Artikel Terbaru

Semakin Tua Semakin Menjadi

Doa Bersama: LM Gapuraning Swarga mengadakan doa bersama di rumah salah seorang anggota.
[Dok. Fr. Antonius Wahyu Pradana MSF]
Semakin Tua Semakin Menjadi
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Jarak dari rumah ke rumah yang jauh tak menghalangi para lansia anggota Komunitas Legio Maria Gapuraning Swarga untuk rutin berhimpun dalam doa.

Salah satu sudut kota Sleman, DIY, tepatnya di Pakem, terdapat sekelompok orang lanjut usia (lansia) yang rutin menikmati malam Minggu dengan mengadakan pertemuan Doa Legio Maria. Malam itu, kelompok yang menamakan diri sebagai Komunitas Legio Maria Presidium Gapuraning Swarga (LM Gapuraning Swarga) ini berkumpul di rumah Agustinus Sagiman, di Blembem Kidul, Pakem.

Setiap malam Minggu, mulai Pukul 19.00 WIB kelompok lansia ini rutin berkumpul secara bergilir dari rumah anggota satu ke rumah anggota lain. Usia senja tak menjadi persoalan karena semangat mereka masih bernyala untuk berdoa bersama. Secara rutin para lansia ini mendaraskan doa-doa khas kelompok Legio Maria.

Kelompok ini memiliki anggota sebanyak 15 orang, dengan rentang usia 60-90 tahun. Anggota termuda bernama Kristina Sutarti berumur 60 tahun, sedangkan yang paling tua bernama Catrida Atmo Sumirah, 90 tahun.

Kerinduan
Komunitas Legio Maria ini berada di wilayah Paroki St Maria Assumpta Pakem, Sleman, Yogyakarta. Terbentuknya komunitas, bermula dari gagasan Romo Fransiskus de Sales Suharto Widodo. Saat itu Romo Widodo yang menjadi Pastor Paroki di Paroki St Perawan Maria Tak Bernoda Nanggulan, Yogyakarta sering berkunjung ke rumah orangtuanya di Pakem. Romo Widodo kemudian melihat bahwa banyak umat di daerahnya yang merindukan kegiatan doa bersama.

Ia kemudian mendatangi rumah seorang umat bernama Subarjono, membahas rencana pembentukan komunitas doa. Setelah melalui berbagai pertimbangan, terbentuklah komunitas doa yang sampai saat ini menjadi tepat berkumpul mereka itu. Romo Widodo menyarankan agar kelompok tersebut memakai model Kelompok Doa Legio Maria. Menurutnya peran Bunda Maria sebagai perantara setiap doa tak bisa dipungkiri karena Maria adalah Ratu Surgawi yang dekat dengan Yesus Sang Putra dan Bapa di Surga.

Awalnya, anggota LM Gapuraning Swarga berjumlah 27 orang. Pada 8 September 1995, bertepatan dengan Pesta Kelahiran St Perawan Maria, LM Gapuraning Swarga resmi dibentuk.

Subarjono sebagai perintis awal dipilih menjadi Ketua Presidium. Beberapa pertemuan awal komunitas ini didampingi oleh Romo Widodo. Tetapi karena sibuk bertugas sebagai pastor Paroki Nanggulan, Romo Widodo akhirnya melepas kelompok Legio Maria ini untuk mengadakan kegiatan doa sendiri.

Nama “Gapuraning Swarga” dipilih dengan harapan agar mereka bisa semakin dekat dengan Tuhan melalui doa-doa Bunda Maria. Gapuraning Swarga (pintu gerbang surga), nama ini diharapkan menjadi pengingat akan iman kita kepada Tuhan. Selain itu juga menjadi pengingat bagi para lansia untuk berkanjang dalam doa,” ungkap imam yang menjadi Pastor Paroki Nanggulan selama 15 tahun ini.

