Artikel Terbaru

Bulan Madu Paus Fransiskus di AS

Duta damai: Paus Fransiskus berjabat tangan dengan Presiden Amerika Barack Hussein Obama di Gedung Putih, Washington DC, Rabu, 23/9.
[cruxnow.com]
Bulan Madu Paus Fransiskus di AS
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Dalam kunjungannya ke Amerika Serikat, Paus Fransiskus merangkul Kuba dan Amerika, mengajak berdialog, dan menyuarakan harapan demi kebaikan dunia.

Pertama dalam sejarah. Seorang Paus berpidato di hadapan Kongres di Washington D.C.Amerika Serikat (AS). Pidatonya mendapat standing applause hampir di setiap paragraf yang ia baca. Dialah Fransiskus, Paus keempat yang melawat Negeri Paman Sam, Selasa-Minggu, 22-27/9. Popularitasnya masih terasa sebagai masa “bulan madu”, meski sudah dua tahun sejak ia menduduki Takhta St Petrus.

Tiga pendahulunya pernah menjejakkan kaki di bumi Amerika. Yakni Paus Paulus VI, Paus Yohanes Paulus II, dan Paus Benediktus XVI. Ketiganya berpidato di Sidang Umum PBB, tapi tidak di hadapan Kongres Amerika.

Empat Pahlawan
Di depan Kongres, Paus Fransiskus secara apik merefleksikan empat tokoh besar AS, yaitu Abraham Lincoln, Martin Luther King Jr., Dorothy Day, dan Thomas Merton. Dua Katolik dan dua Protestan. Tiga laki-laki dan satu perempuan. Kaum awam dan religius. Empat pahlawan dan empat perjuangan demi menggapai satu mimpi membangun dunia lebih baik. Paus Fransiskus ingin menunjukkan, bukan pertama-tama apa yang akan diajarkan pada rakyat AS, melainkan apa yang bisa dipelajari bersama dari AS.

Perjuangan menggapai mimpi empat wakil rakyat AS yang dipilih Paus itu diwarnai dengan banyak ajakan moral. Ia mengajak rakyat AS memberi perhatian pada solidaritas kaum lansia, orang muda, keluarga, persoalan ekstrimisme dan fundamentalisme ideologi maupun religius, keadilan dan kesejahteraan, masalah imigran dan pengungsi, penjualan senjata, penghapusan hukuman mati, pun kemiskinan, pemanasan global dan kerusakan ekologi.

Hal senada–terutama isu lingkungan, migran dan perang–juga disampaikan dalam pidatonya di New York pada Sidang Tahunan PBB, Jumat, 25/9. Dalam sidang itu, pertama kali dalam sejarah, Bendera Negara-Kota Vatikan dikibarkan di Markas PBB.

Paus merefleksikan peran Musa. Sebagai pemimpin, pembuat hukum Israel, dan penuntun bangsa itu mendekatkan diri dengan Allah, Musa mengangkat harkat dan martabat kemanusiaan. Sama halnya seperti anggota Kongres. “Anda diminta melindungi, dengan sarana hukum, gambaran dan citra yang telah diberikan Tuhan pada tiap wajah manusia”, tegasnya dalam pidato, Kamis, 24/9.

Rasul Perdamaian
Sehari sebelum berpidato di depan Kongres, Rabu, 23/9, Paus Fransiskus bertemu dengan Presiden Barack Hussein Obama. Dalam sambutannya, Bapa Suci menyebut dirinya sebagai “anak imigran” yang berkunjung di “negara yang dibangun oleh para keluarga imigran”. Ia menyisipkan pesan pada rakyat AS untuk menaruh perhatian terhadap nasib para imigran, pengungsi, dan pencari suaka.

Presiden Obama mengungkapkan apresiasinya terhadap dukungan yang tak ternilai dari Paus terkait harapan baru hubungan Amerika dan Kuba. Kunjungan Paus ke Kuba dan AS dalam sekali perjalanan ini dinilai banyak pihak menjadi permulaan untuk memecah kebekuan relasi antara Kuba dan AS.

Pada 1969, Amerika telah memberikan sanksi embargo pada Kuba, hampir dua tahun sejak tumbangnya rezim Fulgencio Batista y Zaldivar dalam Revolusi Kuba di bawah Fidel Alejandro Castro Ruz. Embargo ekonomi terlama dalam sejarah ini kian melemahkan rakyat kecil untuk berkembang.

