Artikel Terbaru

Kebangkrutan Misioner Ancam Masa Depan Gereja

Kebangkrutan Misioner Ancam Masa Depan Gereja
1 (20%) 2 votes

HIDUPKATOLIK.com – Panggilan hidup religius adalah salah satu pengalaman nasihat-nasihat Injil yang begitu dihargai dalam Gereja. Model dan cara hidup tersebut dapat dibedakan menjadi dua, yakni klerikal (kaum tertahbis/klerus) dan laikal (kaum awam). Mereka mengabdikan diri hidup dalam Triprasetya Injili; kemurnian, kemiskinan, dan ketaatan; yang kadang masih ditambah kaul-kaul khusus sesuai dengan tarekatnya. Baik laki-laki maupun perempuan, meskipun ada yang tidak menerima tahbisan sebagai klerus, status laikal ini tetap mencerminkan kehidupan Kristiani seturut teladan Gereja Perdana. Mereka membangun suatu komunitas umat beriman yang secara aktif mengambil peran pelayanan dalam Gereja.

Konsili Vatikan II sangat menghargai panggilan hidup semacam itu. Terbukti Konsili menghasilkan Dekrit Perfectae Caritatis (PC) tentang Pembaruan dan Penyesuaian Hidup Religius, 28 Oktober 1965. Selain itu, diharapkan juga bahwa tarekat-tarekat tersebut menyesuaikan hidup dengan tuntutan-tuntutan zaman sekarang (PC art.10). Penyesuaian dan pembaruan hidup ini diharapkan semakin menunjang pelayanan pastoral bagi Gereja, baik melalui pendidikan kaum muda, perawatan orang-orang sakit, pendampingan kaum migran, pelayanan doa dan katekese, serta karya kerasulan lainnya.

Begitu pentingnya peran panggilan hidup religius ini, maka menjadi keprihatinan Gereja jika kondisi jumlah panggilan baru mulai menurun. Bahkan, di Eropa–terutama Eropa Barat–ketertarikan untuk menjalani panggilan hidup religius sudah merosot drastis. Abad-abad sebelumnya, dunia Barat sangat produktif mengirimkan misionaris, baik imam, bruder, frater, maupun suster ke daerah-daerah misi di seluruh dunia. Kini, mereka mengalami “kebangkrutan misioner”. Tak banyak lagi peminat untuk hidup membiara.

Sementara itu, di negara-negara berkembang–termasuk Indonesia–panggilan hidup membiara masih dapat dikatakan stabil, jika tidak ingin menggunakan kata “stagnan” dalam tren menurun. Di sinilah solidaritas dalam Gereja diperlukan. Kaum religius di luar Barat mesti berpikir bagaimana membantu pelayanan Gereja di daerah asal para misionaris yang telah menyemai iman Kristiani. Oleh karena itu, tuntutan kemandirian, kualitas, dan profesionalitas dalam kerasulan menjadi kunci untuk bersolidaritas dengan negara asal para pendahulu, yang tengah dilanda “kebangkrutan misioner”. Bahkan, tarekat-tarekat yang lahir dan bertumbuh di Keuskupan-keuskupan sudah selayaknya memikirkan kondisi ini.

Meski demikian, harus jujur diakui bahwa kondisi penurunan jumlah panggilan religius itu juga terjadi di Indonesia, terutama di perkotaan. Dalam kondisi seperti itu pun, naif jika dijadikan alasan untuk mengabaikan kondisi di Barat. Justru dalam keterbatasan, solidaritas itu menjadi persembahan yang lebih bermakna dibandingkan dalam kelimpahan. Apakah bentuk solidaritas itu mesti menunggu berkelimpahan? Tentu saja, kemurahan hati dan jiwa besar dalam sikap diskresi yang matang sangat dibutuhkan untuk menjawab situasi tersebut.

Gereja–kita semua–tentu berharap bahwa kaum religius ini menunjukkan keutuhan iman mereka, pengabdian yang tulus pada Gereja, serta kasih kepada Allah serta sesama, sehingga menjadi teladan hidup umat beriman. Semoga karya kerasulan mereka senantiasa bertumbuh subur, baik pelayanan yang tersembunyi maupun karya yang terbuka.

Redaksi

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*