Dalam setiap kegiatan doa, LM Gapuraning Swarga memiliki rangkaian acara yang diawali dengan doa Legio Maria, bacaan Kitab suci, dan renungan bersama. Semua kegiatan itu dilaksanakan menggunakan bahasa Jawa. Mereka bersama-sama berdoa sesuai urutan doa Legio Maria yang ada di dalam buku Padupan Kencana. Di setiap intensi, mereka menyelipkan doa-doa untuk orang sakit, menderita, dan yang sedang mengalami permasalahan.

Mereka juga mengadakan kegiatan lain seperti mengunjungi orang sakit, tugas kor, merangkai bunga, dan bersih-bersih gereja. “Kami merasa bersemangat untuk mengikuti kegiatan bersama kelompok Legio ini. Melayani sesama berarti juga melayani Tuhan Yesus,” ungkap Kristina Sutarti sekretaris LM Gapuraning Swarga.

Semangat yang kuat tampak dari ketekunan para anggota yang menghadiri Legio Maria. Bahkan lantunan doa seolah mengalir dari ucapan mereka tanpa harus terpaku pada teks. Sebagian dari para Lansia ini sudah sulit untuk membaca tulisan dalam buku doa yang terlalu kecil. Maka tak jarang, buku yang mereka pakai difotokopi dengan ukuran besar.

Untuk memulai aktivitas doa bersama, para anggota biasanya berangkat dengan berjalan kaki dari rumah masingmasing yang jaraknya lumayan jauh. Tidak terkecuali Catrida Atmo Sumirah, anggota yang telah berumur 90 tahun, “Saya merasa ayem dan tentrem saat berdoa bersama di Legio ini, dan berusaha tetap berangkat, meski harus berjalan kaki demi ketemu Tuhan,” ujarnya.

Hal yang sama dialami anggota yang berumur 78 tahun, Maria Puja Suharsana. Namun bagi Maria Puja, biarpun berjalan kaki dengan jarak cukup jauh ia selalu senang dan tentram apabila mengikuti Legio Maria.

Derma Rahasia
Dalam beraktivitas, selama kurang lebih 15 tahun, komunitas ini juga mendapat pendampingan dari para frater Misionaris Keluarga Kudus (MSF). Dalam setiap kegiatan mereka mendapat pelayanan dua orang frater yang siap mengisi renungan. Dalam pelayanan tersebut, para frater belajar untuk setia mendampingi para lansia anggota LM Gapuraning Swarga. “Saya senang dapat mendampingi legio ini, dan saya bisa belajar dari kesetiaan dan semangat para eyang,” kata Fr Ign Eko Swasono MSF yang pada tahun ini bertugas memberikan pendampingan kepada LM Gapuraning Swarga.

Meski berusia lanjut, semangat anggota komunitas LM Gapuraning Swarga jauh dari kata uzur. Mereka berprinsip, setiap butir rosario yang mereka gulirkan dalam doa, harus membawa berkat bagi banyak orang yang mereka doakan. Untuk menambah semangat, Ketua LM Gapuraning Swarga, Agustinus Sugiman senantiasa mengajak anggota untuk semakin setia dalam doa dan aksi nyata.

Sebagai aksi nyata, selain aktif dalam kegiatan Gereja mereka juga mengumpulkan uang dengan nama kegiatan “derma rahasia”. Uang derma ini mereka kumpulkan sekali dalam seminggu. Besarnya derma tidak ditentukan, tergantung kemampuan para anggota. Dengan “derma rahasia“, mereka menyumbang untuk umat yang sakit, dan umat lain yang membutuhkan. “Semangat kami adalah memberi dari kekurangan. Walau sudah tua dan tidak memiliki penghasilan tetap, kami mau berbagi,” ujar Sugiman.

Sugiman menyadari bahwa saat ini anggota komunitas sebagian besar sudah berusia tua dan peluang pertambahan anggota juga sangat jarang. Biarpun demikian semangat mereka tetap kuat dalam aktivitas doa mereka, “Kami tetap optimis bisa terus menjalankan Legio ini dan tetap melayani serta mendoakan orang lain di sekitar kami,” pungkas pria yang dulu berprofesi sebagai Mantri Desa ini.

Fr. Antonius Wahyu Pradana MSF

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*