti. Tetapi jika diajari sedikit demi sedikit, mereka dapat mengekspresikan diri seperti orang pada umumnya,” ungkap anak kedua dari enam bersaudara ini.

Seni mengajar, apalagi di Sekolah Luar Biasa itu penuh dengan dinamika. Apabila menghadapi sepuluh anak, berarti ada sepuluh karakter yang berbeda. Hal ini tentu membutuhkan model pelayanan yang berbeda pula. “Maka, kreativitas guru tertantang untuk mengatasi setiap kesulitan anak. Setiap anak pasti mempunyai kelebihan dan kekurangan,” ujar umat Paroki St Paulus Wonosobo, Keuskupan Purwokerto ini.

“Saya bangga dengan murid-murid saya. Di dunia yang sunyi, sebenarnya mereka mempunyai talenta luar biasa. Tugas guru dan orangtua mengarahkan mereka mampu mengembangkan talenta itu,” kata Tumir.

Bernadeta Tumirah
TTL: Yogyakarta, 28 Maret 1959

Pendidikan:
• SPG Sang Timur Yogyakarta
• Sekolah Guru Pendidikan Luar Biasa (SGPLB) Solo, Jawa Tengah
• S1 Pendidikan Luar Biasa IKIP Negri Bandung, Jawa Barat

Penghargaan:
• Juara Pertama Lomba Mengarang Guru SLB tingkat Nasional
• Juara III Lomba Dedikasi Guru SLB/SDLB tingkat Provinsi Jawa Tengah

Ivonne Suryanto

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*