Kunjungan Bapa Suci di dua negara itu, menjadikan tembok perseteruan selama 55 tahun antara Kuba dan AS mempunyai harapan dapat diruntuhkan perlahan-lahan. Takhta Suci berinisiatif mendorong kedua negara untuk mencari solusi terbaik bagi orang kecil. Bapa Suci dalam jumpa pers selama perjalanan di pesawat dari Kuba ke AS menegaskan bahwa embargo ekonomi pada suatu negara akan memperparah kondisi rakyat kecil. Sekretaris Negara-Kota Vatikan Kardinal Pietro Parolin dan Sekretaris Negara AS John Forbes Kerry bertemu secara khusus guna membahas isu embargo terhadap Kuba, sekaligus situasi konflik di Timur Tengah dan problem pengungsi dunia.

Stop Pelecehan
Usai bertemu Obama, Paus menggelar doa siang bersama para uskup AS di Gereja Katedral St Matius Washington. Audiensi dengan para uskup juga dilaksanakan pada hari terakhir kunjungannya, Minggu, 27/9, di Kapel St Martinus yang terletak di kompleks Seminari St Carolus Borromeus, Philadelphia. Dua kali pertemuan itu diisi dengan pesan dan dukungan bagi para uskup untuk tegas dalam menindak kasus-kasus pelecehan seksual di kalangan kaum berjubah.

Selain itu, nasihat bagi para uskup dan imam dalam menanggapi kaum gay dan lesbian. Jelas Gereja tidak bisa menerima perkawinan sesama jenis, tapi Gereja bisa menunjukkan belarasa untuk tetap menyapa dan merangkul mereka, tanpa harus mengeksklusi dan menghukumnya.

Para uskup ditantang untuk berani masuk dalam dinamika persoalan yang dihadapi Gereja terkait persoalan pelecehan seksual, gay dan lesbian, serta keretakan keluarga. Mengenai hal ini, Vatikan telah membuat penyelidikan intensif. Pada periode April-Juni 2015, Bapa Suci menerima pengunduran diri tiga uskup AS, yakni Uskup Kansas City-St Joseph Missouri, Mgr Robert William Finn, Uskup Agung dan Uskup Auksilier St Paulus-Minneapolis Minnesota, Mgr John Clayton Nienstedt dan Mgr Lee Anthony Piché. Mereka telah terbukti menutupi kasus pelecehan seksual yang dilakukan imam di yurisdiksinya.

Bahkan, Paus menyempatkan diri untuk bertemu dengan beberapa korban pelecehan seksual. Meski identitas peserta audiensi tertutup ini dirahasiakan, keputusan untuk menemui beberapa korban pelecahan seksual ini menjadi konsen Bapa Suci sebagai usaha mereformasi Gereja dari dalam. Alih-alih membungkus rapat, ia justru berusaha mewujudkan belarasa dan membuka ruang advokasi sembari menyalakan api pengharapan bagi para korban pelecehan seksual.

Bapa Suci juga menekankan tentang katekese keluarga, pentingnya melestarikan nilai-nilai luhur keluarga menjadi bagian yang amat penting dalam proses pembangunan masyarakat berdasarkan semangat Injil. Secara khusus, ia mendorong para koleganya untuk tak henti melawan aborsi, baik dalam tataran wacana maupun praktik. Hal ini menjadi signal dukungan Paus bagi para uskup AS menolak diberlakukannya kebijakan aborsi di negeri itu.

Meski demikian, Bapa Suci memberikan pintu maaf dalam ranah pastoral bagi para pelaku aborsi. Ia membuka kesempatan bagi semua imam selama Tahun Pengampunan untuk menerimakan Sakramen Rekonsiliasi bagi para pelaku aborsi. Kebijakan pastoral sekaligus ketegasan perlawanan terhadap aborsi ini menunjukkan kedalaman penghayat spiritualitas St Ignatius Loyola dalam hal diskresi.

Kanonisasi Pertama
Di Washington juga digelar kanonisasi pertama di bumi Amerika. Bapa Suci menggelari Junipero Serra OFM sebagai santo. Misa kanonisasi digelar di Basilika Maria yang Terkandung Tanpa Noda Washington, Rabu sore, 23/9. Keputusan kanonisasi Santo Hispanik pertama yang hidup pada abad XVIII ini merupakan misionaris Fransiskan Spanyol yang merintis 21 daerah misi di Pantai Barat Amerika.

