Artikel Terbaru

Ahmed Mohamed

Ahmed Mohamed
5 (100%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.com – Harian Umum Kompas,pertengahan September lalu, mengangkat berita tentang seorang remaja berusia 14 tahun, Ahmed Mohamed, yang ingin menunjukkan jam digital buatannya kepada guru teknik di Mac Arthur High School Irving, Texas, Amerika Serikat. Bukan mendapatkan apresiasi, para guru justru menyita jam tersebut dan menelpon polisi karena menduga jam tersebut adalah bom.

Ahmed pun dibawa ke kantor polisi. Setelah dilakukan pemeriksaan, Ahmed dibebaskan, karena polisi menyimpulkan, Ahmed tidak memiliki niat buruk dan jam yang ia buat bukan bom seperti disangkakan para guru.

Sekalipun jurubicara dari Mac Arthur High School mengatakan bahwa langkah yang diambil pihak sekolah bukanlah karena iman Ahmed, dalam hal ini Islam, melainkan karena mengkhawatirkan keselamatan siswa. Kita dapat menduga bahwa perlakuan kepada Ahmed didasari karena prasangka yang muncul sebagai efek lanjutan peristiwa 11 September 2001 yang berhasil menancapkan ketakutan dunia kepada Islam sebagai “agama teroris”. Seandainya seorang bernama Peter Weaver atau Nick Boyd yang menunjukkan alarm karyanya kepada para guru, reaksi para guru tentu tidak akan sampai melibatkan polisi dan menyita alarm tersebut dari siswa tersebut.

Terpenjara prasangka
Peristiwa yang menimpa Ahmed Mohamed didasari pandangan yang dibangun masyarakat dengan didasari etnis, agama, maupun gender, yang terlanjur dilekatkan kepada masing-masing pihak. Pandangan tersebut kemudian melahirkan prasangka yang melekat dalam benak bahwa Islam adalah agama yang dekat dengan terorisme. Maka, nama-nama yang kental dengan nuansa keislaman kemudian lebih menjadi perhatian, karena nama tersebut kemudian menghadirkan opini tentang prasangka.

Menarik menyimak pernyataan Kepala Polisi Irving, Larry Boyd. Ia bersikeras bahwa reaksi aparat kepolisian terhadap kasus Ahmed bukan merupakan reaksi yang didasari prasangka etnis atau agama, melainkan reaksi yang akan diberikan kepada siapapun yang membawa alat mencurigakan.

Kontra opini
Pembentukan opini yang kuat tentang terorisme telah melalui proses waktu yang panjang, dan selalu diulang-ulang dengan berbagai macam versi yang berbeda. Hal ini semakin memberi kesan yang mengafirmasi kenyataan sosial tentang mereka yang “pantas” didefinisikan sebagai teroris. Dewan Hubungan Amerika-Islam (Council on American- Islamic Relations/CAIR) menjelaskan serangan teroris telah menyeret masyarakat Amerika Serikat dalam pusaran ketakutan yang berlebihan. Menurut juru bicara CAIR, Ibrahim Hooper, ketakutan yang berlebihan itu berimplikasi kepada peningkatan sentimen anti-Islam, sehingga mendorong reaksi para guru Ahmed yang melaporkan kepada polisi.

Syukurlah, muncul reaksi penolakan dominasi opini yang semakin menguat berkat kehadiran media sosial. Media sosial yang berisi jaringan sosial yang sangat rumit, tetapi juga sekaligus sangat sederhana, melalui sebuah tagar (hashtag) mengundang reaksi massal dalam jaringan berbasis internet. Barack Obama menunjukkan kontra- opini melalui kicauan di Twitter. Bahkan, ia mempersilakan Ahmed membawa jam digital buatannya ke Gedung Putih. Mark Zuckerberg, pendiri Facebook, juga turut memberikan dukungan kepada Ahmed Mohamed. Kesadaran keluarga Ahmed terhadap kekuatan jaringan dalam media sosial mendorong mereka membuat tagar #StandwithAhmed yang mendapatkan dukungan hingga 800.000 pendukung dan menjadi trending topic di Amerika Serikat.

Peristiwa yang menimpa Ahmed dapat menjadi pembelajaran bagi kita, terutama tentang bias prasangka yang sudah telanjur kuat ditancapkan dalam benak kesadaran. Media sosial menunjukkan kekuatan dalam menentang kekuatan dominasi opini yang menancap kuat di tengah masyarakat. Maka, baiklah kita memanfaatkan media sosial untuk menaburkan semangat kontra opini yang telanjur menanamkan sekat-sekat melalui prasangka di tengah masyarakat.

Puspitasari

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*