Ternyata kanonisasi ini mengundang kontroversi. Sedikitnya 50 perwakilan Bangsa Indian, suku asli Amerika menolak kanonisasi Serra. Mereka menilai, misi yang dilakukan Serra sangat berbau kolonial. Misionaris ini dianggap mendompleng, bahkan memakai kekuasaan kolonial dalam menjalankan misinya.

Mereka mengklaim, kolonialisme Spanyol 250 tahun silam mengakibatkan genosida. Sekitar 90 persen Bangsa Indian California dibunuh. Selain itu, mereka menuding misi Serra telah membawa bencana “genosida kultural”. Dengan azas kemajuan peradaban dan penanaman iman kristiani, budaya Indian diasimilasikan–bahkan digerus– oleh budaya Eropa.

Namun, banyak juga argumen yang menunjukkan bahwa misi Serra menjadi tonggak kemajuan dalam semangat tak kenal lelah melayani penduduk asli. Hal ini terlihat banyaknya Bangsa Indian yang menerima pewartaan Injil dan berkembang menjadi Gereja mandiri.

Akibat kontroversi itu, sejak beatifikasi Sera oleh Yohanes Paulus II pada 25 September 1988, proses penggelaran kudus Serra seolah macet. Paus asal Polandia itu tak melanjutkannya lagi. Penerusnya, Benediktus XVI juga nampak membiarkannya hingga lebih dari seperempat abad. Dua Paus itu dinilai masih mempertimbangkan kontroversi yang terus bergejolak di dalam maupun di luar Gereja. Namun Fransiskus menggelarinya santo. Keinginannya itu mengabaikan syarat mukjizat melalui perantaraan doa seorang beato.

Pastor Paroki
Sebelum mengakhiri kunjungan apostoliknya dalam World Meeting of Families (WMF) di Philadelphia, Bapa Suci menghabiskan satu hari di New York, Jumat, 25/9. Selain berbicara dalam Sidang Tahunan PBB, ia menyempatkan diri mengunjungi salah satu Sekolah Dasar Bunda Maria, Ratu Para Malaikat di Harlem. Sekolah itu merupakan pendidikan bagi anak-anak imigran dan Afro-Amerika kelas menegah ke bawah.

Paus dengan spotan meminta anak-anak menyanyikan lagu untuknya. Lalu ia dengan amat cerdas menggiring anak-anak pada doa Bapa Kami dan memberikan katekese sederhana tentang keutamaan hidup sebagai murid Kristus. Anak-anak diingatkan untuk rajin mengerjakan tugas dan membantu teman lain yang kesulitan, seperti Yesus yang juga murah hati berbuat baik bagi orang lain.

Semangat Pastor Bonus itu juga nampak dalam pilihannya mengunjungi Tarekat Little Sisters of the Poor, yang berjuang melawan penggunaan alat kontrasepsi. Di tempat itu, Bapa Suci juga makan siang bersama 200 tunawisma. Ia menghibur dan memberi pesan agar mereka saling membantu satu sama lain.

Paus menguatkan para imigran di Serasa dalam Dekapan Paus Taman Sejarah Nasional Kemerdekaan Amerika. Ia berpesan agar tiap orang jangan pernah malu terhadap tradisi luhur warisan masing-masing budaya.

Paus juga mengunjungi monumen tragedi serangan terorisme di WTC Twin Tower, 11 September 2001. Tragedi yang menewaskan 2.896 jiwa ini menjadi tonggak sejarah kelam Bangsa Amerika. Paus bersama Uskup Agung New York, Kardinal Timothy Dolan datang ke tempat itu dalam balutan persaudaraan dengan menemui perwakilan pemimpin agama lain. Hadir dalam acara itu, imam Muslim dan rabbi Yahudi New York, pemimpin agama Hindu, Budha, Sikh, dan denominasi Kristen lainnya. Dalam semangat persaudaraan mereka mendoakan para korban dan bagi perdamaian dunia.

Aneka kegiatan Fransiskus di AS senantiasa tak lepas dari bidikan moncong-moncong kamera media massa internasional. Wajahnya menghiasi headline media-media besar Amerika. Popularitasnya seolah tak pernah redup. Tiap kali memimpin Misa, ribuan umat menyemut dan meneriakkan sambutan hangat padanya. Di balik ketenarannya, ia memohon pada siapapun yang ia jumpai, “Tolong, jangan lupa doakanlah saya!” Kerendahan hati tulus ini menjadikan Gereja senantiasa merasakan “bulan madu” dengannya, bahkan seolah kian mendalam.

R.B.E. Agung Nugroho

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*